Demo Anti-China Mengerikan di Myanmar, Korban Tewas Jadi 39 Orang
Senin, 15 Maret 2021 - 09:58 WIB
loading...
A
A
A
Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mengatakan dia mengutuk apa yang dia sebut sebagai "kebrutalan yang sedang berlangsung".
“Secara pribadi telah mendengar dari kontak di Myanmar laporan pembunuhan yang memilukan, penganiayaan terhadap demonstran dan penyiksaan terhadap tahanan selama akhir pekan,” kata Burgener.
Penindasan, kata dia, merusak prospek perdamaian dan stabilitas. Dia mengimbau masyarakat internasional mendukung rakyat Myanmar dan aspirasi demokrasi mereka.
Inggris, mantan penguasa kolonial Myanmar, mengatakan terkejut dengan penggunaan kekuatan mematikan oleh pasukan keamanan terhadap orang-orang tak bersalah di Hlaingthaya dan di tempat lain.
"Kami menyerukan penghentian segera kekerasan ini dan rezim militer menyerahkan kembali kekuasaan kepada mereka yang dipilih secara demokratis oleh rakyat Myanmar," kata Duta Besar Inggris Dan Chugg.
Militer mengatakan pihaknya mengambil alih kekuasaan setelah tuduhan kecurangan dalam pemilu 8 November yang dimenangkan oleh partainya Suu Kyi ditolak oleh komisi pemilu. Pihaknya sudah berjanji akan menggelar pemilu baru, tapi belum menetapkan tanggal.
Suu Kyi telah ditahan sejak kudeta dan dijadwalkan kembali ke pengadilan pada hari Senin. Dia menghadapi setidaknya empat dakwaan, termasuk penggunaan radio walkie-talkie secara ilegal dan melanggar protokol virus corona.
Jauh dari Hlaingthaya, setidaknya 16 kematian dilaporkan di tempat lain di Myanmar, termasuk di kota kedua Mandalay dan di Bago, di mana televisi pemerintah MRTV mengatakan seorang petugas polisi meninggal karena luka di dada setelah konfrontasi dengan pengunjuk rasa.
Dia adalah polisi kedua yang dilaporkan tewas dalam protes itu.
Kekerasan itu terjadi sehari setelah Mahn Win Khaing Than, yang dalam pelarian bersama dengan sebagian besar pejabat senior dari Partai Liga Nasional untuk Demokrasi—partainya Suu Kyi—, mengatakan bahwa pemerintah sipil akan memberikan hak hukum kepada orang-orang untuk membela diri.
“Secara pribadi telah mendengar dari kontak di Myanmar laporan pembunuhan yang memilukan, penganiayaan terhadap demonstran dan penyiksaan terhadap tahanan selama akhir pekan,” kata Burgener.
Penindasan, kata dia, merusak prospek perdamaian dan stabilitas. Dia mengimbau masyarakat internasional mendukung rakyat Myanmar dan aspirasi demokrasi mereka.
Inggris, mantan penguasa kolonial Myanmar, mengatakan terkejut dengan penggunaan kekuatan mematikan oleh pasukan keamanan terhadap orang-orang tak bersalah di Hlaingthaya dan di tempat lain.
"Kami menyerukan penghentian segera kekerasan ini dan rezim militer menyerahkan kembali kekuasaan kepada mereka yang dipilih secara demokratis oleh rakyat Myanmar," kata Duta Besar Inggris Dan Chugg.
Militer mengatakan pihaknya mengambil alih kekuasaan setelah tuduhan kecurangan dalam pemilu 8 November yang dimenangkan oleh partainya Suu Kyi ditolak oleh komisi pemilu. Pihaknya sudah berjanji akan menggelar pemilu baru, tapi belum menetapkan tanggal.
Suu Kyi telah ditahan sejak kudeta dan dijadwalkan kembali ke pengadilan pada hari Senin. Dia menghadapi setidaknya empat dakwaan, termasuk penggunaan radio walkie-talkie secara ilegal dan melanggar protokol virus corona.
Jauh dari Hlaingthaya, setidaknya 16 kematian dilaporkan di tempat lain di Myanmar, termasuk di kota kedua Mandalay dan di Bago, di mana televisi pemerintah MRTV mengatakan seorang petugas polisi meninggal karena luka di dada setelah konfrontasi dengan pengunjuk rasa.
Dia adalah polisi kedua yang dilaporkan tewas dalam protes itu.
Kekerasan itu terjadi sehari setelah Mahn Win Khaing Than, yang dalam pelarian bersama dengan sebagian besar pejabat senior dari Partai Liga Nasional untuk Demokrasi—partainya Suu Kyi—, mengatakan bahwa pemerintah sipil akan memberikan hak hukum kepada orang-orang untuk membela diri.
(min)
Lihat Juga :