Belajar dari Tragedi Nanggala-402, RI Didesak Nonaktifkan KRI Cakra
Sabtu, 01 Mei 2021 - 14:04 WIB
loading...
A
A
A
KRI Nanggala-402 yang tenggelam dibuat pada tahun 1977 oleh bekas Jerman Barat pada masa Perang Dingin. Kapal tersebut mulai beroperasi pada tahun 1981. Seperti KRI Cakra, KRI Nanggala-402 adalah kapal kelas Cakra.
Sebelum tragedi KRI Nanggala-402, Indonesia memiliki lima armada kapal selam, termasuk tiga kapal baru dari Korea Selatan. Terbaru, KRI Alugoro, dirakit secara lokal dengan bantuan Korea Selatan.
Baca juga: Bagaimana Skenario Evakuasi Kapal Selam Nanggala-402 dan 53 Awaknya?
Tragedi kapal selam itu telah membuat banyak prajurit TNI AL khawatir akan keselamatan mereka.
"Ya, [prajurit] khawatir dan marah, sesuatu harus berubah, terutama [mengenai] pemeliharaan,” kata sumber keamanan Indonesia kepada This Week in Asia.
"Masalah utamanya adalah bahwa komandan sering kali dipaksa untuk ditempatkan meskipun peralatan dan persneling di atas kapal tidak berfungsi 100 persen; bahkan pada 50 persen, masalah diketahui telah terjadi," lanjut sumber tersebut.
Tempo operasi, kekurangan dana dan membuat mentalitas memprihatinkan."
“Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut perlu memproyeksikan citra bahwa mereka siap berperang. Ini semakin membebani aset yang perlu menjalani pemeliharaan atau perombakan," imbuh sumber tersebut.
Sebelum tragedi KRI Nanggala-402, Indonesia memiliki lima armada kapal selam, termasuk tiga kapal baru dari Korea Selatan. Terbaru, KRI Alugoro, dirakit secara lokal dengan bantuan Korea Selatan.
Baca juga: Bagaimana Skenario Evakuasi Kapal Selam Nanggala-402 dan 53 Awaknya?
Tragedi kapal selam itu telah membuat banyak prajurit TNI AL khawatir akan keselamatan mereka.
"Ya, [prajurit] khawatir dan marah, sesuatu harus berubah, terutama [mengenai] pemeliharaan,” kata sumber keamanan Indonesia kepada This Week in Asia.
"Masalah utamanya adalah bahwa komandan sering kali dipaksa untuk ditempatkan meskipun peralatan dan persneling di atas kapal tidak berfungsi 100 persen; bahkan pada 50 persen, masalah diketahui telah terjadi," lanjut sumber tersebut.
Tempo operasi, kekurangan dana dan membuat mentalitas memprihatinkan."
“Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut perlu memproyeksikan citra bahwa mereka siap berperang. Ini semakin membebani aset yang perlu menjalani pemeliharaan atau perombakan," imbuh sumber tersebut.
Lihat Juga :