Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
Rabu, 15 Juli 2026 - 10:07 WIB
loading...
A
A
A
Investigasi tersebut sebelumnya mendokumentasikan dugaan intimidasi, pengawasan, dan tekanan terhadap aktivis Uyghur, Tibet, Hong Kong, serta pembangkang China di 23 negara.
Salah satu contoh yang disebut adalah upaya terhadap koordinator proyek ICIJ, Scilla Alecci, yang menerima email dari seseorang yang mengaku sebagai mantan pegawai pengadilan di Beijing yang ingin membocorkan informasi penting.
Namun tautan yang dikirim ternyata dirancang untuk memberikan akses kepada pelaku ke akun Gmail korban tanpa memerlukan kata sandi.
Menurut laporan tersebut, metode serupa juga digunakan terhadap jurnalis pertahanan, pejabat Taiwan, dan aktivis hak asasi manusia melalui identitas palsu yang mengatasnamakan jurnalis maupun perusahaan konsultan fiktif.
Citizen Lab menyebut praktik semacam ini sebagai bentuk digital transnational repression atau represi digital lintas negara, yakni penggunaan teknologi untuk menghambat aktivitas politik, advokasi, dan jurnalisme di luar wilayah nasional.
Doddi mengutip data Freedom House yang mencatat sedikitnya 1.219 insiden represi lintas negara secara fisik antara 2014 hingga 2024, termasuk penculikan, serangan, dan pemulangan paksa.
Menurut organisasi tersebut, China disebut bertanggung jawab atas 272 kasus, jumlah tertinggi dibanding negara lain.
Namun menurut Doddi, tekanan terhadap komunitas diaspora kini semakin banyak dilakukan melalui sarana digital.
Laporan lain dari media Taiwan, The News Lens, menggambarkan situasi tersebut sebagai "panoptikon digital" yang ditandai oleh phishing, doxxing, infiltrasi media sosial, serta ancaman terhadap anggota keluarga yang masih berada di China.
Tibet Action Institute juga sebelumnya memperingatkan bahwa aplikasi seperti WeChat dapat menjadi sarana pengawasan terhadap komunitas diaspora.
Pada hari yang sama dengan publikasi laporan Citizen Lab dan ICIJ, Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan ekstradisi seorang warga negara China bernama Xu Zewei dari Italia.
Salah satu contoh yang disebut adalah upaya terhadap koordinator proyek ICIJ, Scilla Alecci, yang menerima email dari seseorang yang mengaku sebagai mantan pegawai pengadilan di Beijing yang ingin membocorkan informasi penting.
Namun tautan yang dikirim ternyata dirancang untuk memberikan akses kepada pelaku ke akun Gmail korban tanpa memerlukan kata sandi.
Menurut laporan tersebut, metode serupa juga digunakan terhadap jurnalis pertahanan, pejabat Taiwan, dan aktivis hak asasi manusia melalui identitas palsu yang mengatasnamakan jurnalis maupun perusahaan konsultan fiktif.
Citizen Lab menyebut praktik semacam ini sebagai bentuk digital transnational repression atau represi digital lintas negara, yakni penggunaan teknologi untuk menghambat aktivitas politik, advokasi, dan jurnalisme di luar wilayah nasional.
Dari Serangan Fisik ke Tekanan Digital
Doddi mengutip data Freedom House yang mencatat sedikitnya 1.219 insiden represi lintas negara secara fisik antara 2014 hingga 2024, termasuk penculikan, serangan, dan pemulangan paksa.
Menurut organisasi tersebut, China disebut bertanggung jawab atas 272 kasus, jumlah tertinggi dibanding negara lain.
Namun menurut Doddi, tekanan terhadap komunitas diaspora kini semakin banyak dilakukan melalui sarana digital.
Laporan lain dari media Taiwan, The News Lens, menggambarkan situasi tersebut sebagai "panoptikon digital" yang ditandai oleh phishing, doxxing, infiltrasi media sosial, serta ancaman terhadap anggota keluarga yang masih berada di China.
Tibet Action Institute juga sebelumnya memperingatkan bahwa aplikasi seperti WeChat dapat menjadi sarana pengawasan terhadap komunitas diaspora.
Kasus Xu Zewei dan Model Kontraktor Siber
Pada hari yang sama dengan publikasi laporan Citizen Lab dan ICIJ, Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan ekstradisi seorang warga negara China bernama Xu Zewei dari Italia.
Lihat Juga :