Inggris Serukan Gencatan untuk Permudah Vaksinasi Covid-19 di Zona Konflik

Kamis, 18 Februari 2021 - 20:17 WIB
loading...
Inggris Serukan Gencatan...
Inggris mendorong Resolusi DK PBB untuk melakukan gencatan senjata sementara di wilayah konflik dan tindakan yang terkoordinasi untuk akses vaksin Covid-19 yang adil. Foto/REUTERS
A A A
LONDON - Inggris mendorong Resolusi Dewan Keamanan (DK) PBB untuk melakukan gencatan senjata sementara dan tindakan yang terkoordinasi untuk akses vaksin Covid-19 yang adil.London mengatakan, semua negara memiliki kewajiban moral untuk melindungi mereka yang paling rentan dari virus, termasuk para pengungsi dan mereka yang berada di zona konflik.Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab dalam pertemuan virtual DKPBB mendesak anggota untuk bersatu dan menyetujui resolusi yang dirundingkan, yaitu gencatan senjata agar program vaksinasi bisa berjalan di zona konflik.

Dia juga menyerukan dukungannya untuk akses yang adil terhadap vaksin sehingga kelompok masyarakat yang paling rentan dapat terlindungi dari virus Corona.

“Membiarkan virus menyebar di daerah tanpa kampanye vaksinasi menimbulkan risiko yang lebih besar terhadap varian baru - mempertaruhkan strain baru yang kebal vaksin, dan gelombang infeksi lebih lanjut di seluruh dunia," ujar Raab, seperti dikutip SIndonews dari siaran pers Kedutaan Besar Inggris di Jakarta pada Kamis (18/2/2021).

Dia menjelaskan bahwa lebih dari 160 juta orang berisiko tidak bisa mendapatkan vaksinasi virus Corona karena ketidakstabilan dan konflik, termasuk di Yaman, Sudan Selatan, Somalia dan Ethiopia.Baca juga: Soal Produksi Vaksin Covid-19 ala Terawan, Epidemiolog: Itu Akal-akalan

Raab juga menuturkan bahwa cakupan vaksinasi global sangat penting untuk melawan virus Corona.

“Itulah mengapa Inggris menyerukan gencatan senjata untuk memudahkan vaksinasi Covid-19, menjangkau mereka yang tinggal di zona konflik dan upaya tim global yang lebih besar untuk memberikan akses yang adil. Kami memiliki kewajiban moral untuk bertindak, dan kebutuhan strategis untuk bersama-sama mengalahkan virus ini”, jelasnya.

Dirinya mendorong perlindungan berkelanjutan bagi petugas kemanusiaan dan kesehatan di zona konflik untuk memastikan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau mereka yang membutuhkannya.

Komunitas internasional, jelasnya, juga harus diizinkan untuk memantau kemajuan pemberian vaksinasi dan seberapa baik orang dilindungi dari kekerasan selama proses. Raab meminta pemerintah di seluruh dunia untuk tidak melupakan siapapun saat mereka meluncurkan program vaksinasi, sehingga kelompok rentan seperti pengungsi dan orang yang tinggal di zona konflik dapat divaksinasi.

Sementara itu Duta Besar Inggris untuk Indonesia and Timor Leste, Owen Jenkins mengatakan tidak ada seorangpun yang aman dari virus. Dia mengatakan, semua pihak harus memastikan vaksin bisa menjangkau semua orang pada waktu yang tepat, sehingga tercipta peluang yang lebih baik untuk memberantas virus ini.

"Inggris hari ini memulai proses untuk mengamankan konsensus internasional tentang perlunya menjangkau semua orang - termasuk pengungsi dan mereka yang berada di zona konflik," ujar Owen.Baca juga: Tak Tergantung Negara Lain, Pemerintah Diminta Percepat Produksi Vaksin Corona

Owen mengatakan,COVAX adalah cara untuk mencapainya. Dimana, dia menyebut Inggris, sebagai pendukung utama COVAX, senang bahwa Indonesia juga merupakan pendukung kuatpendekatan multilateral untuk vaksinasi ini. Diplomat senior Inggris itu berharap bisa bekerjasama dengan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi dalam perannya sebagai ketua bersama dari Komitmen Pasar Lanjutan COVAX.

"Dalam konteks seperti zona konflik, vaksinasi dapat difasilitasi dan disediakan oleh organisasi kemanusiaan multilateral lainnya, seperti badan-badan PBB, Palang Merah, Gerakan Bulan Sabit Merah,serta kelompok masyarakat sipil lainnya. Kami siap bekerja untuk menyelesaikan ini," imbuhnya.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengapa Negara-negara...
Mengapa Negara-negara Arab Khawatir Kesepakatan Iran Jadi Titik Balik yang Membawa Bencana?
Ketika Paris Lebih Panas...
Ketika Paris Lebih Panas dari Makkah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Rugi Besar Akibat Kalah...
Rugi Besar Akibat Kalah Perang, Trump Minta Tambahan Dana Rp1.572 Triliun
AS dan Israel Jadi Sumber...
AS dan Israel Jadi Sumber Kerusakan, Iran Serukan Tatanan Baru Negara Islam
Eropa Terasa Dipanggang!...
Eropa Terasa Dipanggang! Suhu Mencapai 44 Derajat Celsius
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
Demo Ricuh di Grahadi...
Demo Ricuh di Grahadi Surabaya, Belasan Pendemo Diduga Provokator Ditangkap
Salam Prabowo Disampaikan...
Salam Prabowo Disampaikan Jumhur, Raja Charles Beri Pujian untuk Indonesia
Jokowi Pede PSI Masuk...
Jokowi Pede PSI Masuk Parlemen Senayan di Pemilu 2029
Berita Terkini
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Infografis
Muhammad Jadi Nama Terpopuler...
Muhammad Jadi Nama Terpopuler untuk Bayi Lelaki di Inggris Raya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved