Melawan Junta Militer, Guru dan Siswa Myanmar Menolak Masuk Sekolah
Selasa, 01 Juni 2021 - 14:34 WIB
loading...
A
A
A
"Saya takut menjadi guru yang mengajarkan propaganda [pada] siswa," katanya lagi.
Guru berusia 28 tahun itu dipecat karena mendukung gerakan pembangkangan sipil—salah satu dari ribuan guru dan akademisi yang dipecat junta.
“Tentu saja, saya merasa tidak enak kehilangan pekerjaan karena saya senang menjadi guru. Meskipun tidak dibayar dengan baik, kami memiliki kebanggaan menjadi guru karena orang lain menghormati kami," katanya.
Nu May, guru—yang menggunakan nama samaran—di negara bagian Mon selatan juga akan menjauh dari sekolah.
Guru sekolah dasar itu kehilangan gajinya selama berbulan-bulan setelah bergabung dengan boikot nasional. Namun, dia menegaskan bahwa dia tulus berpartisipasi dalam mogok nasional.
“Ketika saya melihat bagaimana mereka [pasukan junta] membunuh banyak orang, saya merasa saya tidak ingin menjadi guru mereka [para siswa] lagi,” ujarnya kepada AFP.
Guru berusia 28 tahun itu dipecat karena mendukung gerakan pembangkangan sipil—salah satu dari ribuan guru dan akademisi yang dipecat junta.
“Tentu saja, saya merasa tidak enak kehilangan pekerjaan karena saya senang menjadi guru. Meskipun tidak dibayar dengan baik, kami memiliki kebanggaan menjadi guru karena orang lain menghormati kami," katanya.
Nu May, guru—yang menggunakan nama samaran—di negara bagian Mon selatan juga akan menjauh dari sekolah.
Guru sekolah dasar itu kehilangan gajinya selama berbulan-bulan setelah bergabung dengan boikot nasional. Namun, dia menegaskan bahwa dia tulus berpartisipasi dalam mogok nasional.
“Ketika saya melihat bagaimana mereka [pasukan junta] membunuh banyak orang, saya merasa saya tidak ingin menjadi guru mereka [para siswa] lagi,” ujarnya kepada AFP.
Lihat Juga :