Hindari Pertumpahan Darah, Presiden Kyrgyzstan Mengundurkan Diri
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 01:48 WIB
loading...
A
A
A
Para pengunjuk rasa di ibu kota Bishkek merayakan keputusan Presiden Sooronbai Jeenbekov, tetapi tidak jelas apakah itu akan meredakan kerusuhan yang melanda negara itu sejak pekan lalu. Para demonstran dengan cepat menuntut agar parlemen dibubarkan dan penuturnya, yang berada di urutan berikutnya dalam urutan suksesi, juga mundur.
Parlemen harus secara resmi menyetujui pengunduran dirinya, dan Ketua Kanat Isayev, yang ditunjuk awal pekan ini, mengatakan kepada media lokal bahwa mereka akan bertemu hari ini untuk mempertimbangkannya. Menaikkan kemungkinan kekacauan politik lebih lanjut, Isayev mengatakan kepada outlet berita Kyrgyz 24.kg bahwa dia merasa tidak memiliki hak untuk mengambil alih kursi kepresidenan karena masa jabatan parlemen saat ini akan segera berakhir.
Negara berpenduduk 6,5 juta orang di perbatasan dengan China itu jatuh ke dalam kekacauan setelah pemilu parlemen pada 4 Oktober lalu menghasilkan kemenangan bagi partai-partai pro-pemerintah. Pihak oposisi mengatakan pemungutan suara dinodai oleh pembelian suara dan penyimpangan lainnya.
Para pengunjuk rasa kemudian mengambil alih gedung-gedung pemerintah, menjarah beberapa kantor, dan Komisi Pemilihan Pusat membatalkan pemilu. Pihak oposisi kemudian mengumumkan rencana untuk menggulingkan Jeenbekov dan membentuk pemerintahan baru.
Jeenbekov kemudian memberlakukan keadaan darurat di Bishkek, yang disahkan oleh parlemen pada Selasa. Pihak berwenang lantas mengerahkan pasukan ke Ibu Kota dan memberlakukan jam malam.(Baca juga: Demo Berlanjut, Presiden Kyrgyzstan Umumkan Keadaan Darurat )
Parlemen harus secara resmi menyetujui pengunduran dirinya, dan Ketua Kanat Isayev, yang ditunjuk awal pekan ini, mengatakan kepada media lokal bahwa mereka akan bertemu hari ini untuk mempertimbangkannya. Menaikkan kemungkinan kekacauan politik lebih lanjut, Isayev mengatakan kepada outlet berita Kyrgyz 24.kg bahwa dia merasa tidak memiliki hak untuk mengambil alih kursi kepresidenan karena masa jabatan parlemen saat ini akan segera berakhir.
Negara berpenduduk 6,5 juta orang di perbatasan dengan China itu jatuh ke dalam kekacauan setelah pemilu parlemen pada 4 Oktober lalu menghasilkan kemenangan bagi partai-partai pro-pemerintah. Pihak oposisi mengatakan pemungutan suara dinodai oleh pembelian suara dan penyimpangan lainnya.
Para pengunjuk rasa kemudian mengambil alih gedung-gedung pemerintah, menjarah beberapa kantor, dan Komisi Pemilihan Pusat membatalkan pemilu. Pihak oposisi kemudian mengumumkan rencana untuk menggulingkan Jeenbekov dan membentuk pemerintahan baru.
Jeenbekov kemudian memberlakukan keadaan darurat di Bishkek, yang disahkan oleh parlemen pada Selasa. Pihak berwenang lantas mengerahkan pasukan ke Ibu Kota dan memberlakukan jam malam.(Baca juga: Demo Berlanjut, Presiden Kyrgyzstan Umumkan Keadaan Darurat )
Lihat Juga :