Gagal Bayar Utang Akibat Covid-19, Maskapai Tertua Kedua di Dunia Bangkrut
Selasa, 12 Mei 2020 - 12:03 WIB
loading...
Foto udara menunjukkan pesawat maskapai Kolombia Avianca diparkir di Bandara Internasional El Dorado di tengah wabah penyakit corona (Covid-19) di Bogota, Kolombia, beberapa waktu lalu. Foto/Reuters
A
A
A
BOGOTA - Avianca Holdings, maskapai penerbangan terbesar kedua di Amerika Latin, mengajukan proses kebangkrutan, karena gagal membayar hutang obligasi yang jatuh tempo. Bukan hanya Avianca, konglomerat Inggris Richard Branson sedang berusaha keras agar maskapai penerbangannya, Virgin Atlantic dan Virgin Australia, bisa bertahan meski merugi karena pandemi yang mengglobal.
Avianca sudah mengajukan bantuan kepada pemerintah Kolombia, namun sejauh ini belum menunjukkan sinyal sukses. Maskapai yang berbasis di Bogota itu menjadi salah satu dari maskapai penerbangan berskala besar yang limbung karena pandemi corona karena menurunnya industri pariwisata.
Avianca tidak lagi terbang reguler sejak akhir Maret lalu dan sekitar 20.000 karyawannya tidak digaji. “Avianca menghadapi krisis yang menantang dalam 100 tahun terakhir,” kata CEO Avianca Anko van der Werff, dilansir Reuters.
Namun, Avianca dikabarkan memang dilaporkan mengalami kondisi performa melemah sebelum wabah virus corona. Upaya pengajuan kebangkrutan karena upaya penyelamatan negara tidak bisa dilakukan. Avianca sendiri juga berharap adanya dana talangan dari pemerintah Kolombia.
“Itu bukan hal mengejutkan,” kata Juan David Ballen, kepala ekonomi lembaa analis keuangan Casa de Bolsa di Bogota. “Perusahaan itu memiliki hutang yang banyak, mereka berusaha merestrukturasi hutangnya pada tahun lalu,” katanya.
Avianca merupakan maskapai tertua kedua di dunia setelah KLM itu memiliki hutang USD7,3 miliar pada 2019. Mereka mengajukan kebangkrutan pasal 11 di New York, tetapi tetap melanjutkan operasi jika mereka bisa merestrukturasi hutangnya. The Colombian Association of Civil Aviators (ACDAC), serikat pekerja Avianca, mendukung langkah perusahaan.
Avianca sudah mengajukan bantuan kepada pemerintah Kolombia, namun sejauh ini belum menunjukkan sinyal sukses. Maskapai yang berbasis di Bogota itu menjadi salah satu dari maskapai penerbangan berskala besar yang limbung karena pandemi corona karena menurunnya industri pariwisata.
Avianca tidak lagi terbang reguler sejak akhir Maret lalu dan sekitar 20.000 karyawannya tidak digaji. “Avianca menghadapi krisis yang menantang dalam 100 tahun terakhir,” kata CEO Avianca Anko van der Werff, dilansir Reuters.
Namun, Avianca dikabarkan memang dilaporkan mengalami kondisi performa melemah sebelum wabah virus corona. Upaya pengajuan kebangkrutan karena upaya penyelamatan negara tidak bisa dilakukan. Avianca sendiri juga berharap adanya dana talangan dari pemerintah Kolombia.
“Itu bukan hal mengejutkan,” kata Juan David Ballen, kepala ekonomi lembaa analis keuangan Casa de Bolsa di Bogota. “Perusahaan itu memiliki hutang yang banyak, mereka berusaha merestrukturasi hutangnya pada tahun lalu,” katanya.
Avianca merupakan maskapai tertua kedua di dunia setelah KLM itu memiliki hutang USD7,3 miliar pada 2019. Mereka mengajukan kebangkrutan pasal 11 di New York, tetapi tetap melanjutkan operasi jika mereka bisa merestrukturasi hutangnya. The Colombian Association of Civil Aviators (ACDAC), serikat pekerja Avianca, mendukung langkah perusahaan.
Lihat Juga :