Pilpres Amerika Serikat, Trump Masih Punya Kesempatan Menang

Senin, 12 Oktober 2020 - 10:15 WIB
loading...
A A A
Pada 2016, Trump merebut Gedung Putih dengan menghasilkan suara mayoritas dari elektoral, meskipun terdapat tiga juta warga AS memilih Hillary Clinton berdasarkan suara populer. (Baca juga: Dua Sekolah di Solo Gelar Simulasi Pembelajaran Tatap Muka)

Pemilu AS memiliki mitos yang melegenda dari pemilu ke pemilu lain. Apa itu? “Demokrat akan selalu memenangkan suara populer. Namun, banyak orang tidak ingin mengubah suara elektoral karena Partai Republik tidak ingin menghilangkan keseimbangan,” kata Wegman dilansir The New York Times.

Suara elektoral dianggap oleh para pendiri negara AS sebagai karya suci konstitusional yang jenius. Para pendiri AS bertarung seperti kucing dan anjing untuk menentukan bagaimana presiden dipilih. Dulu karena dipengaruhi oleh sistem perbudakan di mana negara bagian yang menganut sistem perbudakan tidak ingin suara populer.
“Sistem elektoral merupakan legasi dari sistem perbudakan yang masih dijalankan hingga saat ini,” kata Wegman.

Mitos yang pada sistem elektoral adalah menjaga negara bagian yang kecil. Kenapa? Dengan suara populer, maka California dan New York akan mendominasi pemilu. Suara dari negara bagian yang kecil, seperti Rhode Island dan Wyoming pun akan terabaikan. Tapi, mitos itu tak selamanya benar. Florida, Pennsylvania, dan Michigan bukan negara bagian kecil, tetapi mereka menjadi swing state. Perhatian pemilu AS juga selalu pada negara bagian yang belum jelas memberikan suara pada pemilu AS tersebut. (Lihat videonya: Pengelola Kantor Wajib Mematuhi Protokol Kesehatan)

Wegman tetap beranggapan pemilu seharusnya diberikan kepada pemenang yang mendapatkan suara terbanyak, bukan suara elektoral. “Itu menyangkut keadilan paling dasar,” katanya. Biarkan seluruh rakyat yang memberikan suara untuk menentukan presiden. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
2 Helikopter Tabrakan...
2 Helikopter Tabrakan di Rio de Janeiro Tewaskan 6 Orang, Termasuk Penyanyi Oliver Tree
Anggota Kongres AS:...
Anggota Kongres AS: Kesepakatan dengan Iran Adalah Kekalahan Trump dan Amerika!
Ini Poin-poin Penting...
Ini Poin-poin Penting Kesepakatan AS-Iran, Diteken di Jenewa Jumat Mendatang
AS dan Iran Capai Kesepakatan,...
AS dan Iran Capai Kesepakatan, Perang Berakhir
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Menteri Israel Serukan...
Menteri Israel Serukan Penculikan dan Penyanderaan Wanita dan Pemuda Lebanon untuk Tekan Hizbullah
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Smotrich Serukan Penghancuran Gedung-Gedung di Ibu Kota Beirut
Rekomendasi
Jerman Unggul atas Curacao...
Jerman Unggul atas Curacao 3-1 di Babak Pertama, Tim Debutan Sempat Bikin Kejutan
Selamat Tahun Baru Islam...
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
WNI Dianiaya di Malaysia,...
WNI Dianiaya di Malaysia, Kemlu Sebut 4 Pelaku Sudah Diamankan
Berita Terkini
2 Helikopter Tabrakan...
2 Helikopter Tabrakan di Rio de Janeiro Tewaskan 6 Orang, Termasuk Penyanyi Oliver Tree
Anggota Kongres AS:...
Anggota Kongres AS: Kesepakatan dengan Iran Adalah Kekalahan Trump dan Amerika!
Ini Poin-poin Penting...
Ini Poin-poin Penting Kesepakatan AS-Iran, Diteken di Jenewa Jumat Mendatang
AS dan Iran Capai Kesepakatan,...
AS dan Iran Capai Kesepakatan, Perang Berakhir
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Infografis
IRGC Siapkan Jebakan...
IRGC Siapkan Jebakan Maut untuk Armada Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved