Korban Kekerasan Myanmar Dapat Perawatan di Perbatasan Thailand
Selasa, 30 Maret 2021 - 14:48 WIB
loading...
A
A
A
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Tanee Sangrat, mengatakan pada Selasa bahwa mereka tidak memiliki kebijakan untuk menolak pengungsi.
Dia menambahkan, terkadang pengungsi secara sukarela kembali ke Myanmar.
Para pengunjuk rasa Myanmar menggelar renungan malam pada Senin (29/3) diterangi cahaya lilin setelah lebih dari 500 orang tewas sejak kudeta 1 Februari.
Para aktivis meluncurkan kampanye pembangkangan sipil baru dengan membuang sampah ke jalan-jalan.
Dari 14 warga sipil yang tewas di Myanmar pada Senin, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengatakan delapan orang korban tewas berada di distrik Dagon Selatan, Yangon.
“Pasukan keamanan di daerah itu menembakkan senjata kaliber yang jauh lebih berat dari biasanya pada Senin untuk membersihkan barikade kantong pasir,” ungkap saksi mata. Tidak segera jelas jenis senjata apa yang digunakan pasukan keamanan.
Televisi pemerintah melaporkan pasukan keamanan menggunakan "senjata anti huru hara" untuk membubarkan kerumunan "orang-orang teroris yang kejam" yang menghancurkan trotoar dan satu orang terluka.
Seorang warga Dagon Selatan pada Selasa (30/3) mengatakan lebih banyak tembakan terdengar di daerah itu semalam hingga meningkatkan kekhawatiran lebih banyak korban.
Polisi dan juru bicara junta tidak menjawab panggilan untuk komentar dari Reuters.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak para jenderal Myanmar menghentikan pembunuhan dan penindasan demonstrasi.
Dalam taktik baru, pengunjuk rasa berusaha untuk meningkatkan kampanye pembangkangan sipil pada Selasa dengan meminta penduduk membuang sampah ke jalan-jalan di persimpangan jalan utama.
“Aksi serangan sampah ini adalah serangan untuk menentang junta,” tulis poster di media sosial.
Aksi itu bertentangan dengan seruan yang dikeluarkan melalui pengeras suara di beberapa lingkungan Yangon pada Senin yang mendesak penduduk membuang sampah dengan benar.
“Sekitar 510 warga sipil telah tewas dalam hampir dua bulan upaya menghentikan protes,” papar laporan kelompok advokasi AAPP.
Total korban tewas pada Sabtu, hari paling berdarah sejauh ini, telah meningkat menjadi 141, sesuai data AAPP.
Dia menambahkan, terkadang pengungsi secara sukarela kembali ke Myanmar.
Para pengunjuk rasa Myanmar menggelar renungan malam pada Senin (29/3) diterangi cahaya lilin setelah lebih dari 500 orang tewas sejak kudeta 1 Februari.
Para aktivis meluncurkan kampanye pembangkangan sipil baru dengan membuang sampah ke jalan-jalan.
Dari 14 warga sipil yang tewas di Myanmar pada Senin, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengatakan delapan orang korban tewas berada di distrik Dagon Selatan, Yangon.
“Pasukan keamanan di daerah itu menembakkan senjata kaliber yang jauh lebih berat dari biasanya pada Senin untuk membersihkan barikade kantong pasir,” ungkap saksi mata. Tidak segera jelas jenis senjata apa yang digunakan pasukan keamanan.
Televisi pemerintah melaporkan pasukan keamanan menggunakan "senjata anti huru hara" untuk membubarkan kerumunan "orang-orang teroris yang kejam" yang menghancurkan trotoar dan satu orang terluka.
Seorang warga Dagon Selatan pada Selasa (30/3) mengatakan lebih banyak tembakan terdengar di daerah itu semalam hingga meningkatkan kekhawatiran lebih banyak korban.
Polisi dan juru bicara junta tidak menjawab panggilan untuk komentar dari Reuters.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mendesak para jenderal Myanmar menghentikan pembunuhan dan penindasan demonstrasi.
Dalam taktik baru, pengunjuk rasa berusaha untuk meningkatkan kampanye pembangkangan sipil pada Selasa dengan meminta penduduk membuang sampah ke jalan-jalan di persimpangan jalan utama.
“Aksi serangan sampah ini adalah serangan untuk menentang junta,” tulis poster di media sosial.
Aksi itu bertentangan dengan seruan yang dikeluarkan melalui pengeras suara di beberapa lingkungan Yangon pada Senin yang mendesak penduduk membuang sampah dengan benar.
“Sekitar 510 warga sipil telah tewas dalam hampir dua bulan upaya menghentikan protes,” papar laporan kelompok advokasi AAPP.
Total korban tewas pada Sabtu, hari paling berdarah sejauh ini, telah meningkat menjadi 141, sesuai data AAPP.
Lihat Juga :