Horor! Penyerang Berpisau Mencoba Memenggal Seorang Pria di Tempat Umum
Selasa, 09 Juni 2026 - 15:26 WIB
loading...
Pria bersenjata pisau mencoba memenggal seorang pria di tempat umum di Belfast, Irlandia Utara, pada Senin (8/6/2026). Foto/BBC/X @TRobinsonNewEra
A
A
A
BELFAST - Sebuah serangan mengerikan terjadi di tempat umum di Belfast, Irlandia Utara, di mana seorang pria bersenjata pisau mencoba memenggal pria lainnya pada hari Senin. Polisi telah menangkap pelaku serangan, sedangkan korban mengalami luka serius.
Rekaman video yang diambil dari ponsel saksi mata menunjukkan pelaku menindih dada korban yang berdarah dan mencoba menebas lehernya. Sementara itu, para saksi mata berteriak; “Dia mencoba memenggal kepalanya.”
Baca Juga: Seorang Muslim Dibunuh Secara Brutal di Masjid Prancis dan Islam Dihina, Ini Respons Macron
“Dia baru saja membunuhnya, cepatlah!” teriak seorang pria dalam video tersebut, yang mengira korban telah tewas dibunuh.
Saat korban berjuang lemah untuk melarikan diri, penyerang mengangkat sesuatu yang tampak seperti pisau kecil ke udara dan berteriak sesuatu yang tidak dapat dimengerti dalam bahasa asing.
“Lepaskan dia, dasar tikus sialan!” teriak saksi mata wanita di lokasi kejadian.
Para saksi mata ketakutan ketika korban terlihat mengerang. “Dia mencoba memotong kepalanya! Cepat! Dia sedang memotong kepalanya!” kata saksi mata pria.
Para saksi mata bergegas intervensi dan mencoba mengalahkan penyerang, dengan salah satu dari mereka berteriak “bunuh dia!”
Suara sebuah benda yang terbuat dari logam terdengar menghantam tanah saat warga setempat lainnya bergegas datang dan mulai memukul kepala pelaku dengan tongkat.
Penyerang jatuh ke tanah tetapi menolak untuk melepaskan korban dari cekikan.
Seorang saksi mata lainnya menendang kepala pelaku sebelum para petugas polisi tiba di tempat kejadian dan bergegas mengatasi keributan.
Kepolisian Irlandia Utara mengonfirmasi bahwa satu orang telah ditahan.
“Polisi di Belfast utara saat ini berada di Kinnaird Avenue menyusul laporan insiden penusukan tak lama setelah pukul 22.30 pada hari Senin, 8 Juni,” kata polisi dalam sebuah pernyataan.
“Seorang pria telah ditangkap sehubungan dengan insiden tersebut dan berada dalam tahanan polisi sementara seorang pria kedua telah dibawa ke rumah sakit dengan luka serius," lanjut pernyataan tersebut, yang dikutip news.com.au, Selasa (9/6/2026).
Para petugas polisi tetap berada di tempat kejadian perkara dan telah meminta saksi atau siapa pun yang memiliki rekaman dashcam atau CCTV dari insiden tersebut untuk melapor.
Tokoh sayap kanan Tommy Robinson membagikan video tersebut di X dan telah ditonton hampir setengah juta kali. Dia menulis, “Adegan mengerikan di Belfast Utara malam ini ketika seorang penyerang tertangkap basah mencoba memenggal kepala seorang pria di tengah jalan!”
Polisi belum mengumumkan dakwaan apa pun dan belum merilis nama atau status imigrasi dari terduga pelaku.
Serangan mengejutkan ini terjadi setelah pembunuhan brutal dengan penusukan terhadap mahasiswa berusia 18 tahun, Henry Nowak, oleh seorang pria Sikh bernama Vickrum Digwa di kota Southampton selatan pada Desember lalu.
Digwa (23) dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan minimal 21 tahun setelah dinyatakan bersalah akhir bulan lalu setelah persidangan selama dua minggu di Pengadilan Mahkota Southampton.
Rekaman mengerikan dari kamera tubuh yang dirilis pekan lalu menunjukkan petugas Kepolisian Hampshire menangkap dan memborgol remaja tersebut saat dia sekarat kehabisan darah, setelah si pembunuh dan anggota keluarganya secara salah menuduh mahasiswa tersebut melakukan serangan yang bermotivasi rasial.
Rekaman tersebut memicu kerusuhan hebat di Southampton yang menyebabkan 11 petugas polisi terluka, dan memicu perdebatan sengit tentang dugaan "sistem kepolisian dua tingkat" di Inggris yang menurut para kritikus lebih menguntungkan minoritas etnis daripada orang kulit putih.
Empat belas orang sejak itu telah didakwa dengan kekerasan.
Kasus yang mendapat perhatian publik ini telah memicu perselisihan diplomatik antara pemerintah Partai Buruh sayap kiri Inggris dan pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat.
“Henry Nowak meninggal dengan cara yang sama seperti sebuah peradaban mati: ditinggalkan, diborgol oleh pihak berwenang yang tidak mempercayainya maupun peduli padanya, dan dituduh melakukan kejahatan kebencian yang tidak dilakukannya,” tulis Wakil Presiden AS JD Vance di X pada akhir pekan lalu.
“Pembunuhannya sama tragisnya dengan kemarahan yang ditimbulkannya. Dia seharusnya masih hidup hari ini, dan dia akan tetap hidup jika beberapa generasi elite Eropa terakhir telah mempertahankan pendirian mereka melawan politik kebencian diri dan invasi massal migran, yang banyak di antaranya membenci Barat dan orang-orang yang mencintainya," paparnya.
“Henry bukanlah orang pertama yang kehilangan nyawanya secara sia-sia, dan saya khawatir dia bukan yang terakhir. Setiap kali nyawa seperti miliknya hilang, respons yang tepat—satu-satunya tanggapan—adalah kemarahan yang benar," imbuh Vance.
“Salah satu hal terpenting yang telah dibuktikan pemerintahan Trump kepada dunia adalah bahwa menghentikan arus migrasi massal dan mempertahankan kedaulatan nasional adalah masalah kemauan politik dan kepemimpinan. Segala hal lain hanyalah alasan.”
Seorang juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan; "Orang-orang mencoba mengganggu demokrasi kita dan berusaha untuk menimbulkan perpecahan."
Pihak Downing Street dalam sebuah pernyataan menambahkan bahwa keluarga Nowak telah mengatakan mereka tidak ingin kematiannya digunakan untuk menciptakan perpecahan lebih lanjut.
“Politik kita seharusnya menyatukan orang-orang bahkan dalam keadaan yang paling mengerikan sekalipun,” bunyi pernyataan tersebut. “Itulah jati diri kita sebagai sebuah negara.”
Rekaman video yang diambil dari ponsel saksi mata menunjukkan pelaku menindih dada korban yang berdarah dan mencoba menebas lehernya. Sementara itu, para saksi mata berteriak; “Dia mencoba memenggal kepalanya.”
Baca Juga: Seorang Muslim Dibunuh Secara Brutal di Masjid Prancis dan Islam Dihina, Ini Respons Macron
“Dia baru saja membunuhnya, cepatlah!” teriak seorang pria dalam video tersebut, yang mengira korban telah tewas dibunuh.
Saat korban berjuang lemah untuk melarikan diri, penyerang mengangkat sesuatu yang tampak seperti pisau kecil ke udara dan berteriak sesuatu yang tidak dapat dimengerti dalam bahasa asing.
“Lepaskan dia, dasar tikus sialan!” teriak saksi mata wanita di lokasi kejadian.
Para saksi mata ketakutan ketika korban terlihat mengerang. “Dia mencoba memotong kepalanya! Cepat! Dia sedang memotong kepalanya!” kata saksi mata pria.
Para saksi mata bergegas intervensi dan mencoba mengalahkan penyerang, dengan salah satu dari mereka berteriak “bunuh dia!”
Suara sebuah benda yang terbuat dari logam terdengar menghantam tanah saat warga setempat lainnya bergegas datang dan mulai memukul kepala pelaku dengan tongkat.
Penyerang jatuh ke tanah tetapi menolak untuk melepaskan korban dari cekikan.
Seorang saksi mata lainnya menendang kepala pelaku sebelum para petugas polisi tiba di tempat kejadian dan bergegas mengatasi keributan.
Kepolisian Irlandia Utara mengonfirmasi bahwa satu orang telah ditahan.
“Polisi di Belfast utara saat ini berada di Kinnaird Avenue menyusul laporan insiden penusukan tak lama setelah pukul 22.30 pada hari Senin, 8 Juni,” kata polisi dalam sebuah pernyataan.
“Seorang pria telah ditangkap sehubungan dengan insiden tersebut dan berada dalam tahanan polisi sementara seorang pria kedua telah dibawa ke rumah sakit dengan luka serius," lanjut pernyataan tersebut, yang dikutip news.com.au, Selasa (9/6/2026).
Para petugas polisi tetap berada di tempat kejadian perkara dan telah meminta saksi atau siapa pun yang memiliki rekaman dashcam atau CCTV dari insiden tersebut untuk melapor.
Tokoh sayap kanan Tommy Robinson membagikan video tersebut di X dan telah ditonton hampir setengah juta kali. Dia menulis, “Adegan mengerikan di Belfast Utara malam ini ketika seorang penyerang tertangkap basah mencoba memenggal kepala seorang pria di tengah jalan!”
Polisi belum mengumumkan dakwaan apa pun dan belum merilis nama atau status imigrasi dari terduga pelaku.
Serangan mengejutkan ini terjadi setelah pembunuhan brutal dengan penusukan terhadap mahasiswa berusia 18 tahun, Henry Nowak, oleh seorang pria Sikh bernama Vickrum Digwa di kota Southampton selatan pada Desember lalu.
Digwa (23) dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan minimal 21 tahun setelah dinyatakan bersalah akhir bulan lalu setelah persidangan selama dua minggu di Pengadilan Mahkota Southampton.
Rekaman mengerikan dari kamera tubuh yang dirilis pekan lalu menunjukkan petugas Kepolisian Hampshire menangkap dan memborgol remaja tersebut saat dia sekarat kehabisan darah, setelah si pembunuh dan anggota keluarganya secara salah menuduh mahasiswa tersebut melakukan serangan yang bermotivasi rasial.
Rekaman tersebut memicu kerusuhan hebat di Southampton yang menyebabkan 11 petugas polisi terluka, dan memicu perdebatan sengit tentang dugaan "sistem kepolisian dua tingkat" di Inggris yang menurut para kritikus lebih menguntungkan minoritas etnis daripada orang kulit putih.
Empat belas orang sejak itu telah didakwa dengan kekerasan.
Kasus yang mendapat perhatian publik ini telah memicu perselisihan diplomatik antara pemerintah Partai Buruh sayap kiri Inggris dan pemerintahan Donald Trump di Amerika Serikat.
“Henry Nowak meninggal dengan cara yang sama seperti sebuah peradaban mati: ditinggalkan, diborgol oleh pihak berwenang yang tidak mempercayainya maupun peduli padanya, dan dituduh melakukan kejahatan kebencian yang tidak dilakukannya,” tulis Wakil Presiden AS JD Vance di X pada akhir pekan lalu.
“Pembunuhannya sama tragisnya dengan kemarahan yang ditimbulkannya. Dia seharusnya masih hidup hari ini, dan dia akan tetap hidup jika beberapa generasi elite Eropa terakhir telah mempertahankan pendirian mereka melawan politik kebencian diri dan invasi massal migran, yang banyak di antaranya membenci Barat dan orang-orang yang mencintainya," paparnya.
“Henry bukanlah orang pertama yang kehilangan nyawanya secara sia-sia, dan saya khawatir dia bukan yang terakhir. Setiap kali nyawa seperti miliknya hilang, respons yang tepat—satu-satunya tanggapan—adalah kemarahan yang benar," imbuh Vance.
“Salah satu hal terpenting yang telah dibuktikan pemerintahan Trump kepada dunia adalah bahwa menghentikan arus migrasi massal dan mempertahankan kedaulatan nasional adalah masalah kemauan politik dan kepemimpinan. Segala hal lain hanyalah alasan.”
Seorang juru bicara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan; "Orang-orang mencoba mengganggu demokrasi kita dan berusaha untuk menimbulkan perpecahan."
Pihak Downing Street dalam sebuah pernyataan menambahkan bahwa keluarga Nowak telah mengatakan mereka tidak ingin kematiannya digunakan untuk menciptakan perpecahan lebih lanjut.
“Politik kita seharusnya menyatukan orang-orang bahkan dalam keadaan yang paling mengerikan sekalipun,” bunyi pernyataan tersebut. “Itulah jati diri kita sebagai sebuah negara.”
(mas)
Lihat Juga :