Database 400.000 Artikel Bongkar Dugaan Pola Propaganda China
Rabu, 15 April 2026 - 13:06 WIB
loading...
Proyek digital PropagandaScope ungkap pola propaganda Partai Komunis China. Lebih dari 400.000 artikel dari 20 surat kabar menjadi indikasi penyebaran propaganda ini. Foto/Global Times
A
A
A
JAKARTA - Sebuah proyek digital bernama PropagandaScope disebut telah membuka cara baru dalam memahami sistem propaganda Partai Komunis China (PKC). Proyek ini dikembangkan oleh jurnalis asal Mongolia Selatan, Soyonbo Borjgin, yang kini tinggal di New York, dan disebut sebagai alat penting untuk menelusuri operasi ideologis Beijing.
Dikutip dari Bitter Winter, Rabu (15/4/2026), proyek ini berisi basis data lebih dari 400.000 artikel dari 20 surat kabar PKC tingkat provinsi di China. Data tersebut diperbarui setiap hari, dapat ditelusuri berdasarkan kata kunci, serta memungkinkan analisis penyebaran istilah politik dari pusat ke daerah.
Baca Juga: UU Persatuan Etnis China Jadi Sorotan, Dinilai Tekan Identitas Minoritas
“PropagandaScope berfungsi seperti ‘mikroskop propaganda’ yang mampu mengungkap pola komunikasi ideologis yang sebelumnya sulit terlihat secara utuh,” kata Massimo Introvigne, Managing Director dari Center for Studies on New Religions (CESNUR), kepada Bitter Winter.
“Selain itu, proyek ini juga dianggap merekam bagaimana PKC memilih istilah tertentu sekaligus menghapus istilah lain dari ruang publik,” sambungnya.
Borjgin telah mengembangkan proyek ini berdasarkan pengalaman pribadinya. Pada 2020, dia mengikuti program pendidikan ulang politik, di mana dia diberitahu bahwa bahasa Mongolia dianggap “terbelakang” dan tidak sesuai untuk ilmu pengetahuan modern.
Melalui analisis data dalam PropagandaScope, dia menemukan bahwa kata “Mongolia” hampir sepenuhnya hilang dari publikasi resmi. Dari lebih dari 400.000 artikel yang dianalisis, istilah tersebut hanya muncul satu kali, dan itu pun dalam judul sebuah konferensi.
Sebagai gantinya, istilah tersebut digantikan dengan frasa yang lebih netral secara geografis. “Dalam bahasa PKC, orang Mongolia tidak lagi diposisikan sebagai kelompok masyarakat, melainkan sebagai lokasi,” ujar Introvigne.
Proyek ini juga menunjukkan bagaimana narasi ideologis disebarkan secara bertahap sebelum menjadi kebijakan resmi. Frasa “membangun rasa komunitas bangsa China yang kuat,” yang kini menjadi bagian penting dari kebijakan etnis China, tercatat lebih dulu muncul secara intens di media resmi di Xinjiang dibandingkan media nasional seperti People’s Daily.
Wilayah lain seperti Tibet dan Ningxia menunjukkan pola serupa. Ketika frasa tersebut akhirnya diadopsi dalam undang-undang oleh Kongres Rakyat Nasional, kampanye propaganda disebut telah lebih dulu berjalan.
Dari sisi teknis, pengembangan proyek ini juga menyoroti bagaimana struktur informasi di China bekerja. Borjgin menemukan bahwa peta berbasis data dari Alibaba Cloud tidak dapat ditampilkan tanpa memasukkan klaim wilayah seperti garis sembilan putus-putus di Laut China Selatan dan status Taiwan sebagai provinsi.
“Bahkan alat untuk menganalisis propaganda pun, secara default, dibangun di atas propaganda,” tutur Introvigne.
PropagandaScope kini telah dapat diakses publik dan dinilai memiliki potensi luas. Peneliti dapat menggunakannya untuk melacak penyebaran slogan politik, sementara jurnalis dan aktivis dapat memanfaatkannya untuk mengidentifikasi pola penghilangan identitas dan pembentukan narasi.
Proyek ini juga menyoroti bahwa upaya memahami dinamika informasi di China kini semakin bergantung pada analisis data, selain kesaksian langsung.
Introvigne mengatakan, inisiatif semacam ini menunjukkan bagaimana dokumentasi digital dapat menjadi alat penting dalam mengungkap mekanisme propaganda dan perubahan narasi di tingkat negara.
Dikutip dari Bitter Winter, Rabu (15/4/2026), proyek ini berisi basis data lebih dari 400.000 artikel dari 20 surat kabar PKC tingkat provinsi di China. Data tersebut diperbarui setiap hari, dapat ditelusuri berdasarkan kata kunci, serta memungkinkan analisis penyebaran istilah politik dari pusat ke daerah.
Baca Juga: UU Persatuan Etnis China Jadi Sorotan, Dinilai Tekan Identitas Minoritas
“PropagandaScope berfungsi seperti ‘mikroskop propaganda’ yang mampu mengungkap pola komunikasi ideologis yang sebelumnya sulit terlihat secara utuh,” kata Massimo Introvigne, Managing Director dari Center for Studies on New Religions (CESNUR), kepada Bitter Winter.
“Selain itu, proyek ini juga dianggap merekam bagaimana PKC memilih istilah tertentu sekaligus menghapus istilah lain dari ruang publik,” sambungnya.
Hilangnya Kata 'Mongolia'
Borjgin telah mengembangkan proyek ini berdasarkan pengalaman pribadinya. Pada 2020, dia mengikuti program pendidikan ulang politik, di mana dia diberitahu bahwa bahasa Mongolia dianggap “terbelakang” dan tidak sesuai untuk ilmu pengetahuan modern.
Melalui analisis data dalam PropagandaScope, dia menemukan bahwa kata “Mongolia” hampir sepenuhnya hilang dari publikasi resmi. Dari lebih dari 400.000 artikel yang dianalisis, istilah tersebut hanya muncul satu kali, dan itu pun dalam judul sebuah konferensi.
Sebagai gantinya, istilah tersebut digantikan dengan frasa yang lebih netral secara geografis. “Dalam bahasa PKC, orang Mongolia tidak lagi diposisikan sebagai kelompok masyarakat, melainkan sebagai lokasi,” ujar Introvigne.
Proyek ini juga menunjukkan bagaimana narasi ideologis disebarkan secara bertahap sebelum menjadi kebijakan resmi. Frasa “membangun rasa komunitas bangsa China yang kuat,” yang kini menjadi bagian penting dari kebijakan etnis China, tercatat lebih dulu muncul secara intens di media resmi di Xinjiang dibandingkan media nasional seperti People’s Daily.
Wilayah lain seperti Tibet dan Ningxia menunjukkan pola serupa. Ketika frasa tersebut akhirnya diadopsi dalam undang-undang oleh Kongres Rakyat Nasional, kampanye propaganda disebut telah lebih dulu berjalan.
Propaganda di Atas Propaganda
Dari sisi teknis, pengembangan proyek ini juga menyoroti bagaimana struktur informasi di China bekerja. Borjgin menemukan bahwa peta berbasis data dari Alibaba Cloud tidak dapat ditampilkan tanpa memasukkan klaim wilayah seperti garis sembilan putus-putus di Laut China Selatan dan status Taiwan sebagai provinsi.
“Bahkan alat untuk menganalisis propaganda pun, secara default, dibangun di atas propaganda,” tutur Introvigne.
PropagandaScope kini telah dapat diakses publik dan dinilai memiliki potensi luas. Peneliti dapat menggunakannya untuk melacak penyebaran slogan politik, sementara jurnalis dan aktivis dapat memanfaatkannya untuk mengidentifikasi pola penghilangan identitas dan pembentukan narasi.
Proyek ini juga menyoroti bahwa upaya memahami dinamika informasi di China kini semakin bergantung pada analisis data, selain kesaksian langsung.
Introvigne mengatakan, inisiatif semacam ini menunjukkan bagaimana dokumentasi digital dapat menjadi alat penting dalam mengungkap mekanisme propaganda dan perubahan narasi di tingkat negara.
(mas)
Lihat Juga :