Kemitraan Indonesia dan Korsel Makin Strategis, Kemlu RI Soroti Peran Middle Power di Indo-Pasifik
Minggu, 17 Mei 2026 - 18:14 WIB
loading...
A
A
A
“Negara-negara middle power dapat menjadi motor kerja sama kawasan sekaligus penyeimbang di tengah dinamika kekuatan besar seperti Amerika Serikat, China, maupun Jepang,” jelas Dubes RI untuk Kamboja tahun 2023-2026 ini.
Pascakunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul beberapa waktu lalu, pemerintah menegaskan tidak ada perubahan dalam cara Indonesia memandang Korea Selatan. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Indonesia untuk memastikan Korea Selatan tetap berada di “halaman pertama” diplomasi ekonomi dan strategis Indonesia. “Kunjungan Presiden membawa sinyal yang sangat jelas bahwa Korea Selatan tetap menjadi destinasi penting bagi Indonesia, baik dalam investasi, perdagangan, industrialisasi, maupun kerja sama pertahanan,” katanya.
Salah satu simbol penting kemitraan strategis kedua negara adalah proyek pengembangan pesawat tempur bersama KF-21 Boramae. Menurut Santo, kerja sama tersebut memiliki arti strategis bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia, namun harus dilihat dalam kerangka integrasi yang lebih luas.
Indonesia saat ini menjalin kerja sama pertahanan dengan berbagai negara, termasuk Prancis, Turki, dan China. Karena itu, tantangan utama bukan sekadar memiliki banyak mitra, tetapi memastikan seluruh sistem pertahanan nasional dapat terintegrasi. “Yang penting adalah bagaimana berbagai kerja sama dari banyak sumber itu bisa menjadi satu sistem yang integratif dan berfungsi secara keseluruhan bagi pertahanan nasional,” tegas Santo yang menjadi salah satu juri Lomba Menulis ISDS ini.
Dia menilai penyelenggaraan lomba menulis strategis memiliki relevansi yang semakin besar di tengah era informasi digital yang serba cepat dan minimalis. Santo juga menyoroti bahwa kreativitas intelektual manusia tetap memiliki peran penting di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, pemikiran yang tidak selalu linear atau bahkan terlihat tidak logis justru sering melahirkan terobosan besar dalam sejarah strategi dan keamanan global.
Pascakunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Seoul beberapa waktu lalu, pemerintah menegaskan tidak ada perubahan dalam cara Indonesia memandang Korea Selatan. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Indonesia untuk memastikan Korea Selatan tetap berada di “halaman pertama” diplomasi ekonomi dan strategis Indonesia. “Kunjungan Presiden membawa sinyal yang sangat jelas bahwa Korea Selatan tetap menjadi destinasi penting bagi Indonesia, baik dalam investasi, perdagangan, industrialisasi, maupun kerja sama pertahanan,” katanya.
Salah satu simbol penting kemitraan strategis kedua negara adalah proyek pengembangan pesawat tempur bersama KF-21 Boramae. Menurut Santo, kerja sama tersebut memiliki arti strategis bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia, namun harus dilihat dalam kerangka integrasi yang lebih luas.
Indonesia saat ini menjalin kerja sama pertahanan dengan berbagai negara, termasuk Prancis, Turki, dan China. Karena itu, tantangan utama bukan sekadar memiliki banyak mitra, tetapi memastikan seluruh sistem pertahanan nasional dapat terintegrasi. “Yang penting adalah bagaimana berbagai kerja sama dari banyak sumber itu bisa menjadi satu sistem yang integratif dan berfungsi secara keseluruhan bagi pertahanan nasional,” tegas Santo yang menjadi salah satu juri Lomba Menulis ISDS ini.
Dia menilai penyelenggaraan lomba menulis strategis memiliki relevansi yang semakin besar di tengah era informasi digital yang serba cepat dan minimalis. Santo juga menyoroti bahwa kreativitas intelektual manusia tetap memiliki peran penting di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, pemikiran yang tidak selalu linear atau bahkan terlihat tidak logis justru sering melahirkan terobosan besar dalam sejarah strategi dan keamanan global.
Lihat Juga :