Perlu Beberapa Pekan untuk Pindahkan Kapal yang Blokir Terusan Suez

Jum'at, 26 Maret 2021 - 03:03 WIB
loading...
Perlu Beberapa Pekan...
Alat berat menggali tanah di sekitar kapal kontainter yang kandas di Terusan Suez, 25 Maret 2021. Foto/Suez Canal Media Center
A A A
SUEZ - Kapal kontainer yang memblokir Terusan Suez seperti "paus yang terdampar" mengirimkan gelombang kejutan baru pada perdagangan global.

Para pejabat Mesir menghentikan semua kapal yang memasuki saluran tersebut dan perusahaan penyelamat memperkirakan perlu beberapa pekan untuk membebaskan kapal itu.

Kapal Ever Given dengan panjang 400 meter itu hampir sepanjang Gedung Empire State.

Baca juga: Masih Tertutup Kapal Kandas, Mesir Setop Operasional Terusan Suez

Kapal itu memblokir lalu lintas kapal di kedua arah melalui salah satu jalur pengiriman minyak dan biji-bijian tersibuk di dunia.

Baca juga: Kapal Terjebak di Tengah Jalur, Terusan Suez Macet Total

Jalur itu sangat penting untuk perdagangan dengan menghubungkan Asia dan Eropa.

Lihat infografis: Topeng Emas Berusia 3.000 Tahun Ditemukan di China

Otoritas Terusan Suez (SCA) mengatakan delapan kapal tunda sedang bekerja memindahkan kapal kontainer yang terjebak secara diagonal melintasi bentangan selatan kanal satu jalur sejak Selasa pagi di tengah angin kencang dan badai debu.

"Kami tidak bisa memungkiri, mungkin butuh waktu berpekan-pekan, tergantung pada situasinya," papar Peter Berdowski, CEO perusahaan Belanda, Boskalis, yang mencoba membebaskan kapal, pada program televisi Belanda "Nieuwsuur".

Beberapa lusin kapal, termasuk kapal kontainer besar lainnya, kapal tanker yang membawa minyak dan gas, serta kapal curah yang mengangkut biji-bijian telah mundur di kedua ujung kanal.

Situasi ini pun menciptakan salah satu kemacetan pengiriman terburuk selama bertahun-tahun.

SCA telah mengizinkan beberapa kapal memasuki kanal dengan harapan penyumbatan bisa dibersihkan. Namun mereka kini menghentikan sementara semua lalu lintas.

“Tiga belas kapal yang berlayar ke selatan dari Port Said dalam konvoi kemarin telah menjatuhkan jangkar di ruang tunggu Danau Bitter sampai navigasi dapat dilanjutkan,” ungkap pernyataan SCA.

Berdowski mengatakan haluan dan buritan kapal telah diangkat ke kedua sisi kanal.

"Ini seperti paus besar yang terdampar di pantai. Ini beban yang sangat besar di atas pasir. Kita mungkin harus bekerja dengan kombinasi mengurangi berat dengan memindahkan kontainer, minyak dan air dari kapal kontainer, kapal tunda dan pengerukan pasir," ungkap dia.

Kira-kira 30% volume pengiriman peti kemas dunia melewati Terusan Suez sepanjang 193 kilometer setiap hari, dan sekitar 12% dari total perdagangan global semua barang.

Pakar perkapalan mengatakan jika penyumbatan tidak mungkin diselesaikan dalam beberapa hari mendatang, beberapa perusahaan pelayaran mungkin akan memindah rute kapal ke sekitar ujung selatan Afrika, yang akan menambah sekitar satu pekan perjalanan.

Konsultan Wood Mackenzie mengatakan dampak terbesar terjadi pada pengiriman peti kemas, tetapi ada juga total 16 kapal tanker minyak mentah dan kapal produk minyak yang berlayar melalui kanal itu dan sekarang tertunda akibat insiden tersebut.

“Muatan sejumlah kapal tanker berjumlah 870.000 ton minyak mentah dan 670.000 ton produk minyak bersih seperti bensin, nafta dan solar,” papar konsultan itu.

Menurut perusahaan analitik minyak Vortexa, Rusia dan Arab Saudi adalah dua pengekspor minyak terbesar melalui kanal tersebut, sedangkan India dan China adalah importir utama.

Pemilik kapal kontainer asal Jepang, Shoei Kisen, meminta maaf atas insiden itu dan mengatakan pekerjaan untuk membebaskan kapal, yang sedang menuju ke Eropa dari China, "sangat sulit" dan tidak jelas kapan kapal itu akan mengapung lagi.

Sinyal GPS kapal hanya menunjukkan perubahan kecil pada posisinya selama 24 jam terakhir.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ungkap Kekerasan Obstetri...
Ungkap Kekerasan Obstetri di RS, Dokter Wanita Ini Ditangkap atas Tuduhan Sebar Hoaks
Kapal Fregat Rusia Lepaskan...
Kapal Fregat Rusia Lepaskan Tembakan Peringatan di Selat Inggris
Hamas Ungkap Pertemuan...
Hamas Ungkap Pertemuan di Kairo Bahas Penerapan Gencatan Senjata Gaza
Israel Terus Bombardir...
Israel Terus Bombardir Gaza, Mesir Marah Besar!
Agen Mata-mata Israel...
Agen Mata-mata Israel Isyaratkan Mesir dan Turki sebagai Target Perang Berikutnya
Kapal Migran Tenggelam...
Kapal Migran Tenggelam di Lepas Pantai Malaysia, 14 Orang Hilang
Gulkarmat Jakarta Evakuasi...
Gulkarmat Jakarta Evakuasi 26 Penumpang Kapal di Perairan Kepulauan Seribu
CDC: Wabah Ebola di...
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
Trump Teken MoU Perjanjian...
Trump Teken MoU Perjanjian Damai, Iran Tegaskan Tak Akan Serahkan Bahan Nuklir
Rekomendasi
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Grab For Business Luncurkan...
Grab For Business Luncurkan Corporate Dine Out, Jamuan Makan Kantor Bebas Reimburse
Berita Terkini
Starmer Didesak Mundur...
Starmer Didesak Mundur dari Jabatan Perdana Menteri Inggris
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Pasukan Israel Gagal...
Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
Batalyon Israel Pembunuh...
Batalyon Israel Pembunuh Hind Rajab Dapat Pukulan Keras di Lebanon Selatan
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved