Diancam Armenia dengan Rudal Iskander Rusia, Ini Respons Azerbaijan

loading...
Diancam Armenia dengan Rudal Iskander Rusia, Ini Respons Azerbaijan
Penembakan artileri Azerbaijan di Nagorno-Karabakh dalam dokumen foto dan video yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Azerbaijan, 28 September 2020. Foto/Handout via REUTERS
YEREVAN - Armenia mengancam akan mengerahkan sistem rudal Iskander-M buatan Rusia untuk menyerang Azerbaijan dalam perang di Nagorno-Karabakh . Senjata itu akan dioperasikan jika Turki mulai menggunakan pesawat jet tempur F-16 buatan Amerika Serikat (AS) untuk membela Azerbaijan.

Pihak Azerbaijan telah merspons ancaman tersebut. Menteri Luar Negeri Jeyhun Bayramov mengatakan kepada Sputniknews bahwa Baku memiliki respons yang proporsional untuk digunakan jika Armenia menggunakan sistem rudal Iskander-M. (Baca: Perang Nagorno-Karabakh, Azerbaijan Menyerang dengan F-16 Turki, Puluhan Tewas )

"Sayangnya, apa pun bisa diekspektasikan dari Armenia. Sulit bagi saya untuk berkomentar dari sudut pandang militer, tanggapan apa yang akan diberikan....Saya yakin pasukan Azerbaijan memiliki respons yang memadai," kata menteri itu, ketika ditanya respons negaranya jika Armenia menggunakan sistem rudal buatan Rusia tersebut.

(Baca juga : Gadis India Meninggal di Rumah Sakit setelah Diperkosa Beramai-ramai )

Ancaman penggunaan sistem misil Iskander-M sebelumnya dilontarkan Duta Besar Armenia untuk Rusia Vardan Toganyan dalam wawancaranya dengan kantor berita RIA yang dilansir Selasa (29/9/2020). Menurutnya, sejauh ini pihak Armenia memiliki sistem pertahanan udara yang cukup untuk melumpuhkan drone Turki dan Azerbaijan.

(Baca juga : Racuni 25 Siswa, Guru TK Divonis Hukuman Mati )



Nagorno-Karabakh adalah wilayah otonomi yang telah memerdekakan diri dari Azerbaijan. Wilayah itu dihuni etnis Armenia serta telah menjadi sekutu Armenia. Namun, Azerbaijan yang dibela Turki masih menganggap Nagorno-Karabakh bagian dari wilayahnya.

Perang di Nagorno-Karabakh pecah mulai hari Minggu dan berlanjut hingga Senin kemarin. Pihak Armenia menuduh Azerbaijan menggunakan jet tempur F-16 Turki untuk menyerang pasukannya dan pasukan Nagorno-Karabakh. Puluhan orang tewas dalam konflik tersebut. (Baca: Perang Armenia dengan Azerbaijan, Ini Perbandingan Kekuatan Militernya )

“Pimpinan militer telah berulang kali menyatakan bahwa jika pedang Damocles dalam bentuk F-16 Turki menggantung di atas rakyat Nagorno-Karabakh, semua tindakan akan diambil, termasuk Iskander. Artinya, Angkatan Bersenjata Armenia harus menggunakan seluruh persenjataannya untuk memastikan keamanan," ancam Toganyan.

Pihak Armenia mengklaim bahwa 4.000 militan bertempur di pihak Azerbaijan, yang telah dipindahkan Turki dari Suriah. Namun, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menepis klaim tersebut.



Sekadar diketahui, sistem misil taktis Iskander pertama kali terlihat di Yerevan pada 16 September 2016 saat parade militer untuk memperingati ulang tahun ke-25 kemerdekaan Armenia. Pada musim dingin 2016-2017, sejumlah pejabat Armenia, termasuk Presiden Serzh Sargsyan, secara resmi mengonfirmasi bahwa militer republik itu memiliki kompleks sistem rudal buatan Rusia tersebut. (Baca juga: Perang Armenia dengan Azerbaijan Berlanjut, Senjata Berat Dikerahkan )

Juru bicara Kementerian Pertahanan Armenia Artsrun Hovhannisyan mengatakan dalam jumpa pers hari Senin bahwa Yerevan dapat menggunakan persenjataan berat jika "logika pertempuran" menyerukannya.

Sebaliknya, Menteri Luar Negeri Azeri Jeyhun Bayramov menanggapi dengan mengatakan bahwa Baku memiliki tanggapan yang memadai siap untuk segala potensi eskalasi dari pihak Armenia. Namun, dia tidak memberikan penjelasan spesifik tentang respons yang akan diambil.

Presiden Armenia Armen Sarkissian menuduh Turki secara langsung memasok Baku dengan drone kelas militer, tentara bayaran, dan bahkan jet tempur F-16. Namun, Azerbaijan menyatakan bahwa Turki tidak ikut serta dalam pertempuran apa pun di Nagorno-Karabakh.

Ankara sendiri secara terbuka mendukung serangan terbaru yang diluncurkan oleh pasukan Azerbaijan pada hari Minggu, meskipun banyak seruan dari sekutunya dalam aliansi NATO yang dipimpin Amerika Serikat (AS) untuk menahan diri.
(min)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top