MuslimPro Digugat Pengguna atas Tuduhan Jual Data ke Militer AS
Selasa, 24 November 2020 - 09:40 WIB
loading...
Beberapa layanan dalam aplikasi MuslimPro. Foto/Tangkapan layar situs web aplikasi MuslimPro
A
A
A
PARIS - Aplikasi MuslimPro mulai digugat penggunanya atas tuduhan bahwa aplikasi panduan salat umat Muslim itu menjual data penggunanya ke militer Amerika Serikat (AS). Gugatan diajukan oleh pengguna aplikasi di Prancis.
Pengguna aplikasi MuslimPro, yang mengklaim memiliki 95 juta—laporan lain menyebut sekitar 100 juta—pengguna di seluruh dunia, telah mengajukan gugatan tersebut setelah laporan media menuduh perusahaan itu telah membagikan datanya dengan perusahaan yang kemudian menjualnya ke militer AS. (Baca: Mencurigakan, MuslimPro Jual Data Lokasi 100 Juta Muslim ke Militer AS )
Gugatan tersebut, yang diungkapkan oleh radio RTL Prancis, menuduh perusahaan tersebut melakukan pelanggaran perlindungan data, penyalahgunaan kepercayaan, membahayakan nyawa orang lain dan konspirasi untuk melakukan pembunuhan.
Gugatan kasus ini dijadwalkan diajukan pada hari Selasa (24/11/2020).
Langkah hukum oleh pengguna tersebut diambil setelah laporan grup media VICE minggu lalu mengungkap bagaimana tentara AS membeli data geolokasi pengguna dari serangkaian aplikasi di seluruh dunia.
Pengguna aplikasi MuslimPro, yang mengklaim memiliki 95 juta—laporan lain menyebut sekitar 100 juta—pengguna di seluruh dunia, telah mengajukan gugatan tersebut setelah laporan media menuduh perusahaan itu telah membagikan datanya dengan perusahaan yang kemudian menjualnya ke militer AS. (Baca: Mencurigakan, MuslimPro Jual Data Lokasi 100 Juta Muslim ke Militer AS )
Gugatan tersebut, yang diungkapkan oleh radio RTL Prancis, menuduh perusahaan tersebut melakukan pelanggaran perlindungan data, penyalahgunaan kepercayaan, membahayakan nyawa orang lain dan konspirasi untuk melakukan pembunuhan.
Gugatan kasus ini dijadwalkan diajukan pada hari Selasa (24/11/2020).
Langkah hukum oleh pengguna tersebut diambil setelah laporan grup media VICE minggu lalu mengungkap bagaimana tentara AS membeli data geolokasi pengguna dari serangkaian aplikasi di seluruh dunia.
Lihat Juga :