Rusia Pilih Trump, China Dukung Biden
Jum'at, 02 Oktober 2020 - 14:15 WIB
loading...
A
A
A
Joe Biden mengatakan akan ada "harga yang dibayar" jika Rusia terus melakukan campur tangan. Dia menyebut Rusia sebagai "lawan" dari Amerika Serikat. Menariknya, dalam debat yang berlangsung beberapa waktu lalu, Biden menuding Trump sebagai “boneka” pemimpin Rusia.
“Faktanya saya akan berhadapan langsung dengan Putin dan menjelaskan kepada dia bahwa kita tidak akan tunduk kepadanya,” kata Biden dilansir Reuters. “Dia (Trump) adalah bonek Putin. Dia menolak untuk mengatakan apapun kepada putin tentang karunia kepala tentara AS,” paparnya.
Presiden Trump seringkali meremehkan tuduhan campur tangan Rusia, yang membuatnya berseberangan dengan para ahli intelijennya sendiri. Setelah KTT tahun 2018 dengan Vladimir Putin, dia ditanya apakah dirinya lebih mempercayai komunitas intelijen AS atau presiden Rusia tentang tuduhan campur tangan Rusia. Trump mengatakan: "Presiden Putin mengatakan pelakunya bukan Rusia. Saya tak melihat alasan mengapa harus Rusia." Dia kemudian membuat klarifikasi bahwa ia salah berbicara.
Bagaimana dengan China? China lebih memilih Joe Biden karena Partai Demokrat memiliki kebijakan yang lunak kepada China. Beijing juga sudah bosan berkonflik dengan Trump yang kerap melancarkan retorika anti-China.
Seperti dijelaskan William evanina, pejabat intelijena menyatakan kalau China memang menginginkan Trump kalah pada pemilu. Bahkan, mantan duta besar PBB dan mantan gubernur South Carolina Nikki Haley mengatakan Biden akan menjadi keuntungan besar bagi China. (Baca juga: Penggunaan Masker Kurangi Risiko Tertular Covid-19)
Media milik pemerintah China juga kerap menyebut Biden lebih “lunak” dalam bernegosiasi dengan Beijing. Biden bisa membangun ruang untuk kerja sama dalam berbagai isu seperti perubahan iklim dan kerja sama perlucutan senjata nuklir. Biden bisa bisa bernegosiasi untuk mengakhiri perang dagang yang digaungkan Trump.
“Faktanya saya akan berhadapan langsung dengan Putin dan menjelaskan kepada dia bahwa kita tidak akan tunduk kepadanya,” kata Biden dilansir Reuters. “Dia (Trump) adalah bonek Putin. Dia menolak untuk mengatakan apapun kepada putin tentang karunia kepala tentara AS,” paparnya.
Presiden Trump seringkali meremehkan tuduhan campur tangan Rusia, yang membuatnya berseberangan dengan para ahli intelijennya sendiri. Setelah KTT tahun 2018 dengan Vladimir Putin, dia ditanya apakah dirinya lebih mempercayai komunitas intelijen AS atau presiden Rusia tentang tuduhan campur tangan Rusia. Trump mengatakan: "Presiden Putin mengatakan pelakunya bukan Rusia. Saya tak melihat alasan mengapa harus Rusia." Dia kemudian membuat klarifikasi bahwa ia salah berbicara.
Bagaimana dengan China? China lebih memilih Joe Biden karena Partai Demokrat memiliki kebijakan yang lunak kepada China. Beijing juga sudah bosan berkonflik dengan Trump yang kerap melancarkan retorika anti-China.
Seperti dijelaskan William evanina, pejabat intelijena menyatakan kalau China memang menginginkan Trump kalah pada pemilu. Bahkan, mantan duta besar PBB dan mantan gubernur South Carolina Nikki Haley mengatakan Biden akan menjadi keuntungan besar bagi China. (Baca juga: Penggunaan Masker Kurangi Risiko Tertular Covid-19)
Media milik pemerintah China juga kerap menyebut Biden lebih “lunak” dalam bernegosiasi dengan Beijing. Biden bisa membangun ruang untuk kerja sama dalam berbagai isu seperti perubahan iklim dan kerja sama perlucutan senjata nuklir. Biden bisa bisa bernegosiasi untuk mengakhiri perang dagang yang digaungkan Trump.
Lihat Juga :