Seluruh Tentara AS Hengkang setelah 10 Tahun Bercokol di Suriah

Jum'at, 17 April 2026 - 14:03 WIB
loading...
Seluruh Tentara AS Hengkang...
AS tarik total seluruh tentaranya yang tersisa di Suriah setelah 10 tahun bercokol di negara tersebut. Foto/Facebook/Syrian Democratic Forces
A A A
DAMASKUS - Seluruh tentara Amerika Serikat (AS) yang tersisa di Suriah meninggalkan pangkalan mereka di Hasakah pada hari Kamis. Penarikan total ini mengakhiri kehadiran selama 10 tahun di negara itu, yang awalnya bertujuan untuk memerangi kelompok Islamic State atau ISIS.

Setelah penarikan total pasukan AS, militer Suriah memasuki pangkalan yang sebelumnya berada di bawah kendali Amerika, yang dikenal sebagai Qasrak. Pangkalan yang ditinggalkan Amerika ini mencakup landasan udara.

Baca Juga: Pasukan AS Mundur dari Pangkalan Utama Suriah, Pindah ke Yordania

Seorang pejabat Suriah mengatakan kepada Middle East Eye (MEE), Jumat (17/4/2026), bahwa penarikan pasukan AS telah selesai.

Charles Lister, seorang pakar Suriah terkemuka, mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa pasukan yang mengambil alih pangkalan tersebut adalah Divisi ke-60 Angkatan Darat Suriah, yang sebagian besar terdiri dari pasukan Kurdi yang berafiliasi dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Pasukan Demokratik Suriah merupkan mitra pasukan mitra AS sejak lama.

Lister juga mengatakan bahwa pasukan dan peralatan AS meninggalkan Suriah melalui Yordania untuk menghindari kemungkinan serangan oleh paramiliter yang didukung Iran di Irak.

Dalam pernyataan selanjutnya pada hari Kamis, Kementerian Luar Negeri Suriah mengatakan, "Kami menyambut baik penyerahan lengkap situs-situs militer tempat pasukan Amerika Serikat sebelumnya berada di Suriah kepada pemerintah Suriah."

Kementerian itu menambahkan bahwa penyelesaian penyerahan situs-situs ini juga mencerminkan keberhasilan integrasi SDF ke dalam struktur nasional. "Dan pengambilalihan tanggung jawab penuh negara Suriah untuk memerangi terorisme dan mengatasi ancaman regional di wilayahnya," paparnya.

Keputusan AS untuk menarik diri menyusul kekalahan rezim Bashar al-Assad oleh pasukan pemberontak pimpinan Ahmed al-Sharaa pada Desember 2024 setelah lebih dari satu dekade perang saudara. Ahmed al-Sharaa kemudian menjadi presiden Suriah.

Washington, yang mendukung pemerintahan baru al-Sharaa, sebelumnya memiliki sekitar 1.000 tentara AS di Suriah.

Awal tahun ini, AS membantu memfasilitasi kesepakatan antara SDF dan Damaskus, di mana pemerintah Suriah setuju untuk memimpin dalam memerangi kelompok militan seperti ISIS.

Awal tahun ini, pasukan AS juga menarik diri dari dua pangkalan utama Amerika di Suriah: al-Tanf di selatan dan al-Shaddadi di timur laut.

Pasukan Amerika telah berada di Suriah sejak 2015. Kemitraan AS-SDF telah lama memperumit hubungan Turki dengan Washington, karena Ankara memandang kelompok tersebut sebagai perpanjangan dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG), afiliasi Suriah dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

PKK telah ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Turki dan melancarkan pemberontakan terhadap negara Turki selama empat dekade.

Namun, pembicaraan damai Ankara dengan PKK selama dua tahun terakhir mempermudah Damaskus untuk mencapai kesepakatannya sendiri dengan SDF, yang telah berupaya mendapatkan otonomi di timur laut Suriah.

Serangan singkat oleh pasukan pemerintah Suriah, bersama dengan intervensi utusan AS Tom Barrack, akhirnya menghasilkan kesepakatan yang membantu menenangkan negara tersebut.

SDF setuju untuk menyerahkan kendali atas sebagian besar wilayah, termasuk Raqqa dan Deir Ezzor, kepada Damaskus.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Negosiator Iran dan...
Negosiator Iran dan AS Bertemu di Jenewa untuk Babak Baru Pembicaraan Demi Akhiri Perang
Kasus Penganiayaan,...
Kasus Penganiayaan, Dewi Soekarno Jalani Sidang di Pengadilan Jepang
Rekomendasi
Kolombia Pecundangi...
Kolombia Pecundangi RD Kongo, Daniel Munoz Cetak Gol Penentu Kemenangan
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Cerita Nurma, dari Belajar...
Cerita Nurma, dari Belajar di Perpustakaan hingga Malam Kini Bisa Kuliah Gratis di UGM
Berita Terkini
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
PBB Mulai Evakuasi 11.000...
PBB Mulai Evakuasi 11.000 Pelaut yang Terdampar di Selat Hormuz
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Oman dan Iran Bentuk...
Oman dan Iran Bentuk Kelompok Kerja Bersama untuk Bahas Pengelolaan Selat Hormuz
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved