China Desak AS dan Rusia Kurangi Jumlah Bom Nuklirnya
Jum'at, 18 Juni 2021 - 16:26 WIB
loading...
Sebuah bom nuklir Amerika Serikat saat diuji coba di Enewetak Atoll, 30 Mei 1956. Foto/Stringer/REUTERS
A
A
A
BEIJING - Pemerintah China mendesak Amerika Serikat (AS) dan Rusia untuk mengurangi jumlah bom atau senjata nuklir yang mereka miliki. Desakan ini muncul setelah pemimpin Moskow Vladmir Putin dan pemimpin Washington Joe Biden sepakat menyingkirkan opsi perang nuklir dalam berbagai masalah.
Data yang dirangkum SINDOnews.com dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan AS memiliki 5.800 hulu ledak nuklir. Rusia memiliki 6.375 hulu ledak nuklir. China sendiri memiliki 320 hulu ledak nuklir.
Baca juga: SIPRI: 2.000 Senjata Nuklir Dunia dalam Siaga Tinggi
"Rusia dan AS harus secara substansial memangkas cadangan nuklir mereka dengan cara yang dapat diverifikasi, tidak dapat diubah, dan mengikat secara hukum untuk menciptakan kondisi bagi perlucutan senjata nuklir yang komprehensif dan lengkap,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian seperti dikutip Newsweek, Jumat (18/6/2021).
"Ini adalah cara paling efektif untuk menegakkan stabilitas strategis global dan mempromosikan perdamaian dan keamanan internasional," ujar Lijian.
Data yang dirangkum SINDOnews.com dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan AS memiliki 5.800 hulu ledak nuklir. Rusia memiliki 6.375 hulu ledak nuklir. China sendiri memiliki 320 hulu ledak nuklir.
Baca juga: SIPRI: 2.000 Senjata Nuklir Dunia dalam Siaga Tinggi
"Rusia dan AS harus secara substansial memangkas cadangan nuklir mereka dengan cara yang dapat diverifikasi, tidak dapat diubah, dan mengikat secara hukum untuk menciptakan kondisi bagi perlucutan senjata nuklir yang komprehensif dan lengkap,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian seperti dikutip Newsweek, Jumat (18/6/2021).
"Ini adalah cara paling efektif untuk menegakkan stabilitas strategis global dan mempromosikan perdamaian dan keamanan internasional," ujar Lijian.
Lihat Juga :