Eks Jenderal Israel Akui Sulit Menghancurkan Program Nuklir Iran

Selasa, 20 April 2021 - 07:36 WIB
loading...
Eks Jenderal Israel...
Amos Yadlin, mantan kepala intelijen militer Israel yang menghancurkan program nuklir Irak dan Suriah. Foto/Kobi Gideon/Flash90/Times of Israel
A A A
TEL AVIV - Seorang mantan jenderal Israel pernah membantu menghancurkan program nuklir Irak dan Suriah telah mengakui bahwa menghancurkan program nuklir Iran lebih sulit.

Pensiunan jenderal Amos Yadlin adalah salah satu pilot yang berpartisipasi dalam pemboman pembangkit listrik tenaga nuklir Irak pada bulan Juni 1981 sebagai bagian dari "Operasi Opera".

Baca juga: Iran: Ironis, Israel Bangun Fasilitas Senjata Nuklir tapi Diperlakukan Istimewa

Saat menjabat sebagai kepala intelijen militer Israel 16 tahun kemudian pada tahun 2007, dia juga membantu merancang "Operasi Orchard", yang menargetkan dan menghancurkan pembangkit listrik tenaga nuklir Suriah.

Namun, dalam wawancara dengan CNBC, dia menjelaskan bahwa menangani program nuklir Iran sangat berbeda. Faktor pertama yang perlu diperhatikan adalah elemen kejutan.

"Saddam dan Assad terkejut," katanya. "Iran telah menunggu serangan ini selama 20 tahun," katanya lagi.

Selain itu, program Irak dan Suriah terletak di satu wilayah sementara Iran jauh lebih dibentengi dan tersebar di lusinan situs di seluruh negeri, yang akan membuat upaya serangan terhadap program nuklirnya menjadi jauh lebih kompleks.

Lebih lanjut, Yadlin menekankan bahwa badan-badan intelijen tidak memiliki data intelijen yang memadai mengenai semua situs, beberapa di antaranya dilaporkan tersembunyi di bawah tanah dan di daerah pegunungan.

"Iran telah belajar dari apa yang telah kami lakukan tetapi kami juga telah belajar dari apa yang telah kami lakukan dan sekarang kami memiliki lebih banyak kemampuan," paparnya, yang dilansir kemarin (19/4/2021).

Pernyataan Yadlin muncul ketika pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden terus mempertimbangkan pilihannya dengan Iran untuk kembali ke kesepakatan nuklir 2015 yang dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Saat ini, Washington dan Teheran menunggu satu sama lain untuk membuat langkah dan konsesi pertama.

"Kesepakatan pertama terbukti menjadi masalah, lihat seberapa cepat mereka bergerak," kata Yadlin, mengacu pada langkah Iran baru-baru ini untuk memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen yang signifikan, yang merayap menuju tingkat kelas militer 90 persen.

"Mereka bisa memiliki cukup uranium yang diperkaya untuk menghasilkan dua atau tiga bom dengan cepat."

Sebuah rencana untuk menyerang dan menghancurkan program nuklir Iran, tampaknya hanya satu opsi yang tersedia untuk Israel.

Baca juga: Mossad: Iran Pakai Akun Medsos Wanita Cantik untuk Pikat Orang Israel

Menurut CNBC, yang mengutip ahli strategi militer Israel, opsi lain termasuk mendorong perjanjian yang lebih kuat antara Iran dan penandatangan kesepakatan nuklir, menggunakan sanksi dan diplomasi untuk terus menekan Iran, serta menggunakan serangan rahasia dan tindakan klandestin seperti serangan siber.

Bahkan dilaporkan ada opsi untuk mencoba perubahan rezim di Iran dengan memicu sentimen anti-pemerintah dan memanfaatkan elemen oposisi. Namun, itu dilaporkan sebagai strategi yang paling sulit karena besarnya kekuatan dan pengaruh yang dimiliki ulama Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di dalam negeri.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan...
Iran Klaim 3 Poin Kemenangan dalam Negosiasi dengan AS, Termasuk Aset Senilai Rp214 Triliun
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Penembakan Massal di...
Penembakan Massal di Sekolah Filipina Tewaskan 3 Siswa, 2 Pelaku Remaja Ditahan
Ini Alasan Jepang Naikkan...
Ini Alasan Jepang Naikkan Biaya Visa Masuk hingga 5 Kali Lipat
Rekomendasi
7 Fakta Menarik Inggris...
7 Fakta Menarik Inggris Buntu Lawan Ghana di Piala Dunia 2026: Harry Kane Mandul
Kroasia Kalahkan Panama,...
Kroasia Kalahkan Panama, Gol Ante Budimir Jaga Asa Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2026
Inggris vs Ghana 0-0,...
Inggris vs Ghana 0-0, Laga Hambar di Boston
Berita Terkini
PBB Mulai Evakuasi 11.000...
PBB Mulai Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Infografis
Perang AS-Israel vs...
Perang AS-Israel vs Iran Telah Mengungkap Kelemahan Militer Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved