AS Butuh Rudal Nuklir Baru Biayanya Rp1.411 Triliun

Selasa, 20 Oktober 2020 - 09:06 WIB
loading...
AS Butuh Rudal Nuklir...
Rudal balistik antarbenua Minuteman III Amerika Serikat saat diuji coba. AS Butuh rudal-rudal nuklir baru untuk gantikan rudal Minuteman III. Foto/REUTERS
A A A
WASHINGTON - Pentagon telah menaikkan perkiraan biaya hingga USD95,8 miliar (Rp1.411 triliun)untuk menerjunkan armada baru rudal nuklir berbasis darat Amerika Serikat (AS). Senjata-senjata berbahaya itu diperlukan untuk menggantikan persenjataan rudal Minuteman III yang telah beroperasi terus menerus selama 50 tahun.

Mengutip laporan AP, Selasa (20/10/2020), perkiraan biaya itu naik sekitar USD10 miliar dari empat tahun lalu. (Baca: Pembom H-6N China Terlihat Bawa Rudal Jelajah Hipersonik Misterius )

Senjata, yang dikenal sebagai rudal balistik antarbenua atau ICBM, dimaksudkan sebagai bagian dari hampir total penggantian kekuatan nuklir Amerika selama beberapa dekade mendatang dengan total biaya lebih dari USD1,2 triliun.

Beberapa pihak, termasuk mantan Menteri Pertahanan William J. Perry, berpendapat bahwa keamanan nasional AS dapat dijamin tanpa ICBM. Namun, Pentagon mengatakan bahwa ICBM penting untuk mencegah perang.

Pemerintahan Donald Trump menegaskan komitmennya untuk menerjunkan generasi baru ICBM dalam tinjauan kebijakan nuklir 2018. (Baca: AS Marah karena Turki Jajal Sistem Rudal S-400 Rusia )

"Pasukan ICBM sangat dapat bertahan melawan apapun kecuali serangan nuklir skala besar," bunyi tinjauan tersebut. "Untuk menghancurkan ICBM AS di darat, musuh perlu meluncurkan serangan yang terkoordinasi secara tepat dengan ratusan hulu ledak berkekuatan tinggi dan akurat. Ini adalah tantangan yang tidak dapat diatasi bagi setiap musuh potensial saat ini, kecuali Rusia."

Armada saat ini yang terdiri dari 400 rudal Minuteman, masing-masing dipersenjatai dengan satu hulu ledak nuklir, berbasis di silo bawah tanah di Montana, North Dakota, Colorado, Wyoming dan Nebraska. Jumlah mereka diatur sebagian oleh perjanjian New START 2010 dengan Rusia, yang akan berakhir pada Februari 2021.

Rusia ingin memperpanjang perjanjian New START, tetapi pemerintahan Trump telah menetapkan persyaratan yang tidak diterima oleh Moskow. (Baca juga: China Tempatkan Rudal Canggih Dekat Taiwan, Dikhawatirkan Persiapan Perang )

AS juga sedang membangun armada baru kapal selam rudal balistik untuk menggantikan kapal selam strategis kelas Ohio saat ini; pembom baru berkemampuan nuklir jarak jauh untuk menggantikan pesawat siluman B-2; rudal jelajah nuklir generasi baru yang diluncurkan dari udara; dan sistem komando dan komunikasi nuklir baru. Tak hanya itu, Amerika juga sedang mengerjakan hulu ledak yang diperbarui, termasuk penggantian hulu ledak ICBM dengan perkiraan USD14,8 miliar.

Program modernisasi nuklir diluncurkan oleh pemerintahan Barack Obama dan dilanjutkan oleh Presiden Donald Trump. Joe Biden, calon presiden dari Partai Demokrat mengatakan bahwa jika terpilih pada pemilihan presiden November nanti dia akan mempertimbangkan untuk menemukan cara untuk mengurangi program tersebut.

Estimasi biaya Pentagon sebesar USD95,8 miliar untuk penggantian Minuteman pertama kali dilaporkan oleh Bloomberg News. Pentagon memberikan perkiraan tersebut kepada Kongres bulan lalu tetapi, hingga Senin, menolak untuk merilisnya secara publik.

Bulan lalu Angkatan Udara memberi Northrop Grumman kontrak USD13,3 miliar untuk rekayasa dan pengembangan pembuatan rudal baru. Total biaya "siklus hidup", termasuk pengoperasian dan pemeliharaan rudal selama masa pakai yang diharapkan hingga tahun 2070-an, ditetapkan sebesar USD263,9 miliar.
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
Iran Kecam Perlakuan...
Iran Kecam Perlakuan Buruk AS di Piala Dunia: Tim yang Paling Ditindas
Iran dan Oman Tegaskan...
Iran dan Oman Tegaskan Komitmen Navigasi Maritim Aman melalui Selat Hormuz setelah Kesepakatan dengan AS
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Larangan Perangkat Lunak...
Larangan Perangkat Lunak AS Bikin Susah Banyak Produsen Mobil
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
8 Fakta Eton College,...
8 Fakta Eton College, Sekolah Elite Pilihan Pangeran George yang Biayanya Rp1,4 Miliar!
Rekomendasi
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Mahkamah Konstitusi...
Mahkamah Konstitusi Beri Waktu 2 Tahun untuk Revisi UU Advokat
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
Berita Terkini
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved