China Isi Kekosongan Militer di Benua Afrika, Penjualan Senjata Melonjak

Jum'at, 27 Februari 2026 - 07:32 WIB
loading...
China Isi Kekosongan...
China mengisi kekosongan militer di benua Afrika setelah pasukan Prancis hengkang dari kawasan Sahel. Penjualan senjata China ke benua tersebut juga melonjak. Foto/Kementerian Pertahanan Mali
A A A
JAKARTA - Penarikan pasukan Prancis dari kawasan Sahel dan berkurangnya kapasitas ekspor Rusia akibat perang Ukraina telah menciptakan apa yang oleh para analis disebut sebagai “kekosongan militer” di Afrika Barat dan Tengah. Namun kekosongan tersebut tidak berlangsung lama, karena China bergerak begitu cepat untuk mengonsolidasikan posisinya.

Perubahan ini dimulai setelah gelombang kudeta di Burkina Faso, Mali, dan Niger sejak 2020. Gejolak tersebut membongkar kemitraan keamanan jangka panjang, terutama dengan Paris.

Baca Juga: 4 Tahun Perang Rusia-Ukraina, UESebut China Terus Dukung Moskow

Misi kontra-terorisme Prancis, yang sebelumnya menjadi pilar utama arsitektur keamanan kawasan, telah dihentikan secara bertahap. Di saat yang sama, Rusia yang fokus mempertahankan upaya perangnya di Ukraina, kesulitan mempertahankan tingkat pengiriman senjata dan dukungan sebelumnya kepada klien luar negerinya.

Dikutip dari Mekong News, Jumat (27/2/2026), penilaian industri pertahanan China secara terbuka mengakui transisi tersebut. Sebuah laporan dalam China Military to Civilian pada Januari lalu, yang diterbitkan di bawah Administrasi Negara untuk Sains, Teknologi, dan Industri Pertahanan Nasional, menyebut keluarnya Prancis sebagai pencipta “ruang” bagi ekspansi perdagangan militer China.

Laporan tersebut, yang dikaitkan dengan eksportir senjata milik negara China National Aero-Technology Import & Export Corporation, menyatakan bahwa Beijing memanfaatkan sistem berbiaya rendah dan pembiayaan fleksibel untuk menembus pasar Afrika.

Pergantian Pasar


Istilah yang digunakan dalam analisis China, yaitu “substitusi pasar”, memiliki arti penting. Seiring menurunnya ketergantungan pada platform Prancis dan Rusia, pola pengadaan bergeser ke peralatan China, khususnya dalam segmen seperti drone, kendaraan lapis baja, dan senjata ringan.

Baca Juga: Dominasi AS dan Prancis Melemah, Kini Giliran China Mencengkeram Afrika

Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa dari 2020 hingga 2024, China menyumbang 26 persen impor senjata Afrika Barat. Prancis berada di posisi kedua dengan 14 persen, sementara Rusia dan Turki masing-masing 11 persen. SIPRI juga mencatat bahwa ekspor China ke Afrika Barat selama periode tersebut mencapai tingkat tertinggi yang pernah tercatat.

Hal yang perlu menjadi perhatian penting adalah, ekspansi China tidak terbatas pada negara yang menjauh dari Paris. Senegal dan Ghana, yang secara historis bersekutu dengan Prancis dan mitra keamanan Barat, juga meningkatkan pembelian sistem dari China. Di Burkina Faso dan Mali, pemerintah pascakudeta mempercepat pengadaan di tengah meningkatnya pemberontakan.

Sahel sebagai Kasus Uji Strategis


Perubahan paling jelas terlihat di kawasan Sahel. Junta militer yang menghadapi pemberontakan berkepanjangan membutuhkan peralatan yang terjangkau, dapat dikerahkan dengan cepat, dan relatif mudah dirawat. Pemasok China menargetkan ceruk ini.

Produsen senjata terbesar China, Norinco, telah membuka kantor di Nigeria dan Senegal, menegaskan strategi komersial jangka panjang. Pada 2024, Presiden transisi Mali, Assimi Goïta, mengunjungi Beijing dan menandatangani perjanjian pertahanan komprehensif dengan Norinco, memperkuat pergeseran Bamako ke perangkat militer China.

Burkina Faso mengikuti jalur serupa dengan memperoleh kendaraan pengangkut personel lapis baja dan drone taktis untuk operasi kontra-pemberontakan. Niger juga memperdalam hubungan pengadaan dengan Beijing.

Keunggulan China tidak terletak pada pesawat tempur kelas atas atau sistem rudal canggih—pasar yang masih didominasi Amerika Serikat dan Rusia—melainkan pada platform yang dapat diperluas dan sesuai untuk operasi keamanan internal. Harga kompetitif dan skema pembiayaan yang longgar menarik bagi pemerintah yang menghadapi tekanan fiskal, pemberontakan, dan sanksi.

Transfer senjata hanyalah satu bagian dari jejak China yang semakin luas. Rencana Aksi Beijing 2024–2027 dalam Forum on China-Africa Cooperation (FOCAC) mencakup komitmen untuk melatih 6.500 personel militer, yang menandakan keterlibatan institusional yang lebih dalam.

Strategi berprofil rendah ini menghindari pengerahan pasukan skala besar. Sebaliknya, China memperkuat jaringan atase pertahanan, melakukan kunjungan kapal angkatan laut ke pelabuhan, dan memperluas pertukaran pelatihan. Perusahaan keamanan swasta China juga melindungi infrastruktur yang terkait dengan proyek ekonomi Beijing.

Model ini berbeda dengan keterlibatan keamanan Rusia yang lebih langsung di beberapa bagian Afrika, serta menghindari sensitivitas politik yang menyertai kehadiran kontra-terorisme Prancis.

Lanskap Persaingan


China tidak bergerak tanpa pesaing. Turki muncul sebagai kompetitor signifikan dalam drone dan kendaraan lapis baja. Amerika Serikat tetap berpengaruh dalam sistem militer kelas atas dan kemitraan pelatihan. Jaringan keamanan Rusia, meskipun tertekan, masih tertanam di beberapa wilayah.

Para analis memperingatkan bahwa meskipun pangsa pasar China meningkat stabil, dominasi belum sepenuhnya terjamin. Ketidakstabilan Sahel menciptakan permintaan, tetapi juga menghasilkan volatilitas dan risiko politik.

Yang membedakan fase saat ini bukan sekadar peningkatan penjualan senjata, melainkan reposisi yang lebih luas. Beijing membingkai dirinya sebagai mitra keamanan komprehensif yang menggabungkan perdagangan, pelatihan, dan pembiayaan tanpa persyaratan politik yang terbuka.

Menyusutnya kehadiran operasional Prancis telah mengguncang tatanan keamanan yang mapan. Dalam ruang yang belum stabil itu, China membangun pengaruh secara bertahap, bukan dramatis, melalui kontrak, program pelatihan, dan kehadiran industri.

Narasi “kekosongan militer” mungkin melebih-lebihkan absennya kekuatan lain. Namun data menunjukkan tren yang jelas: ketika jejak Barat menyusut dan jalur pasokan Rusia menyempit, peran China dalam lanskap pertahanan Afrika Barat dan Tengah terus berkembang secara metodis, komersial, dan dengan tujuan strategis jangka panjang.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
1.300 Orang Tewas Akibat...
1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Pesawat Jatuh di Prancis,...
Pesawat Jatuh di Prancis, 11 Orang Tewas
Gelombang Panas Terjang...
Gelombang Panas Terjang Prancis, Rumah Duka Kewalahan
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Presiden Serbia Aleksandar...
Presiden Serbia Aleksandar Vučić Umumkan Pengunduran Diri
Bangunan Bimbingan Belajar...
Bangunan Bimbingan Belajar Ambruk, 14 Anak Tewas
Rekomendasi
Pajak JHT Diminta Hapus,...
Pajak JHT Diminta Hapus, Begini Tanggapan Resmi DJP
Wali Kota Agustina Dorong...
Wali Kota Agustina Dorong Gerakan Nasional Penyelamatan Heritage Kota Maritim
Rayakan 70 Juta Streaming...
Rayakan 70 Juta Streaming ‘Masa Ini, Nanti, dan Masa Indah Lainnya’, Nuca Adakan '[LAGI] Sama Nuca’
Berita Terkini
Kurangi Ketergantungan...
Kurangi Ketergantungan Eropa dari AS, Mampukah Turki Ingin Memperkuat NATO 3.0?
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Infografis
4 Senjata Andalan China,...
4 Senjata Andalan China, dari Robot Serigala hingga Rudal Hipersonik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved