Sekjen PBB Kritik Negara Kaya karena Terus 'Timbun' Vaksin Covid-19
Senin, 29 Maret 2021 - 22:18 WIB
loading...
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengkritik negara-negara maju karena melakukan penimbunan vaksin COVID-19. Foto/REUTERS
A
A
A
NEW YORK - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengkritik negara-negara maju karena melakukan "penimbunan" vaksin Covid-19 . Guterres meminta negara-negara itu untuk berbagi dengan seluruh dunia guna membantu mengakhiri pandemi.
"Saya sangat prihatin dengan distribusi vaksin yang sangat tidak adil ini di dunia," kata Guterres dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Channel News Asia pada Senin (29/3/2021).
"Ini adalah kepentingan semua orang untuk memastikan bahwa sesegera mungkin dan dengan cara yang adil, setiap orang mendapatkan vaksinasi di mana-mana dan bahwa vaksin dianggap sebagai barang publik yang benar-benar global," sambungnya.
Diakemudian mengkritik "kepentingan pribadi" negara-negara kaya karena terus mencari pasokan vaksin yang melebihi kebutuhan penduduk mereka.Baca juga: PBB Benarkan Ancaman Pembunuhan Terhadap Penyidik Khashoggi Oleh Saudi
"Pertama, jangan menimbun vaksin. Itu tidak masuk akal. Kami telah mengimbau negara-negara maju untuk berbagi beberapa vaksin yang telah mereka beli dan dalam banyak situasi mereka telah membeli lebih dari yang mereka butuhkan," jelasnya.
"Saya sangat prihatin dengan distribusi vaksin yang sangat tidak adil ini di dunia," kata Guterres dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Channel News Asia pada Senin (29/3/2021).
"Ini adalah kepentingan semua orang untuk memastikan bahwa sesegera mungkin dan dengan cara yang adil, setiap orang mendapatkan vaksinasi di mana-mana dan bahwa vaksin dianggap sebagai barang publik yang benar-benar global," sambungnya.
Diakemudian mengkritik "kepentingan pribadi" negara-negara kaya karena terus mencari pasokan vaksin yang melebihi kebutuhan penduduk mereka.Baca juga: PBB Benarkan Ancaman Pembunuhan Terhadap Penyidik Khashoggi Oleh Saudi
"Pertama, jangan menimbun vaksin. Itu tidak masuk akal. Kami telah mengimbau negara-negara maju untuk berbagi beberapa vaksin yang telah mereka beli dan dalam banyak situasi mereka telah membeli lebih dari yang mereka butuhkan," jelasnya.
Lihat Juga :