China Diduga Berupaya Perluas Ekspansi Senjata ke Timur Tengah via Pakistan
Sabtu, 04 Juli 2026 - 11:21 WIB
loading...
China diduga berupaya perluas ekspansi senjata ke Timur Tengah melalui Pakistan. Foto/Army Recognition
A
A
A
JAKARTA - Hubungan pertahanan antara Pakistan dan China dinilai memasuki babak baru yang melampaui kerja sama bilateral.
Menurut Imran Khurshid, analis geopolitik dari International Centre for Peace Studies (ICPS), Islamabad kini semakin berperan sebagai pintu masuk bagi Beijing untuk memperluas pengaruh industri pertahanan dan keamanan di Timur Tengah.
Baca Juga: Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
“Meningkatnya peran Pakistan dalam diplomasi dan keamanan Timur Tengah, telah membuka ruang bagi China untuk memperluas kehadirannya melalui mitra strategis, bukan lewat penempatan kekuatan militer secara langsung,” ujar Khurshid, dalam keterangan di laman Middle East Forum, Sabtu (4/7/2026).
Salah satu faktor yang disebut memperkuat peran Pakistan adalah pakta pertahanan bersama yang ditandatangani Islamabad dan Riyadh pada September 2025. Perjanjian itu menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dipandang sebagai serangan terhadap keduanya.
Menurut Khurshid, meski Pakistan telah lama memiliki hubungan erat dengan negara-negara Timur Tengah, perubahan dinamika keamanan kawasan membuat posisi negara itu kini jauh lebih strategis bagi kepentingan Beijing.
Khurshid menilai kedekatan Pakistan dan China terlihat jelas dari komposisi persenjataan militer Islamabad.
Baca Juga: Jet Tempur Siluman J-35AE China untuk Pakistan Berisiko Picu Eskalasi Nuklir dengan India
Mengutip data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), dia mencatat lebih dari 80 persen impor senjata Pakistan sepanjang periode 2021–2024 berasal dari China.
Meski Pakistan masih mengoperasikan sejumlah sistem persenjataan buatan Amerika Serikat, termasuk jet tempur F-16, sebagian besar inventaris militernya kini berasal dari industri pertahanan China.
Menurut Khurshid, Pakistan juga aktif mempromosikan berbagai sistem persenjataan hasil kerja sama dengan Beijing, mulai dari jet tempur JF-17 yang diproduksi bersama, pesawat nirawak, hingga sistem pertahanan udara HQ-9.
Baginya, promosi tersebut bukan sekadar bagian dari strategi ekspor Pakistan.
"China memanfaatkan Pakistan sebagai pintu gerbang untuk mempromosikan persenjataan dan memasuki lanskap pertahanan kawasan tersebut," ucap Khurshid.
Dia menilai langkah itu sekaligus memperkuat posisi industri pertahanan China di kawasan yang selama ini didominasi pemasok senjata dari Barat.
Dalam beberapa waktu terakhir, menurut Khurshid, muncul berbagai laporan mengenai pembicaraan kerja sama pertahanan Pakistan dengan sejumlah negara seperti Irak, Bangladesh, Indonesia, Arab Saudi, Libya, Maroko, Nigeria, Sudan, dan Ethiopia.
Sejumlah media China juga melaporkan adanya pembahasan mengenai potensi penjualan jet tempur JF-17 ke beberapa negara tersebut.
Meski demikian, Khurshid mengakui tidak semua pembahasan tersebut telah menghasilkan kontrak.
Dia mencontohkan laporan mengenai kemungkinan pengadaan JF-17 oleh Arab Saudi yang hingga kini belum terealisasi.
Menurutnya, sejumlah faktor masih menjadi pertimbangan, mulai dari kualitas sistem persenjataan buatan China, kompatibilitas dengan alutsista buatan Amerika Serikat yang telah digunakan negara-negara Teluk, hingga aspek pembiayaan.
“Proses promosi itu sendiri telah meningkatkan visibilitas sistem persenjataan China di Timur Tengah,” tutur Khurshid.
Khurshid juga menilai perubahan situasi keamanan kawasan setelah tercapainya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran dapat membuka peluang baru bagi Pakistan untuk memperkenalkan sistem persenjataan buatan China.
Dia mencontohkan pengiriman personel militer, peralatan pertahanan, serta jet tempur JF-17 oleh Pakistan ke Arab Saudi sebagai bagian dari implementasi pakta pertahanan kedua negara.
Menurutnya, langkah tersebut memperlihatkan bagaimana sistem persenjataan asal China dapat memperoleh eksposur yang lebih besar melalui kerja sama militer Pakistan dengan negara-negara kawasan.
