Kebijakan Keras Macron Dinilai Membuat Muslim Prancis Terasing
Selasa, 17 November 2020 - 18:11 WIB
loading...
A
A
A
Pendirian ini menyebabkan keterasingan dan ketidakamanan identitas di antara sebagian Muslim, yang menurutnya, adalah akar penyebab ekstremisme.
(Baca: RUU Baru Prancis, Rekam Polisi Dianggap Tindak Kejahatan )
Sementara itu, cendekiawan Muslim seperti Khaled A. Beydoun, profesor Hukum di Sekolah Hukum Universitas Negeri Wayne dan penulis American Islamophobia: Understanding the Roots and Rise of Fear, melihat posisi Macron sebagai penyangkalan dari kepercayaan yang dipegang teguh.
"Alih-alih cenderung pada ketidakadilan sistemik dan membingkai pembunuhan mengerikan Samuel Paty sebagai penyimpangan, Macron memanfaatkan kelemahan Prancis dan mengakar Islamofobia untuk melepaskan tingkat baru kebencian terhadap Muslim Prancis," kata Beydoun.
"Macron meremehkan Islam, yang memicu kekerasan terhadap Muslim di Prancis. Perpecahan meradang, alih-alih menggunakan tempat bertenggernya untuk memperbaiki dan menjebak pembunuhan Paty apa adanya: tindakan keji satu orang, bukan enam juta pria dan wanita Prancis," ungkapnya.
(Baca: RUU Baru Prancis, Rekam Polisi Dianggap Tindak Kejahatan )
Sementara itu, cendekiawan Muslim seperti Khaled A. Beydoun, profesor Hukum di Sekolah Hukum Universitas Negeri Wayne dan penulis American Islamophobia: Understanding the Roots and Rise of Fear, melihat posisi Macron sebagai penyangkalan dari kepercayaan yang dipegang teguh.
"Alih-alih cenderung pada ketidakadilan sistemik dan membingkai pembunuhan mengerikan Samuel Paty sebagai penyimpangan, Macron memanfaatkan kelemahan Prancis dan mengakar Islamofobia untuk melepaskan tingkat baru kebencian terhadap Muslim Prancis," kata Beydoun.
"Macron meremehkan Islam, yang memicu kekerasan terhadap Muslim di Prancis. Perpecahan meradang, alih-alih menggunakan tempat bertenggernya untuk memperbaiki dan menjebak pembunuhan Paty apa adanya: tindakan keji satu orang, bukan enam juta pria dan wanita Prancis," ungkapnya.
(esn)
Lihat Juga :