Menghancurkan Mitos 'Perisai Manusia' Palestina di Gaza

loading...
Menghancurkan Mitos Perisai Manusia Palestina di Gaza
Jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza terus bertambah. Label kelompok Hamas menggunakan Perisai Manusia pun dipertanyakan. Foto/Al Jazeera
GAZA - Ketika korban tewas warga sipil di Jalur Gaza meningkat, kiasan lama yang sama tentang 'perisai manusia' Palestina mulai menyebar. Tapi apa kenyataannya?

Ketika Israel menggunakan kekuatan yang tidak proporsional terhadap warga Palestina, mengerahkan jet tempurnya untuk membom bangunan di Gaza yang terkepung, sebuah narasi sedang diputar tentang bagaimana pejuang Palestina menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia.

Di Twitter dan platform media sosial lainnya, komentator dan pejabat Israel dengan penuh semangat mendorong garis ini seiring dengan peningkatan pemboman di mana 48 warga Palestina, banyak dari mereka warga sipil, telah terbunuh hingga Rabu pagi. Lebih dari 300 orang juga terluka.





Sekelompok militan di Gaza, yang melakukan beberapa tingkat perlawanan, telah membalas agresi Israel dengan roket rakitan yang ditembakkan ke lingkungan Israel. Lima orang Israel tewas dalam serangan roket itu, kata para pejabat.

Israel telah berulang kali menggunakan argumen perisai manusia sipil untuk melepaskan kekuatan udaranya yang didukung Amerika Serikat (AS) di Gaza di mana bahkan kebutuhan dasar harus diselundupkan karena blokade Israel, yang telah mempengaruhi lebih dari 1,8 juta orang selama 14 tahun.

"Apa yang telah dilakukan Israel di masa lalu - dan saya sudah dapat melihat di beberapa feeds Twitter yang sedang dilakukannya sekarang - adalah bahwa mereka mentransmisikan dan membingkai warga sipil yang dibunuhnya di Gaza tidak hanya sebagai warga sipil tetapi juga perisai manusia," kata Neve Gordon, seorang profesor hukum internasional dan hak asasi manusia di Queen Mary University of London.

“Hukum internasional mengatakan bahwa menggunakan perisai manusia adalah tidak sah. Dengan cara ini Israel menempatkan kesalahan atas kematian warga sipil yang telah dibunuh di pundak Hamas," imbuhnya seperti dilansir dari TRT World, Kamis (13/5/2021).

Serangan Israel tahun 2014 ke Gaza di mana lebih dari 2.100 warga Palestina - dua pertiga dari mereka warga sipil - tewas melihat upaya serupa oleh Tel Aviv untuk menyalahkan Hamas dan kelompok lain atas korban sipil yang tinggi.

Baca juga: Presiden Palestina Batalkan Perayaan Idul Fitri setelah Agresi Israel



Selama krisis saat ini, komunitas internasional sering kali dipaksa untuk bergantung pada fakta-fakta yang diberikan oleh Israel karena mereka secara ketat mengontrol akses penyelidik independen dan pekerja kemanusiaan ke Gaza, wilayah pesisir yang ingin dimasukkan oleh warga Palestina dalam negara mereka sendiri di masa depan.

Setelah perang 2014, investigasi Amnesty International (AI) tidak dapat memverifikasi banyak klaim Israel atas digunakannya bangunan sipil termasuk sekolah oleh kelompok bersenjata untuk menembakkan roket dan mortir.

Misalnya, pasukan Israel menghancurkan rumah sakit al-Wafa di Shuja'iyyeh dengan mengklaim bahwa itu digunakan sebagai tempat peluncuran roket. Tetapi AI mengatakan tidak dapat menemukan bukti yang akan menguatkan pernyataan Israel.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top