Khurshid menegaskan bahwa ekspor persenjataan bukan hanya berkaitan dengan penjualan satu platform militer.
Dia menilai setiap kontrak pertahanan umumnya diikuti hubungan jangka panjang berupa pelatihan personel, penyediaan suku cadang, pemeliharaan, pembaruan sistem, hingga dukungan logistik.
“Setiap keberhasilan memperluas penggunaan sistem persenjataan China juga berarti memperluas ekosistem pertahanan Beijing di kawasan,” sebut Khurshid.
Khurshid mencontohkan laporan mengenai kerja sama pertahanan antara Pakistan dan Libyan National Army yang disebut mencakup rencana pengadaan 16 jet tempur JF-17 beserta pesawat latih dan perlengkapan militer lainnya.
Menurutnya, apabila kesepakatan seperti itu terwujud, China akan memperoleh keuntungan strategis tanpa harus tampil sebagai pihak yang bertransaksi secara langsung.
Namun dia juga mencatat bahwa laporan tersebut menuai kritik karena dinilai berpotensi memengaruhi keseimbangan konflik di Libya dan memunculkan pertanyaan mengenai kepatuhan terhadap embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Khurshid berpendapat strategi keamanan China di Timur Tengah kini semakin bertumpu pada pembangunan jaringan kemitraan dibandingkan kehadiran militer secara langsung.
Dia juga menyinggung wacana pembentukan aliansi keamanan yang kerap disebut sebagai "Islamic NATO". Menurutnya, apabila kerja sama semacam itu berkembang, Beijing berpotensi memperoleh pasar yang lebih luas bagi industri pertahanannya.
Selain itu, Khurshid menilai China terus mempromosikan berbagai sistem persenjataannya dengan menonjolkan kinerja platform seperti JF-17 dalam konflik India-Pakistan pada Mei 2025.
Dia juga memperkirakan bahwa apabila hubungan keamanan Iran dan China semakin erat setelah perkembangan diplomatik terbaru di Timur Tengah, kerja sama pertahanan kedua negara dapat berkembang lebih jauh.
“Tren yang berkembang menunjukkan persaingan geopolitik di Timur Tengah tidak lagi hanya berlangsung melalui kehadiran militer atau pangkalan luar negeri, tetapi juga melalui jaringan industri pertahanan, transfer teknologi, dan kemitraan keamanan jangka panjang yang membentuk pengaruh strategis sebuah negara,” pungkas Khurshid.
Menurut Imran Khurshid, analis geopolitik dari International Centre for Peace Studies (ICPS), Islamabad kini semakin berperan sebagai pintu masuk bagi Beijing untuk memperluas pengaruh industri pertahanan dan keamanan di Timur Tengah.
Baca Juga: Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
“Meningkatnya peran Pakistan dalam diplomasi dan keamanan Timur Tengah, telah membuka ruang bagi China untuk memperluas kehadirannya melalui mitra strategis, bukan lewat penempatan kekuatan militer secara langsung,” ujar Khurshid, dalam keterangan di laman Middle East Forum, Sabtu (4/7/2026).
Salah satu faktor yang disebut memperkuat peran Pakistan adalah pakta pertahanan bersama yang ditandatangani Islamabad dan Riyadh pada September 2025. Perjanjian itu menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu pihak dipandang sebagai serangan terhadap keduanya.
Menurut Khurshid, meski Pakistan telah lama memiliki hubungan erat dengan negara-negara Timur Tengah, perubahan dinamika keamanan kawasan membuat posisi negara itu kini jauh lebih strategis bagi kepentingan Beijing.
Integrasi Pertahanan dengan China
Khurshid menilai kedekatan Pakistan dan China terlihat jelas dari komposisi persenjataan militer Islamabad.
Baca Juga: Jet Tempur Siluman J-35AE China untuk Pakistan Berisiko Picu Eskalasi Nuklir dengan India
Mengutip data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), dia mencatat lebih dari 80 persen impor senjata Pakistan sepanjang periode 2021–2024 berasal dari China.
Meski Pakistan masih mengoperasikan sejumlah sistem persenjataan buatan Amerika Serikat, termasuk jet tempur F-16, sebagian besar inventaris militernya kini berasal dari industri pertahanan China.
Menurut Khurshid, Pakistan juga aktif mempromosikan berbagai sistem persenjataan hasil kerja sama dengan Beijing, mulai dari jet tempur JF-17 yang diproduksi bersama, pesawat nirawak, hingga sistem pertahanan udara HQ-9.
Baginya, promosi tersebut bukan sekadar bagian dari strategi ekspor Pakistan.
"China memanfaatkan Pakistan sebagai pintu gerbang untuk mempromosikan persenjataan dan memasuki lanskap pertahanan kawasan tersebut," ucap Khurshid.
Dia menilai langkah itu sekaligus memperkuat posisi industri pertahanan China di kawasan yang selama ini didominasi pemasok senjata dari Barat.
Timur Tengah sebagai Pasar Baru
Dalam beberapa waktu terakhir, menurut Khurshid, muncul berbagai laporan mengenai pembicaraan kerja sama pertahanan Pakistan dengan sejumlah negara seperti Irak, Bangladesh, Indonesia, Arab Saudi, Libya, Maroko, Nigeria, Sudan, dan Ethiopia.
Sejumlah media China juga melaporkan adanya pembahasan mengenai potensi penjualan jet tempur JF-17 ke beberapa negara tersebut.
Meski demikian, Khurshid mengakui tidak semua pembahasan tersebut telah menghasilkan kontrak.
Dia mencontohkan laporan mengenai kemungkinan pengadaan JF-17 oleh Arab Saudi yang hingga kini belum terealisasi.
Menurutnya, sejumlah faktor masih menjadi pertimbangan, mulai dari kualitas sistem persenjataan buatan China, kompatibilitas dengan alutsista buatan Amerika Serikat yang telah digunakan negara-negara Teluk, hingga aspek pembiayaan.
“Proses promosi itu sendiri telah meningkatkan visibilitas sistem persenjataan China di Timur Tengah,” tutur Khurshid.
Diplomasi Pertahanan
Khurshid juga menilai perubahan situasi keamanan kawasan setelah tercapainya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran dapat membuka peluang baru bagi Pakistan untuk memperkenalkan sistem persenjataan buatan China.
Dia mencontohkan pengiriman personel militer, peralatan pertahanan, serta jet tempur JF-17 oleh Pakistan ke Arab Saudi sebagai bagian dari implementasi pakta pertahanan kedua negara.
Menurutnya, langkah tersebut memperlihatkan bagaimana sistem persenjataan asal China dapat memperoleh eksposur yang lebih besar melalui kerja sama militer Pakistan dengan negara-negara kawasan.
Bukan Sekadar Menjual Senjata
Khurshid menegaskan bahwa ekspor persenjataan bukan hanya berkaitan dengan penjualan satu platform militer.
Dia menilai setiap kontrak pertahanan umumnya diikuti hubungan jangka panjang berupa pelatihan personel, penyediaan suku cadang, pemeliharaan, pembaruan sistem, hingga dukungan logistik.
“Setiap keberhasilan memperluas penggunaan sistem persenjataan China juga berarti memperluas ekosistem pertahanan Beijing di kawasan,” sebut Khurshid.
Khurshid mencontohkan laporan mengenai kerja sama pertahanan antara Pakistan dan Libyan National Army yang disebut mencakup rencana pengadaan 16 jet tempur JF-17 beserta pesawat latih dan perlengkapan militer lainnya.
Menurutnya, apabila kesepakatan seperti itu terwujud, China akan memperoleh keuntungan strategis tanpa harus tampil sebagai pihak yang bertransaksi secara langsung.
Namun dia juga mencatat bahwa laporan tersebut menuai kritik karena dinilai berpotensi memengaruhi keseimbangan konflik di Libya dan memunculkan pertanyaan mengenai kepatuhan terhadap embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pengaruh Lewat Jaringan
Khurshid berpendapat strategi keamanan China di Timur Tengah kini semakin bertumpu pada pembangunan jaringan kemitraan dibandingkan kehadiran militer secara langsung.
Dia juga menyinggung wacana pembentukan aliansi keamanan yang kerap disebut sebagai "Islamic NATO". Menurutnya, apabila kerja sama semacam itu berkembang, Beijing berpotensi memperoleh pasar yang lebih luas bagi industri pertahanannya.
Selain itu, Khurshid menilai China terus mempromosikan berbagai sistem persenjataannya dengan menonjolkan kinerja platform seperti JF-17 dalam konflik India-Pakistan pada Mei 2025.
Dia juga memperkirakan bahwa apabila hubungan keamanan Iran dan China semakin erat setelah perkembangan diplomatik terbaru di Timur Tengah, kerja sama pertahanan kedua negara dapat berkembang lebih jauh.
“Tren yang berkembang menunjukkan persaingan geopolitik di Timur Tengah tidak lagi hanya berlangsung melalui kehadiran militer atau pangkalan luar negeri, tetapi juga melalui jaringan industri pertahanan, transfer teknologi, dan kemitraan keamanan jangka panjang yang membentuk pengaruh strategis sebuah negara,” pungkas Khurshid.
(mas)
Lihat Juga :