China Perluas Pengaruh di Kirgizstan, Warga Khawatir soal Kedaulatan

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:50 WIB
loading...
China Perluas Pengaruh...
Meningkatnya kehadiran pekerja dan investasi China di Kirgizstan memicu kekhawatiran warga terkait kedaulatan negara di Asia Tengah tersebut. Foto/RFERL
A A A
JAKARTA - Meningkatnya kehadiran pekerja dan investasi China di Kirgizstan semakin sulit diabaikan. Di satu sisi, pemerintah menilai keterlibatan Beijing penting untuk mendorong pembangunan.

Namun di sisi lain, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan dampaknya terhadap lapangan kerja, sumber daya alam, hingga kedaulatan negara.

Baca Juga: Media China Gambarkan Orang Filipina sebagai Monyet, Manila Marah

Mengutip dari Radio Free Europe Radio Liberty, Selasa (21/7/2026), data Departemen Konsuler Kementerian Luar Negeri Kirgizstan menunjukkan negara itu telah menerbitkan sekitar 61.000 visa kerja pada paruh pertama 2026. Sekitar 60 persen di antaranya diberikan kepada warga negara China.

Lonjakan pekerja tersebut merupakan bagian dari ekspansi ekonomi China di negara Asia Tengah itu. Dalam tiga tahun terakhir, hampir 7.000 perusahaan, asosiasi, dan organisasi asal China telah terdaftar di Kirgizstan.

Perusahaan-perusahaan China kini terlibat dalam berbagai proyek besar di sektor infrastruktur, pertambangan, dan energi, termasuk proyek yang mencakup penyewaan lahan negara hingga 49 tahun.

China juga menjadi kreditur bilateral terbesar Kirgizstan. Export-Import Bank of China memegang sekitar USD1,6 miliar atau 28 persen dari total utang publik luar negeri Kirgizstan yang mencapai USD8,9 miliar.

Bagi negara berpenduduk lebih dari 7 juta jiwa yang ratusan ribu warganya bekerja di luar negeri—terutama di Rusia—dan bergantung pada remitansi, kedatangan puluhan ribu pekerja asal China menjadi isu yang sensitif. Kekhawatiran mengenai lapangan kerja, kepemilikan lahan, eksploitasi sumber daya alam, hingga kedaulatan nasional pun semakin menguat.

Insiden Kecil, Reaksi Besar


Sentimen tersebut semakin terlihat di media sosial. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah video yang melibatkan warga negara China beredar luas dan memicu kontroversi nasional.

Salah satu video memperlihatkan dugaan penggunaan peralatan listrik untuk menangkap ikan di kawasan lindung Arpa. Video lain menunjukkan wisatawan asal China berenang di kawasan terlarang di pesisir Danau Issyk-Kul, wilayah yang tidak boleh diakses warga setempat. Di media sosial juga beredar tuduhan bahwa warga China menangkap burung liar secara ilegal.

Insiden-insiden tersebut memicu kritik terhadap dugaan perlakuan istimewa bagi warga China dan penegakan hukum yang dinilai tidak setara.

Perdebatan semakin meluas ketika sebuah unggahan Facebook mempertanyakan, "Apakah China sedang mengambil alih Kirgizstan?" setelah mempublikasikan dokumen registrasi organisasi Association for Peaceful Reunification of Central Asia and China.

Kritik lain menyasar kebijakan bebas visa. Sejumlah pengguna media sosial menyindir Presiden Sadyr Japarov karena dinilai memberi kemudahan bagi warga China, sementara warga Kirgizstan masih memerlukan visa untuk bepergian ke China.

Pemerintah Dinilai Kurang Transparan


Ilmuwan politik Venera Saipidin menilai pemerintah belum mampu meredakan keresahan publik karena minimnya transparansi mengenai migrasi tenaga kerja asal China.

Menurutnya, pemerintah seharusnya menjelaskan secara terbuka berapa banyak warga China yang masuk dan berapa yang telah meninggalkan Kirgizstan.

"Jika tidak, perdebatan yang tidak jelas akan terus meningkat setiap hari," ujarnya.

Analis politik Kuban Abdymen juga mengingatkan bahwa pemerintah perlu menegakkan hukum secara setara terhadap seluruh warga negara asing agar tidak muncul kesan bahwa warga China mendapat perlakuan khusus.

Kontroversi mengenai peran China kembali mencuat setelah aktivis dan politikus Mavlyan Askarbekov ditahan usai mengkritik meningkatnya kehadiran warga China di Kirgizstan, termasuk keterlibatan mereka dalam usaha kecil dan menengah. Otoritas menuduhnya menghasut kebencian berdasarkan etnis, nasionalitas, agama, dan wilayah. Hingga kini, dia masih menjalani penahanan prapersidangan.

Sehari setelah penahanan tersebut, Presiden Sadyr Japarov membela penggunaan tenaga kerja asing dalam proyek-proyek besar dan mengkritik pihak-pihak yang dianggap melebih-lebihkan pengaruh China.

Menurut Japarov, Kirgizstan masih membutuhkan bantuan negara lain untuk proyek-proyek yang memerlukan keahlian teknis, pengalaman, dan tenaga ahli yang belum tersedia di dalam negeri. Jika seluruh proyek hanya mengandalkan kemampuan sendiri, pembangunan bisa memakan waktu 15 hingga 20 tahun.

Investasi atau Persoalan Keamanan?


Meski pemerintah terus membela investasi China sebagai kebutuhan pembangunan, sejumlah pengamat menilai persoalan utamanya terletak pada minimnya pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan.

Editor Global Voices sekaligus pakar China dan Asia Tengah, Filip Noubel, mengatakan banyak proyek diputuskan oleh elite di Bishkek tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun aspirasi masyarakat lokal.

“Situasi tersebut membuat investasi China semakin mudah dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kepentingan nasional dan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok nasionalis,” ucapnya.

Noubel juga menilai kondisi itu mendorong apa yang disebutnya sebagai securitization investasi China, yakni ketika perlindungan terhadap pekerja dan perusahaan China tidak lagi sekadar menjadi urusan bisnis, tetapi berubah menjadi bagian dari kerja sama keamanan antarnegara.

Meski Japarov berulang kali membela kebijakan terkait China, meningkatnya kemarahan publik di media sosial akhirnya mendorong pemerintah mengambil langkah.

Pada 14 Juli, pemerintah mulai memberikan pengarahan kepada pekerja konstruksi asing mengenai kepatuhan terhadap hukum Kirgizstan setelah muncul dugaan penangkapan ikan ilegal, perburuan liar, gangguan ketertiban umum, hingga konsumsi alkohol di ruang publik.

Di hari yang sama, blogger yang dikenal dekat dengan pemerintahan Japarov mengunggah paspor seorang warga negara China yang dituduh melakukan penangkapan ikan ilegal dan mengeklaim orang tersebut telah dideportasi.

Secara terpisah, Kementerian Kehakiman Kirgizstan mencabut registrasi organisasi Association for Promoting the Peaceful Reunification of Central Asia and China yang sebelumnya menjadi sasaran kritik luas di media sosial. Namun, kementerian belum menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Langka, Kapal Perang...
Langka, Kapal Perang China Latihan Tembak di Dalam ZEE Jepang
Filipina dan China Bentrok,...
Filipina dan China Bentrok, 1 Tentara Terluka
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
China Ungguli AS dalam...
China Ungguli AS dalam Popularitas Global, Xi Jinping Dianggap Lebih Positif daripada Trump
Trump Tuduh China Ikut...
Trump Tuduh China Ikut Campur Pemilu AS: Kompromi Data Terbesar dalam Sejarah!
China Investasikan Rp900...
China Investasikan Rp900 Triliun untuk Pelabuhan Afrika, Analis Soroti Risiko Utang
Mengancam Bumi, China...
Mengancam Bumi, China Siap Pindahkan Asteroid 2015 XF261
Profil Andy Burnham,...
Profil Andy Burnham, PM Baru Inggris
Terungkap! AS Beri Syarat...
Terungkap! AS Beri Syarat Saudi Berdamai dengan Israel untuk Lanjutkan Perjanjian Nuklir
Rekomendasi
Perjalanan Rapat Istana...
Perjalanan Rapat Istana Sempat Tertunda, Mentan Amran Turun Tangan Selamatkan Korban Kecelakaan
Momen Keakraban Cak...
Momen Keakraban Cak Imin, Dasco, dan Angela Tanoesoedibjo di Harlah ke-28 PKB
Pertamina Trans Kontinental...
Pertamina Trans Kontinental Ajak Siswa Lestarikan Ekosistem Laut
Berita Terkini
Getol Kritik Netanyahu,...
Getol Kritik Netanyahu, Wali Kota New York Mamdani dan Istri Terima Ancaman Pembunuhan
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
Selamat dari Serangan...
Selamat dari Serangan di Selat Hormuz, 3 Pelaut Thailand Gugat Pemilik Kapal
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved