Laporan CIA: China Coba Cegah WHO Umumkan Darurat Kesehatan Global

Rabu, 13 Mei 2020 - 15:35 WIB
loading...
Laporan CIA: China Coba...
Presiden China Xi Jinping dan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto/India TV
A A A
WASHINGTON - Badan intelijen Amerika Serikat (AS), CIA, meyakini China berusaha mencegah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan darurat kesehatan global terkait wabah virus Corona saat Beijing menimbun persediaan medis dari seluruh dunia.

Sebuah laporan CIA menyatakan China mengancam akan berhenti bekerja sama dengan WHO dalam penyelidikan virus Corona jika organisasi itu mengumumkan darurat kesehatan global.

Laporan yang berjudul "UN-China: WHO Mindful But Not Beholden to China," itu dirilis oleh Newsweek, Rabu (13/5/2020), dan telah dikonfirmasi oleh dua pejabat intelijen AS.

Ini adalah laporan kedua dari dinas intelijen Barat setelah sebelumnya laporan yang dirilis oleh badan intelijen Jerman yang diterbitkan oleh Der Spiegel pekan lalu. Laporan itu menuduh Presiden China Xi Jinping secara pribadi memberikan tekanan pada Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 21 Januari.

Namun, dua pejabat intelijen AS yang berbicara kepada Newsweek tidak dapat mengatakan apakah Presiden Xi Jinping berperan dalam menekan WHO.

Kendati begitu, timeline dokumen CIA dan laporan Jerman memperlihatkan kecocokan dengan analisis lain yang dilakukan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS. Analisis Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengatakan Chinamenekan informasi tentang wabah pada Januari sehingga bisa menimbun persediaan medis dari seluruh dunia. Analisis itu, pertama kali dilaporkan oleh AP, namun dibantah oleh Kedutaan Besar China di Washington dan menyebutnya tidak berdasar.

Untuk diketahui, Beijing mengimpor 2,5 miliar keping alat pelindung diri (APD) — yang termasuk lebih dari 2 miliar masker — antara 24 Januari dan 29 Februari. Hal itu berdasarkan Administrasi Umum Kepabeanan China. Lonjakan pesanan ini disertai dengan seruan kuat dari misi diplomatik Beijing di seluruh dunia untuk mengamankan pasokan karena negara terpadat di dunia itu melengkapi diri terhadap wabah virus Corona yang semakin memburuk.

Tetapi penyakit itu kemudian menyebar ke hampir setiap negara di muka bumi. Beijing kemudian memulai kampanye untuk memberikan APD, personel, dan bantuan lainnya ke negara-negara di seluruh dunia, termasuk AS.

China pertama kali memberi WHO tentang virus Corona baru pada 31 Desember, dan mulai secara resmi memberi tahu AS pada 3 Januari. Pada 20 Januari, Beijing pertama kali melaporkan kasus penularan penyakit manusia ke manusia — suatu tanda bahwa virus Corona lebih menular daripada yang diperkirakan sebelumnya. WHO mengadakan dua pemungutan suara pada 22 dan 23 Januari untuk memutuskan apakah akan mengumumkan darurat kesehatan global, tetapi komite tidak dapat mencapai kesimpulan. Pemungutan suara terakhir pada 30 Januari akhirnya memutuskan hal tersebut.

"Konstitusi WHO mengatakan bahwa setiap Negara Anggota harus menghormati karakter internasional eksklusif Direktur Jenderal dan stafnya dan tidak berusaha mempengaruhi mereka (Pasal 37)," kata seorang juru bicara WHO kepada Newsweek.

"Kita tahu bahwa setiap negara memahami kewajiban ini sangat penting bagi ketidakberpihakan dan netralitas WHO dalam pekerjaan kesehatan globalnya," terangnya.

"WHO mendasarkan rekomendasinya pada sains, praktik terbaik kesehatan masyarakat, bukti, data, dan saran dari para ahli independen," tegasnya.

Terkait laporan tersebut WHO menolak anggapan bahwa Xi Jinping melakukan intervensi, tetapi menolak secara khusus menjawab pertanyaan apakah para pejabat China melakukan upaya untuk menunda atau mengubah pengumuman Darurat Kesehatan Masyarakat dari Kepedulian Internasional (PHEIC).

"Kami tidak mengomentari diskusi spesifik dengan negara-negara anggota tetapi kami dapat mengatakan bahwa sepanjang waktu selama pandemi WHO telah bertindak sesuai dengan mandatnya sebagai organisasi teknis berbasis bukti yang berfokus pada melindungi semua orang, di mana pun," kata juru bicara WHO kepada Newsweek.

"Dr Tedros tidak berkomunikasi dengan Presiden Xi (Jinping) pada 20, 21 atau 22 Januari. Dr Tedros dan tim seniornya bertemu dengan Presiden Xi di Beijing pada 28 Januari," ungkapnya.

"Masalah PHEIC tidak muncul dalam pertemuan itu," tukasnya.

Kementerian Luar Negeri China sendiri tidak menanggapi permintaan Newsweek untuk berkomentar, tetapi mengatakan pada konferensi pers Senin kemarin bahwa Presiden Xi Jinping tidak melakukan panggilan telepon dengan kepala WHO pada 21 Januari dalam menanggapi laporan Der Spiegel.

CIA sendiri juga menolak permintaan komentar Newsweek terkait laporan ini.

Virus Corona baru yang diberinama COVID-19 saat ini telah menginfeksi lebih dari 4 juta orang.
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
China Selidiki Insiden...
China Selidiki Insiden Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi, Pilot Tewas, 13 Orang Luka
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Penembakan di Pusat...
Penembakan di Pusat Kesejahteraan Remaja Jerman Tewaskan Setidaknya 6 Orang
Acuhkan Trump, Iran...
Acuhkan Trump, Iran Tak Kirim Delegasi ke Qatar untuk Berunding
Rekomendasi
Sunscreen Ringan Jadi...
Sunscreen Ringan Jadi Pilihan Perlindungan Kulit Harian di Iklim Tropis
YHK Junior Padel Championship...
YHK Junior Padel Championship 2026 Jadi Ajang Lahirnya Atlet Muda Indonesia
Apartemen Disita Jelang...
Apartemen Disita Jelang Sidang Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Buka Suara
Berita Terkini
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Bagaimana Iran Menggunakan...
Bagaimana Iran Menggunakan Strategi Ubur-ubur untuk Menjatuhkan Jet Tempur AS?
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Infografis
China Uji Coba Bom Hidrogen...
China Uji Coba Bom Hidrogen Hasilkan Suhu 1.000 Derajat Celsius
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved