China Terapkan Sanksi pada 28 Pejabat Era Trump, Termasuk Pompeo

Kamis, 21 Januari 2021 - 05:03 WIB
loading...
China Terapkan Sanksi...
Mantan Menlu AS Mike Pompeo. Foto/REUTERS
A A A
BEIJING - China mengatakan ingin bekerja sama dengan pemerintahan baru Amerika Serikat (AS) Presiden Joe Biden .

Meski demikian, Beijing juga mengumumkan sanksi terhadap mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Mike Pompeo dan 27 pejabat tinggi lainnya di era Donald Trump.

Langkah itu merupakan tanda kemarahan China, terutama terkait tuduhan yang dibuat Pompeo pada hari terakhir penuh jabatannya bahwa China telah melakukan genosida terhadap Muslim Uighur.

Baca juga: Para Pemimpin Dunia Ungkap Harapan Baru pada Presiden AS Joe Biden

Pendapat itu diungkapkan pengganti Pompeo di Departemen Luar Negeri (Deplu), Menlu Anthony Blinken.

Baca juga: Sah, Joe Biden Resmi Menjabat Presiden Amerika Serikat ke-46

Dalam penolakan yang mencolok atas hubungannya dengan Washington di era Trump, Kementerian Luar Negeri China mengumumkan sanksi dalam pernyataan yang muncul di webnya saat Biden mengucapkan sumpah presiden.

Lihat infografis: Joe Biden akan Gunakan Mobil Kenegaraan yang Lama

“Pompeo dan yang lainnya telah merencanakan, mempromosikan, dan melaksanakan serangkaian gerakan gila, mencampuri urusan dalam negeri China dengan serius, merusak kepentingan China, menyinggung rakyat China, dan secara serius mengganggu hubungan China-AS," ungkap pernyataan Kemlu China.



Pejabat lain yang mundur dari posisinya dan mantan pejabat Trump yang diberi sanksi termasuk Menteri Perdagangan Peter Navarro, Penasihat Keamanan Nasional Robert O'Brien dan John Bolton, Menteri Kesehatan Alex Azar, Duta Besar PBB Kelly Craft, dan mantan asisten Trump Steve Bannon.

28 mantan pejabat AS dan anggota keluarga dekat akan dilarang memasuki daratan China, Hong Kong atau Macao, dan perusahaan serta institusi yang terkait dengan mereka dilarang melakukan bisnis dengan China.

Baca juga: Beijing Persilakan Malaikat Baik Datang Memperbaiki Hubungan AS-China

China telah menjatuhkan sanksi kepada anggota parlemen AS pada tahun lalu, tetapi menargetkan begitu banyak mantan dan pejabat AS yang akan keluar pada hari pelantikan adalah ekspresi penghinaan yang tidak biasa.

Pompeo melakukan rentetan tindakan terhadap China di pekan-pekan terakhir masa jabatannya. Dia mengumumkan bahwa pemerintahan Trump telah menetapkan China melakukan "genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan" terhadap Muslim Uighur.

Blinken mengatakan bahwa dia setuju dengan penilaian genosida Pompeo terhadap China.

“Memaksa pria, wanita dan anak-anak ke dalam kamp konsentrasi; mencoba, pada dasarnya, mendidik kembali mereka menjadi penganut ideologi Partai Komunis China, semua itu berbicara tentang upaya melakukan genosida,” papar Blinken.

China telah berulang kali menolak tuduhan kekerasan pada Uighur di wilayah barat Xinjiang.

Panel Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan 1 juta orang Uighur dan Muslim lainnya telah ditahan di kamp-kamp.

Menanggapi tuduhan Xinjiang, juru bicara Kemlu China Hua Chunying mengatakan, "Pompeo telah membuat begitu banyak kebohongan dalam beberapa tahun terakhir, dan ini hanyalah kebohongan yang terang-terangan."

“Politisi AS ini terkenal karena berbohong dan curang, menjadikan dirinya bahan tertawaan dan badut,” ungkap Hua.

Hua mengatakan, “China berharap pemerintahan baru akan bekerja sama dengan China dalam semangat saling menghormati, menangani perbedaan dengan benar, dan melakukan lebih banyak kerja sama win-win di lebih banyak sektor."

"Kami berharap pemerintahan baru AS dapat memiliki penilaian yang masuk akal dan berpikiran dingin tentang masalah Xinjiang, di antara masalah lainnya," pungkas dia.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Gelombang Panas Dahsyat...
Gelombang Panas Dahsyat Landa Eropa, Picu Lebih dari 200 Kematian di Spanyol dan Prancis
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
Benarkah Fruktosa dalam...
Benarkah Fruktosa dalam Buah Bisa Memicu Asam Urat? Ini Penjelasan Guru Besar IPB
UI Resmikan Arboretum...
UI Resmikan Arboretum Hutan, Ruang Terbuka Hijau untuk Edukasi hingga Healing
Cegah Kebocoran Devisa...
Cegah Kebocoran Devisa Hasil Ekspor, DSI Fokus Dongkrak Penerimaan Negara
Berita Terkini
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
Infografis
5 Pejabat China yang...
5 Pejabat China yang Dieksekusi Mati karena Korupsi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved