Pakar Ungkap Alasan Terjadinya Peningkatan Penembakan Massal di AS
Selasa, 22 Desember 2020 - 05:30 WIB
loading...
Ilustrasi
A
A
A
WASHINGTON - Angka resmi telah mengungkapkan bahwa Kota New York , Amerika Serikat (AS) mengalami peningkatan kejahatan yang mengkhawatirkan selama delapan bulan terakhir. Angka-angka untuk New York menunjukkan peningkatan 63% dalam insiden penembakan di dalam atau di depan toko-toko, serta kenaikan 222% dalam perampokan dan lonjakan 10% dalam perampokan.
Lonjakan insiden penembakan tidak hanya terjadi di New York, dengan Arsip Kekerasan Senjata Amerika mencatat sekitar 578 penembakan massal secara nasional antara awal 2020 hingga 26 November 2020.
(Baca: NYPD: Aksi Penembakan di New York Alami Peningkatan Signifikan )
Craig Jackson, profesor psikologi kesehatan kerja di Universitas Birmingham City, mengungkap beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebab peningkatan tindak kejahatan bersenjata, khususnya penembakan massal. Salah satu alasannya, papar Jackson, adalah tingkat kepemilikan senjata di AS.
Jacson menuturkan, berdasarkan Arsip Kekerasan Senjata, penembakan massal adalah jika ada empat orang yang terluka, baik secara fatal atau tidak, tidak termasuk pelaku dan itu dapat terkait dengan aktivitas kriminal, perselisihan, geng, atau aktivitas narkoba.
"Jadi, itu cara yang sangat longgar untuk mengukur penembakan massal; ada cara yang lebih konservatif yang menuntut empat kematian atau tiga kematian yang tidak terkait dengan kejahatan," ucapnya, seperti dilansir Sputnik.
Lonjakan insiden penembakan tidak hanya terjadi di New York, dengan Arsip Kekerasan Senjata Amerika mencatat sekitar 578 penembakan massal secara nasional antara awal 2020 hingga 26 November 2020.
(Baca: NYPD: Aksi Penembakan di New York Alami Peningkatan Signifikan )
Craig Jackson, profesor psikologi kesehatan kerja di Universitas Birmingham City, mengungkap beberapa alasan yang mungkin menjadi penyebab peningkatan tindak kejahatan bersenjata, khususnya penembakan massal. Salah satu alasannya, papar Jackson, adalah tingkat kepemilikan senjata di AS.
Jacson menuturkan, berdasarkan Arsip Kekerasan Senjata, penembakan massal adalah jika ada empat orang yang terluka, baik secara fatal atau tidak, tidak termasuk pelaku dan itu dapat terkait dengan aktivitas kriminal, perselisihan, geng, atau aktivitas narkoba.
"Jadi, itu cara yang sangat longgar untuk mengukur penembakan massal; ada cara yang lebih konservatif yang menuntut empat kematian atau tiga kematian yang tidak terkait dengan kejahatan," ucapnya, seperti dilansir Sputnik.
Lihat Juga :