Volkswagen: Tak Ada Kerja Paksa di Pabrik Xinjiang

Jum'at, 13 November 2020 - 19:47 WIB
loading...
Volkswagen: Tak Ada...
Pabrik di Urumqi, Xinjiang, memproduksi 20.000 mobil per tahun. Foto/BBC
A A A
BEIJING - Volkswagen membela keputusannya terus mengoperasikan pabrik mobil di Xinjiang, China . Xinjiang diduga menjadi tempat pelanggaran hak asasi manusia (HAM) skala besar oleh otoritas China.

Ratusan ribu warga etnis Uighur dan minoritas lainnya diduga ditahan di kamp-kamp atau digunakan sebagai tenaga kerja paksa di pabrik-pabrik.

Tuduhan itu menyebabkan beberapa perusahaan multinasional memutuskan hubungan dengan Xinjiang, meskipun China bersikeras bahwa klaim tersebut tidak benar.

Pengkritik Volkswagen berpendapat bahwa perusahaan memiliki kewajiban moral tertentu untuk tidak terlibat dalam praktik semacam itu karena sejarahnya. (Baca Juga: China Akhirnya Beri Ucapan Selamat pada Biden dan Harris)

Volkswagen: Tak Ada Kerja Paksa di Pabrik Xinjiang


Volkswagen didirikan oleh Partai Nazi Jerman yang berkuasa pada 1937 dan menggunakan kerja paksa, termasuk para tahanan kamp konsentrasi, di pabriknya selama Perang Dunia II. (Lihat Infografis: KTT ASEAN Digelar di Tengah Pergolakan Kekuatan Global)

Namun dalam wawancara dengan BBC di Beijing, CEO Volkswagen di China, Stephan Wollenstein, membela kehadiran Volkswagen di ibu kota Xinjiang, Urumqi, China. (Lihat Video: Badai Topan Vamco Terjang Filipina, 32 Desa Terendam Banjir)

Di Xinjiang, Volkswagen menjalankan pabrik dengan 600 pekerja, memproduksi hingga 20.000 mobil per tahun.

"Apa yang terjadi di masa Nazi adalah sesuatu yang terjadi di pabrik kami di mana kami melakukan kerja paksa, orang-orang yang memproduksi mobil Volkswagen," ungkap dia mengakui sejarah masa lalu.

"Ini tentu saja situasi yang tidak dapat diterima. Oleh karena itu, kami memastikan bahwa tidak ada tempat produksi kami yang memiliki kerja paksa, dan ini adalah sesuatu yang secara khusus kami periksa di Urumqi dan saya jamin, kami tidak memiliki kerja paksa," papar dia.

Tetapi ketika ditanya apakah dia benar-benar yakin dengan klaim itu dan memberikan jaminan bahwa tidak ada tenaga kerja Urumqi yang pernah ditahan di kamp, Dr Wollenstein mengatakan dia tidak bisa menjaminnya. Urumqi terdiri atas sekitar 25% Uighur dan minoritas lainnya.

“Kami berusaha mengontrol proses-proses terkait perusahaan kami, termasuk proses SDM, yang misalnya, mempekerjakan orang dengan cara sebaik mungkin,” ungkap dia.

Dia menambahkan, "Dan ini mengurangi risiko bagi kami bahwa sesuatu terjadi yang tidak kami sukai dan yang tidak sesuai dengan standar kami. Tapi saya kira kami tidak akan pernah bisa mencapai kepastian 100%."
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Viral! Kebun Binatang...
Viral! Kebun Binatang China Cari Pemeran Beruang Hitam, Gajinya Rp263,6 Juta
Kerja Sama Yunani-China...
Kerja Sama Yunani-China Diperdebatkan, Legislator Tolak Status 'Mitra Lemah'
Jepang Sangkal Militernya...
Jepang Sangkal Militernya Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk China
China Bikin Replika...
China Bikin Replika Kapal Perang AS untuk Jadi Target Tes Rudal
LineShine Jadi Superkomputer...
LineShine Jadi Superkomputer Tercepat di Dunia, China Mampu Kalahkan AS
China Tuduh Militer...
China Tuduh Militer Jepang Mengganggu Latihan Tempur Kapal Induk Liaoning
Bukan Utang, Purbaya...
Bukan Utang, Purbaya Tegaskan Pendanaan AIIB Rp303 Triliun Murni Investasi
Teken Perjanjian Damai...
Teken Perjanjian Damai dengan AS, Dubes Iran: InsyaAllah Kita Dapat Perdamaian Permanen di Kawasan
Pakistan: Ada Pihak...
Pakistan: Ada Pihak yang Ingin Gagalkan Perdamaian AS-Iran
Rekomendasi
Demo Ricuh di Grahadi...
Demo Ricuh di Grahadi Surabaya, Belasan Pendemo Diduga Provokator Ditangkap
Pasar Potensial Industri...
Pasar Potensial Industri Pembiayaan, Chailease Finance Dukung Pertumbuhan UKM Bandung
Dembele Ukir Hat-trick...
Dembele Ukir Hat-trick Tercepat Kedua dalam Sejarah Piala Dunia
Berita Terkini
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan,...
Dunia Bantu Upaya Penyelamatan, Korban Tewas Gempa Venezuela Capai 589 Orang
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Hizbullah Sergap Unit...
Hizbullah Sergap Unit Israel di Beit Yahoun, 4 Tentara Zionis Terluka
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Singapura Marah Kapalnya...
Singapura Marah Kapalnya Diserang di Selat Hormuz
Iran Sebut Pernyataan...
Iran Sebut Pernyataan Bersama AS-GCC Provokatif, Serukan Zona Bebas Senjata Nuklir Timur Tengah
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved