Perang Teluk Akan Kembali Pecah?

Senin, 30 November 2020 - 10:35 WIB
loading...
A A A
Namun demikian, pembunuhan Fakhrizadeh tidak akan berdampak banyak. Meskipun badan pengamat nuklir Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menyebutkan kalau Fakhrizadeh merupakan otak di belakang rencana Amad yag mengembangkan bom nuklir. IAEA menyebutkan Amad yang dibubarkan pada 2003, tetapi Fakhrizadeh masih memiliki jaringan ilmuwan yang memiliki pengetahuan dan pengalaman membuat senjata nuklir. Dengan tidak bekerja sejak 2003, tugas Fakhrizadeh melakukan koordinasi. (Baca juga: Susi Pudjiaastuti Berpeluang Gantikan Edhy Prabowo Jika Gerindra Menolak)

Ariane Tabatabai, peneliti Timur Tengah di German Marshall Fund, membandingkan pembunuhan Fakhrizadeh dengan pembunuhan jenderal Garda Revolusi Qassem Suleimani pada awal tahun ini. “Fakhrizadeh merupakan jaringan utama dari program nuklir Iran yang dijuga dikoordinasi oleh Suleimani,” kata Tabatabai. Dia mengungkapkan, Fakhrizadeh merupakan alat untuk mengembangkan dan menciptakan infrastruktur. “Kematiannya bukan hal fundamental untuk menghalau program nuklir Iran,” jelasnya dilansir Guardian.

Kalau Ellie Geranmayeh, peneliti senior di European Council on Foreign Relations, sepakat dengan perbandingan tersebut. Dia mengungkapkan, pembunuhan itu tidak akan berdampak pada penurunan kapasitas kemampuan nuklir Iran, jika Teheran menempuh opsi melakukan pengembangan nuklir.

“Ketika Fakhrizadeh diyakini memainkan peranan penting dalam aktivitas nuklir Iran, program itu tidak mungkin dipegang oleh satu orang. Misalnya, Pasukan Garda Revolusi Iran juga bukan hanya kasus pembunuhan Soleimani semata,” kata Geranmayeh. Dia menegaskan, tujuan pembunuhan Fakhrizadeh tidak ingin melemahkan program nuklir, tetapi melemahkan diplomasi. (Lihat videonya: Langgar Prokes, Kafe Ditutup)

Musuh-musuh Iran sangat ingin mengetahui bagaimana respons Iran dengan pembunuhan ilmuwan tersebut? Apakah Iran akan menahan urat syarafnya untuk melakukan serangan. Serangan balasan tentunya akan membuat pemerintahan Biden semakin sulit bernegosiasi dan situasi menjadi semakin kompleks yang dihadapi AS mendatang. Semua itu merupakan strategi Trump untuk menjegal diplomasi Biden mendatang.

Pembunuhan Fakhrizadeh bukan tekanan terakhir selama beberapa hari era Trump yang akan berakhir pada pertengahan Januari mendatang. “Permasalahannya adalah kamu ingin terus menekan tombol meskipun itu telah berjalan,” ujar Esfandiary. Dia mengungkapkan, kelompok garis keras yang menguasai pemerintah Iran diperkirakan tidak akan menahan diri dengan pembunuhan mereka. Mereka diprediksi akan membalas dendam. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Trump Klaim AS Telah...
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
Trump Mendadak Batal...
Trump Mendadak Batal Bombardir Iran Besar-besaran, Israel Terkejut
Israel Kucurkan Rp917...
Israel Kucurkan Rp917 Miliar untuk Bangun 69 Permukiman Ilegal di Tepi Barat
Iran Temukan Pangkalan...
Iran Temukan Pangkalan Angkatan Laut Berusia 2.000 Tahun di Selat Hormuz
Penembakan Massal di...
Penembakan Massal di Johannesburg Tewaskan 12 Orang, Polisi Buru 10 Tersangka
Iran Bantah Mohon ke...
Iran Bantah Mohon ke Trump Hentikan Serangan: Tak Ada Komunikasi Apa pun!
Rekomendasi
Polisi Imbau Mahasiswa...
Polisi Imbau Mahasiswa Waspadai Demo Hari Ini Ditunggangi
Aliansi UNJ Melawan...
Aliansi UNJ Melawan Gelar Aksi dan Long March
WorldSBK 2026 Seri Emilia-Romagna...
WorldSBK 2026 Seri Emilia-Romagna Tayang Live di VISION+
Berita Terkini
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Infografis
Daftar 23 Kombes Pol...
Daftar 23 Kombes Pol Pecah Bintang pada Mutasi Polri Mei 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved