Barang Milik Mantan Pemimpin Dunia Diburu Kolektor
Selasa, 13 Oktober 2020 - 07:01 WIB
loading...
A
A
A
Dalam pandangan, John Jay Pitman, seorang kolektor barang bersejarah, koleksi barang-barang memorabilia milik tokoh dunia merupakan investasi jangka panjang. Selama kariernya, dia mengaku bisa mendapatkan USD30 juta dari penjualan barang bersejarah yang pernah dikoleksinya. Salah satu koleksi bersejarah yang pernah dikumpulnyanya adalah koin Raja Farouk dari Mesir. Bahkan, dia rela menjual rumahnya demi bisa pergi ke Mesir untuk berburu benda bersejarah. (Baca juga: PSBB Diperpanjang, Sekolah di Jakarta Belum Bisa Terapkan Tatap Muka)
Dalam pandangan James L Haperin, pakar kolektor bersejarah, mengoleksi dokumen bersejarah merupakan insting dasar manusia untuk mendapatkan keuntungan. Dia pernah mengoleksi buku komik roman 1950 hingga kini yang dianggapnya sebagai tujuan jangka panjang. "Semua orang bisa menjadi kolekor, asalkan memiliki prioritas dan kesadaran diri tentang kejujuran. Koleksi tersebut juga bisa menjadi pengingat dalam kehidupan," katanya.
Namun demikian, kritikus seni Robert Storr mengungkapkan, seharusnya barang langka tidak hanya dibajak oleh para kolektor semata. Namun, publik harus bisa mengakses barang langka tersebut. "Kolektor memiliki semangat tertentu terhadap koleksinya, tetapi staf museum memiliki kemampuan untuk menulis ulang dan membandingkan wacana sejarah,"katanya.
Pasar Gelap
Sementara di Hong Kong, warisan peninggalan, Mao Zedong, yang hilang September lalu akhirnya ditemukan, Rabu (7/10) lalu. Barang pribadi pendiri Republik Rakyat China itu diduga kuat dijual di pasar gelap dengan nilai jutaan dolar. Namun, beberapa barang tidak lagi seperti aslinya sehingga nilainya turun drastis.
Gulungan catatan Mao Zedong yang ditulis tangan ditemukan sudah terbelah menjadi dua. Tersangka sengaja memotongnya agar lebih mudah dibawa dan dijual, namun dengan harga yang lebih murah. Catatan yang membentang hingga 2,8 meter itu dicuri dari seorang kolektor di daratan utama China pada bulan lalu.
“Nilainya benar-benar terdampak,” ujar kolektor Fu Chunxiao yang senang mengoleksi karya seni revolusioner, dikutip BBC. (Baca juga: Tips Aman ke Dokter Gigi Selama Covid-19)
Dalam pandangan James L Haperin, pakar kolektor bersejarah, mengoleksi dokumen bersejarah merupakan insting dasar manusia untuk mendapatkan keuntungan. Dia pernah mengoleksi buku komik roman 1950 hingga kini yang dianggapnya sebagai tujuan jangka panjang. "Semua orang bisa menjadi kolekor, asalkan memiliki prioritas dan kesadaran diri tentang kejujuran. Koleksi tersebut juga bisa menjadi pengingat dalam kehidupan," katanya.
Namun demikian, kritikus seni Robert Storr mengungkapkan, seharusnya barang langka tidak hanya dibajak oleh para kolektor semata. Namun, publik harus bisa mengakses barang langka tersebut. "Kolektor memiliki semangat tertentu terhadap koleksinya, tetapi staf museum memiliki kemampuan untuk menulis ulang dan membandingkan wacana sejarah,"katanya.
Pasar Gelap
Sementara di Hong Kong, warisan peninggalan, Mao Zedong, yang hilang September lalu akhirnya ditemukan, Rabu (7/10) lalu. Barang pribadi pendiri Republik Rakyat China itu diduga kuat dijual di pasar gelap dengan nilai jutaan dolar. Namun, beberapa barang tidak lagi seperti aslinya sehingga nilainya turun drastis.
Gulungan catatan Mao Zedong yang ditulis tangan ditemukan sudah terbelah menjadi dua. Tersangka sengaja memotongnya agar lebih mudah dibawa dan dijual, namun dengan harga yang lebih murah. Catatan yang membentang hingga 2,8 meter itu dicuri dari seorang kolektor di daratan utama China pada bulan lalu.
“Nilainya benar-benar terdampak,” ujar kolektor Fu Chunxiao yang senang mengoleksi karya seni revolusioner, dikutip BBC. (Baca juga: Tips Aman ke Dokter Gigi Selama Covid-19)
Lihat Juga :