Serangan Barbar! KKB Serang Sebuah Desa dan Bantai 100 Orang

Minggu, 06 Juni 2021 - 07:42 WIB
loading...
Serangan Barbar! KKB...
Kelompok bersenjata menyerang sebuah desa dan membantai 100 orang di sebuah desa Afrika. Foto/Ilustrasi
A A A
OUAGADOUGOU - Pemerintah Burkina Faso mengatakan kelompokkriminal bersenjata (KKB) telah membunuh sedikitnya 100 orang di sebuah desa sebelah utara negara itu. Ini adalah serangan paling mematikan di negara itu dalam beberapa tahun.

Juru bicara pemerintah Ousseni Tamboura dalam sebuah pernyataan yang menyalahkan kelompok militan Islam mengatakan serangan itu terjadi pada Jumat malam waktu setempat di desa Solhan, di provinsi Yagha Sahel.

"Pasar lokal dan beberapa rumah juga dibakar di daerah menuju perbatasan Niger," katanya seperti dikutip dari AP, Minggu (6/6/2021).

Presiden Roch Marc Christian Kabore menyebut serangan itu sebagai tindakan "barbar".

Baca juga: Puluhan Drone Mata-mata dan Penyerang Israel Serbu Langit Gaza

Seorang warga setempat yang tidak mau disebutkan namanya, karena khawatir akan keselamatannya, sedang mengunjungi kerabatnya di sebuah klinik medis di kota Sebba, sekitar 12 km dari tempat serangan terjadi.

Dia mengatakan dia melihat banyak orang terluka memasuki klinik.

"Saya melihat 12 orang di satu ruangan dan sekitar 10 di kamar lain. Ada banyak kerabat yang merawat yang terluka. Ada juga banyak orang berlarian dari Solhan untuk memasuki Sebba. Orang-orang sangat takut dan khawatir," katanya kepadaAP Melalui telepon.

Pemerintah Burkina Faso telah mengumumkan 72 jam berkabung.

Hingga kini tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Baca juga: Enam Gadis Remaja Tewas dalam Kebakaran di Penjara Mesir

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres sangat marah dengan pembunuhan itu dan menawarkan dukungan penuh badan dunia itu kepada pihak berwenang dalam upaya mereka untuk mengatasi ancaman terhadap perdamaian dan stabilitas di Burkina Faso menurut juru bicaranya, Stephane Dujarric.

"Dia sangat mengutuk serangan keji dan menggarisbawahi kebutuhan mendesak bagi masyarakat internasional untuk menggandakan dukungan kepada Negara-negara Anggota dalam perang melawan ekstremisme kekerasan dan korban manusia yang tidak dapat diterima," kata Dujarric dalam sebuah pernyataan.

Peneliti senior di Proyek Data Lokasi & Peristiwa Konflik Bersenjata, Heni Nsaibia mengatakan, ini adalah serangan paling mematikan yang tercatat di Burkina Faso sejak negara Afrika Barat itu dikuasai oleh para militan yang terkait dengan al-Qaeda dan ISIS sekitar lima tahun lalu.

"Jelas bahwa kelompok-kelompok militan telah mengubah persneling untuk memperburuk situasi di Burkina Faso, dan memindahkan upaya mereka ke daerah-daerah di luar jangkauan langsung koalisi kontra-terorisme pimpinan Prancis yang memerangi mereka di wilayah perbatasan tiga negara bagian," terangnya.

Baca juga: Menteri Uganda Lolos dalam Upaya Pembunuhan, Putri dan Pengawalnya Tewas

Meskipun kehadiran lebih dari 5000 tentara Prancis di Sahel, kekerasan kelompok militan justru meningkat. Dalam satu minggu di bulan April, lebih dari 50 orang tewas di Burkina Faso, termasuk dua jurnalis Spanyol dan seorang konservasionis Irlandia. Lebih dari 1 juta orang di negara itu telah mengungsi.

Ekstremis Islam semakin melancarkan serangan di Burkina Faso, terutama di wilayah yang berbatasan dengan Niger dan Mali.

Bulan lalu, orang-orang bersenjata menewaskan sedikitnya 30 orang di Burkina Faso timur dekat perbatasan dengan Niger. Tentara Burkina Faso yang tidak lengkap telah berjuang untuk menahan penyebaran ekstrimis.

Pemerintah meminta bantuan para pejuang sukarelawan tahun lalu untuk membantu tentara, tetapi keberadaan para sukarelawan telah menimbulkan aksi pembalasan oleh para ekstremis yang menargetkan mereka dan komunitas yang mereka bantu.

Mali juga sedang mengalami krisis politik yang menyebabkan dihentikannya dukungan internasional.

Prancis mengatakan akan menghentikan operasi militer bersama dengan pasukan Mali sampai junta negara Afrika Barat itu memenuhi tuntutan internasional untuk memulihkan pemerintahan sipil.
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kepala FSB Rusia: Barat...
Kepala FSB Rusia: Barat akan Kerahkan ISIS Suriah dalam Perang Melawan Iran
Seluruh Tentara AS Hengkang...
Seluruh Tentara AS Hengkang setelah 10 Tahun Bercokol di Suriah
ISIS Berupaya Bunuh...
ISIS Berupaya Bunuh Presiden Suriah al-Sharaa, 5 Kali Gagal
4.500 Tahanan ISIS Dipindahkan...
4.500 Tahanan ISIS Dipindahkan dari Suriah ke Irak
Intel Rusia Tuduh Prancis...
Intel Rusia Tuduh Prancis Rencanakan Kudeta di Negara-negara Bekas Jajahannya di Afrika
SDF: 1.500 Anggota ISIS...
SDF: 1.500 Anggota ISIS Kabur dari Penjara Shaddadi Suriah
Densus Tangkap 8 Terduga...
Densus Tangkap 8 Terduga Teroris JAD Afiliasi ISIS di Sulteng
KPK: Kasus Korupsi Muara...
KPK: Kasus Korupsi Muara Enim Sudah Terjadi sebelum Tahap Perencanaan dan Penganggaran
Putin Akui Ekonomi Rusia...
Putin Akui Ekonomi Rusia Hancur akibat Serangan Ukraina: Tapi Kami Cepat Pulih
Rekomendasi
Penyanyi Oliver Tree...
Penyanyi Oliver Tree Dikabarkan Tewas dalam Kecelakaan Helikopter di Brasil
Toyota Fortuner Generasi...
Toyota Fortuner Generasi Terbaru Resmi Diperkenalkan, Ini Tampangnya
Fans Jepang Punguti...
Fans Jepang Punguti Sampah Usai Jepang Imbangi Belanda 2-2
Berita Terkini
Eks PM Israel Serukan...
Eks PM Israel Serukan Netanyahu Digulingkan dengan Tongkat dan Batu
Militer Iran: AS dan...
Militer Iran: AS dan Israel Tak Punya Pilihan Selain Kalah dan Menyerah!
Viral! 3 PRT Indonesia...
Viral! 3 PRT Indonesia Dianiaya di Malaysia, 4 Majikan Ditangkap
Pejabat Israel Geram...
Pejabat Israel Geram atas Kesepakatan AS-Iran: 'Trump Telah Khianati Kami!'
Kunjungi Pyongyang,...
Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut
2 Helikopter Tabrakan...
2 Helikopter Tabrakan di Rio de Janeiro Tewaskan 6 Orang, Termasuk Penyanyi Oliver Tree
Infografis
AS Siapkan 100 Hari...
AS Siapkan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved