Jepang Darurat Bunuh Diri
Rabu, 30 September 2020 - 14:15 WIB
loading...
A
A
A
Ahli kesehatan internasional sebelumnya juga cemas akan terjadi krisis kesehatan mental global selama wabah Covid-19 akibat kehilangan pekerjaan, isolasi sosial, dan resesi ekonomi. Di Amerika Serikat dan Kanada, jumlah panggilan terhadap nomor darurat atau layanan konsultasi kesehatan mental juga meningkat sangat tajam selama pandemi. (Baca juga: Saatnya Menjadi Tuan Rumah Industri Halal)
Namun, Okamoto mengatakan tidak semua orang di Jepang putus asa dan langsung mengakhiri hidupnya, melainkan ada faktor lain yang memiliki peranan sangat besar. Untuk studi di Jepang, para ahli menganalisis data bunuh diri dalam empat tahun terakhir. Mereka mengatakan pandemi Covid-19 kian memperburuk kesehatan mental masyarakat.
Secara kasus, jumlah korban bunuh diri tahun ini di Jepang memang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Penurunan terbesar terjadi di kalangan laki-laki usia 20-69 orang, yakni sebesar 12%. Namun, tak sedikit masyarakat Jepang yang stres dan depresi. Mereka diyakini perlu segera menerima bimbingan konsultasi sebelum kejiwaan mereka memburuk.
Angka bunuh diri di kalangan perempuan masih memprihatinkan. Meskipun jumlah kasusnya menurun sekitar 7%, para ahli menilai mereka sensitif karena menjadi kelompok paling rentan. Selain mudah kehilangan pekerjaan, beberapa perempuan di Jepang juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan memilih menghilangkan jejak. (Lihat videonya: Habiskan 300M, Proyek Kota Baru Lampung Kini Jadi Kota Mati)
Jepang merupakan negara kelima dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia di antara negara maju lainnya. Penelitian menyebutkan faktor utama penurunan kesehatan mental orang Jepang ialah stres akibat pekerjaan berlebih dan pengucilan. Menurut Okamoto, situasi di Jepang tidak dapat disamakan. Sebab, Jepang memiliki budaya yang berbeda. (Muh Shamil)
Namun, Okamoto mengatakan tidak semua orang di Jepang putus asa dan langsung mengakhiri hidupnya, melainkan ada faktor lain yang memiliki peranan sangat besar. Untuk studi di Jepang, para ahli menganalisis data bunuh diri dalam empat tahun terakhir. Mereka mengatakan pandemi Covid-19 kian memperburuk kesehatan mental masyarakat.
Secara kasus, jumlah korban bunuh diri tahun ini di Jepang memang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Penurunan terbesar terjadi di kalangan laki-laki usia 20-69 orang, yakni sebesar 12%. Namun, tak sedikit masyarakat Jepang yang stres dan depresi. Mereka diyakini perlu segera menerima bimbingan konsultasi sebelum kejiwaan mereka memburuk.
Angka bunuh diri di kalangan perempuan masih memprihatinkan. Meskipun jumlah kasusnya menurun sekitar 7%, para ahli menilai mereka sensitif karena menjadi kelompok paling rentan. Selain mudah kehilangan pekerjaan, beberapa perempuan di Jepang juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan memilih menghilangkan jejak. (Lihat videonya: Habiskan 300M, Proyek Kota Baru Lampung Kini Jadi Kota Mati)
Jepang merupakan negara kelima dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia di antara negara maju lainnya. Penelitian menyebutkan faktor utama penurunan kesehatan mental orang Jepang ialah stres akibat pekerjaan berlebih dan pengucilan. Menurut Okamoto, situasi di Jepang tidak dapat disamakan. Sebab, Jepang memiliki budaya yang berbeda. (Muh Shamil)
(ysw)
Lihat Juga :