Media AS: Trump Frustrasi soal Pilpres AS, Wapres Pence Dicap Pengkhianat
Rabu, 23 Desember 2020 - 08:56 WIB
loading...
Presiden Amerika Serikat Donald John Trump. Foto/REUTERS
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Donald Trump terus mengklaim bahwa pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) yang dimenangkan rivalnya, Joe Biden, sarat kecurangan. Namun, media AS melaporkan dia frustrasi dengan orang-orang dekatnya, termasuk Wakil Presiden (Wapres) Mike Pence, karena kurang mendukung klaimnya tersebut.
Axios, mengutip sumber pemerintah Trump, melaporkan pada Selasa (23/12/2020) bahwa sang presiden mengecam para pejabat senior Gedung Putih karena gagal secara aktif mendukung langkahnya untuk membatalkan hasil pilpres . Selain Wapres Pence, penasihat Gedung Putih Pat Cipollone, juga disebut menjadi sasaran kecaman Trump. (Baca: AS Beri Indonesia Miliaran Dollar Jika Normalisasi dengan Israel )
Sumber tersebut mengatakan Cipollone sangat takut bahwa dia kemungkinan akan segera dipecat oleh Trump karena tidak tampak cukup setia.
Orang dalam pemerintahan Trump mengklaim bahwa jika Pence, sebagai presiden Senat, bergerak untuk memvalidasi hasil pilpres selama rapat gabungan Kongres pada 6 Januari, ini berarti "pengkhianatan terakhir" bagi Trump.
"Pada titik ini, jika Anda tidak berada di kamp menggunakan Departemen Keamanan Dalam Negeri atau militer untuk menyita mesin pemungutan suara, presiden menganggap Anda lemah dan di bawah penghinaan," tulis Axios mengutip sumber di pemerintahan Trump.
Axios, mengutip sumber pemerintah Trump, melaporkan pada Selasa (23/12/2020) bahwa sang presiden mengecam para pejabat senior Gedung Putih karena gagal secara aktif mendukung langkahnya untuk membatalkan hasil pilpres . Selain Wapres Pence, penasihat Gedung Putih Pat Cipollone, juga disebut menjadi sasaran kecaman Trump. (Baca: AS Beri Indonesia Miliaran Dollar Jika Normalisasi dengan Israel )
Sumber tersebut mengatakan Cipollone sangat takut bahwa dia kemungkinan akan segera dipecat oleh Trump karena tidak tampak cukup setia.
Orang dalam pemerintahan Trump mengklaim bahwa jika Pence, sebagai presiden Senat, bergerak untuk memvalidasi hasil pilpres selama rapat gabungan Kongres pada 6 Januari, ini berarti "pengkhianatan terakhir" bagi Trump.
"Pada titik ini, jika Anda tidak berada di kamp menggunakan Departemen Keamanan Dalam Negeri atau militer untuk menyita mesin pemungutan suara, presiden menganggap Anda lemah dan di bawah penghinaan," tulis Axios mengutip sumber di pemerintahan Trump.
Lihat Juga :