Berlutut Hadang Polisi Myanmar, Biarawati: Tembak Aku Saja
Selasa, 09 Maret 2021 - 20:41 WIB
loading...
A
A
A
Pada hari Senin, dia ditemani oleh para suster dan uskup setempat, yang mengelilinginya saat dia memohon belas kasihan bagi para pengunjuk rasa.
"Kami berada di sana untuk melindungi saudara perempuan kami dan orang-orang kami karena dia mempertaruhkan nyawanya," kata Suster Mary John Paul kepada AFP.
Suster Ann Rose Nu Tawng mengaku mengalami ketakutan sangat mendalam, tetapi dia berkata bahwa dia harus berani dan akan terus membela "anak-anak".
Baca juga: Hindari Konflik, Puluhan Warga Myanmar Coba Menyeberang ke India
"Saya tidak bisa berdiri dan menonton tanpa melakukan apapun, melihat apa yang terjadi di depan mata saya sementara semua Myanmar berduka," tukasnya.
Myanmar tengah berjuang menghadapi kekacauan setelah penggulingan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari oleh militer.
Ketika protes yang menuntut kembalinya demokrasi telah bergulir, junta terus meningkatkan penggunaan kekuatannya, menggunakan gas air mata, meriam air, peluru karet, dan peluru tajam.
Menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sejauh ini, lebih dari 60 orang telah tewas dalam demonstrasi anti-kudeta di seluruh negeri.
Baca juga: DK PBB Temui Kebuntuan Bahas Situasi Myanmar
"Kami berada di sana untuk melindungi saudara perempuan kami dan orang-orang kami karena dia mempertaruhkan nyawanya," kata Suster Mary John Paul kepada AFP.
Suster Ann Rose Nu Tawng mengaku mengalami ketakutan sangat mendalam, tetapi dia berkata bahwa dia harus berani dan akan terus membela "anak-anak".
Baca juga: Hindari Konflik, Puluhan Warga Myanmar Coba Menyeberang ke India
"Saya tidak bisa berdiri dan menonton tanpa melakukan apapun, melihat apa yang terjadi di depan mata saya sementara semua Myanmar berduka," tukasnya.
Myanmar tengah berjuang menghadapi kekacauan setelah penggulingan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari oleh militer.
Ketika protes yang menuntut kembalinya demokrasi telah bergulir, junta terus meningkatkan penggunaan kekuatannya, menggunakan gas air mata, meriam air, peluru karet, dan peluru tajam.
Menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, sejauh ini, lebih dari 60 orang telah tewas dalam demonstrasi anti-kudeta di seluruh negeri.
Baca juga: DK PBB Temui Kebuntuan Bahas Situasi Myanmar
(ian)
Lihat Juga :