Normalisasi Hubungan Israel dengan Arab Tanda Diplomasi Palestina Telah Gagal

Minggu, 18 Oktober 2020 - 23:17 WIB
loading...
Normalisasi Hubungan...
Ilustrasi
A A A
RAMALLAH - Dimitri Diliani, anggota Pengawal Revolusi Fatah mengatakan, warga Palestina dulu bangga dengan pencapaian diplomasi mereka. Tapi, kejayaan masa lalu itu telah hilang, karena negara-negara Teluk lebih suka menandatangani kesepakatan dengan Israel.

Diliani mengatakan, masyarakat Palestina sangat marah dengan keputusan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain yang melakukan normalisasi hubungan dengan Israel. Tapi, ucap Diliani, yang lebih miris adalah Otoritas Palestina (PA) tidak berbuat apapun untuk mencegah hal ini.

(Baca: Palestina: UEA dan Bahrain Lebih Israel daripada Israel )

"Rakyat Palestina marah dan tidak menyetujui perjanjian normalisasi. Tetapi yang aneh adalah bahwa PA tidak melakukan apa pun untuk mencegah kesepakatan ini terjadi. Mereka bahkan belum berbicara dengan Abu Dhabi sejak 2014," ucap Diliani, seperti dilansir Sputnik.

"Dulu kami bangga dengan mesin diplomatik kami. Sekarang, tidak ada yang tersisa dari kejayaannya di masa lalu. Pencapaian terakhir diplomasi Palestina terjadi pada 2012, ketika PA diterima di PBB sebagai negara pengamat non-anggota," sambungnya.

Beberapa keuntungan juga telah diperoleh oleh kelompok-kelompok pro-Palestina yang mendorong Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk membuka penyelidikan atas dugaan kejahatan perang Israel di Tepi Barat dan Gaza. Kelompok pro Palestina juga memberi tekanan pada beberapa negara Eropa untuk memberi label produk-produk Israel.

(Baca: 4 Negara Arab yang Mengkhianati Perjuangan Palestina )

Namun, ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan pencapaian advokasi Israel. Meskipun negara Yahudi itu belum menginvestasikan banyak dana ke Kementerian Luar Negerinya, mengalihkan sebagian besar sumber daya negara ke aparat keamanan, negara itu berhasil mendapatkan dukungan dari beberapa pemain internasional. Ini sebagian karena hubungan pribadi antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan sebagian karena upaya diplomatik negara itu.

Sejak 2017 dan hingga saat ini, Israel telah berhasil menghasilkan sejumlah keuntungan yang mengesankan. Tak lama setelah Trump menjabat, dia mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota negara Yahudi, memindahkan kedutaan AS ke sana beberapa bulan kemudian dan mendorong negara lain untuk mengikutinya. Kemudian, pada 2019, pemerintahan Trump mengakui legalitas permukiman Yahudi di Tepi Barat yang disengketakan, bekerja untuk mempromosikan penyelesaian konflik Israel-Palestina dan mencoba menjembatani kesenjangan antara Israel dan negara-negara Teluk.

Diliani tidak meyakini bahwa kesepakatan normalisasi akan menghilangkan rencana aneksasi Israel. Dia juga tidak percaya bahwa pakta tersebut akan membawa manfaat ekonomi bagi Palestina, hanya karena keras kepala dan kebanggaan Ramallah.

(Baca: Aktivis: Israel Galang Dukungan Arab untuk Melegitimasi Kejahatan Mereka di Palestina )

"Kepemimpinan Palestina baik-baik saja, dengan menerima uang dari Israel dan Qatar. Tetapi, tidak akan mengambil sepeserpun dari UEA. Tetapi, keretakan dengan negara Teluk tidak ada hubungannya dengan kepentingan nasional, itu hanya dimotivasi oleh ketakutan Presiden Mahmoud Abbas terhadap Mohammed Dahlan," jelas Diliani.

Dahlan, yang pernah menjadi Kepala Keamanan Preventif Fatah di Gaza, harus melarikan diri dari wilayah itu setelah kudeta tahun 2007 yang menempatkan Hamas berkuasa. Meskipun Dahlan telah tinggal lama di UEA, Abbas, yang popularitasnya telah tenggelam selama beberapa tahun terakhir, selalu melihatnya sebagai saingan potensial.

Dan sementara Abbas prihatin dengan balas dendam pribadinya, Diliani memperingatkan bahwa Otoritas Palestina mungkin gagal memperhatikan kesepakatan potensial lain yang sedang dikerjakan Israel tepat di depan hidung mereka.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Sadisnya Tentara Israel,...
Sadisnya Tentara Israel, Tembak Mati Pria Palestina yang Sedang Tidur
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Prabowo Terima Telepon...
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Tegaskan Indonesia Berdiri Bersama Palestina
Pesawat Pembawa Penerjun...
Pesawat Pembawa Penerjun Payung Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
Kalahkan Jerman di Piala...
Kalahkan Jerman di Piala Dunia, Paraguay: Lebih dari Olahraga, Ini Hari Bersejarah!
Rekomendasi
Harry Kane Lewati Pele,...
Harry Kane Lewati Pele, Kini Bidik Rekor Messi di Piala Dunia
HUT ke-118, Ikatan Notaris...
HUT ke-118, Ikatan Notaris Indonesia Dorong Penegakan Etik dan Adaptasi Digital
Purbaya Dijadwalkan...
Purbaya Dijadwalkan Uji Coba Perbaikan Coretax Pekan Depan
Berita Terkini
Siapa Vadym Yermolaiev?...
Siapa Vadym Yermolaiev? Taipan Ukraina yang Terluka dalam Ledakan di Monako
Italia Blokir Bantuan...
Italia Blokir Bantuan Militer NATO kepada Ukraina Senilai Rp1.436 Triliun, Sinyal Kemenangan bagi Rusia?
Kurangi Ketergantungan...
Kurangi Ketergantungan Eropa dari AS, Mampukah Turki Ingin Memperkuat NATO 3.0?
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved