Kelompok Etnis Tertua di Myanmar Peringatkan 'Perang Besar' dengan Junta

Kamis, 01 April 2021 - 18:10 WIB
loading...
Kelompok Etnis Tertua...
KNU dan sayap militernya, Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) secara historis menjadi salah satu musuh terbesar Tatmadaw, sebutan militer. Foto/REUTERS
A A A
YANGON - Salah satu kelompok pemberontak etnis minoritas tertua di Myanmar telah memperingatkan konflik besar dengan militer dapat segera meletus. Mereka juga menyerukan intervensi internasional dan perlindungan terhadap masyarakat Myanmar yang terpaksa melarikan diri dari pertempuran.

Melansir Reuters pada Kamis (1/4/20210), Persatuan Nasional Karen (KNU) yang hingga 2012 melakukan salah satu pemberontakan terlama di dunia, dilaporkan sedang mempersiapkan pejuangnya untuk melakukan serangan di beberapa bidang. Permusuhan KNU dengan militer kembali terjadi setelah kudeta 1 Februari.

KNU adalah organisasi politik dominan yang mewakili komunitas etnis minoritas Karen di bagian barat daya Negara Bagian Karen, yang secara resmi dikenal sebagai Negara Bagian Kayin, berbatasan dengan Thailand.

Tujuan mereka adalah menentukan nasib sendiri untuk orang Karen di wilayah berpenduduk sekitar 1,6 juta orang, kira-kira seluas Belgia, tempat mereka menjadi etnis mayoritas.Baca juga: Utusan Khusus PBB Desak DK Bertindak Hentikan Pembantaian di Myanmar

Terpinggirkan dalam proses politik pasca kemerdekaan Burma, KNU memulai pemberontakan pada tahun 1949, yang dilancarkannya selama hampir 70 tahun. Salah satu keluhan utamanya adalah dominasi kelompok etnis Bamar atas negara dan militer Myanmar.

Kelompok ini menghasilkan pendapatan dari mengumpulkan pajak, termasuk melalui perdagangan perbatasan ilegal, dari pertambangan dan proyek pembangunan lainnya.Baca juga: Sudah 510 Tewas sejak Kudeta Myanmar, Demonstran Lakukan Serangan Sampah
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Diduga Bantu Pemberontak...
Diduga Bantu Pemberontak Myanmar, India Tangkap Tentara Bayaran Ukraina dan AS
Jejak China dalam Konflik...
Jejak China dalam Konflik Myanmar: dari Ekspor Revolusi hingga Kartu Geopolitik
Junta Myanmar Makin...
Junta Myanmar Makin Kuat dengan Dukungan China, Oposisi Melemah
10 Negara yang Mengubah...
10 Negara yang Mengubah Nama Mereka, Alasannya Sangat Beragam
Junta Myanmar Usir Diplomat...
Junta Myanmar Usir Diplomat Timor-Leste karena Buka Kasus Kejahatan Perang
Sudah Bisa Ditebak,...
Sudah Bisa Ditebak, Partai Pro-militer Myanmar Menang Pemilu
Markas Judi Online Hayam...
Markas Judi Online Hayam Wuruk Mirip di Kamboja dan Myanmar
Banjir Hancurkan Peternakan,...
Banjir Hancurkan Peternakan, Lepaskan Hampir 900 Ular Termasuk Kobra ke Permukiman
Trump: AS Akan Hancurkan...
Trump: AS Akan Hancurkan Jembatan dan Pembangkit Listrik Iran
Rekomendasi
Transformasi Polri di...
Transformasi Polri di Tengah Era Disrupsi Digital
Keamanan Diperketat...
Keamanan Diperketat Jelang Duel Panas Inggris vs Argentina
Kaposwil Satgas PRR...
Kaposwil Satgas PRR Aceh Minta BPBD Percepat Pembangunan Huntap
Berita Terkini
Iran Sedang Mempersiapkan...
Iran Sedang Mempersiapkan Ujian Besar terhadap Blokade AS di Selat Hormuz
Trump Desak Netanyahu...
Trump Desak Netanyahu Tarik Pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon
Biaya Perang AS di Iran...
Biaya Perang AS di Iran Setara Buang Emas Lebih dari 15.000 Kg Per Hari
IRGC Tegaskan Selat...
IRGC Tegaskan Selat Hormuz akan Tetap Tertutup sampai Kejahatan AS Berakhir
Iran Serang Pesawat...
Iran Serang Pesawat F-18 AS di Pangkalan Azraq Yordania
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved