4 Tahun Perang Melawan Rusia, Ukraina Kini Jadi Negeri Para Janda dan Yatim Piatu

Senin, 23 Februari 2026 - 04:40 WIB
loading...
4 Tahun Perang Melawan...
Ukraina kini jadi negeri para janda dan yatim piantu. Foto/X
A A A
MOSKOW - Olena Bilozerska dan suaminya selalu tahu bahwa mereka menginginkan anak. Ia berusia 34 tahun dan mereka siap untuk mulai mencoba memiliki anak ketika perang meletus di Ukraina timur pada tahun 2014. Pasangan itu bergabung dalam pertempuran dan memutuskan bahwa memiliki bayi harus ditunda. Pada saat Bilozerska meninggalkan militer, ia berusia 41 tahun dan diberitahu oleh dokter bahwa peluangnya untuk hamil hampir nol. Sudah terlambat.

Saat perang di Ukraina memasuki tahun keempat, angka kelahiran Ukraina anjlok, dengan semakin banyak orang yang kesulitan hamil atau menunda keputusan untuk memiliki anak. Pada saat yang sama, kerugian terus meningkat di garis depan, dan jutaan orang yang telah mengungsi kini menetap di luar negeri. Hasilnya adalah salah satu krisis demografis terburuk di dunia.

“Ini adalah bencana,” kata Ella Libanova, seorang ahli demografi terkemuka Ukraina, kepada CNN. “Tidak ada negara yang dapat eksis tanpa penduduk. Bahkan sebelum perang, kepadatan penduduk Ukraina rendah (dan) tersebar sangat tidak merata.”

Libanova mengatakan Ukraina telah kehilangan sekitar 10 juta orang sejak awal perang – antara mereka yang telah terbunuh, meninggalkan negara itu, atau tinggal di daerah yang diduduki Rusia. Dan sementara angka kelahiran negara itu telah menurun selama bertahun-tahun – tren umum di seluruh Eropa – kini hampir runtuh.

Agresi Rusia yang tidak beralasan telah memaksa jutaan warga Ukraina untuk menunda kehidupan mereka. Tetapi bagi banyak perempuan, keputusan ini dapat menimbulkan kerugian besar.

Ketika kembali dari garis depan, Bilozerska diberitahu bahwa peluangnya untuk memiliki bayi sendiri paling banyak hanya 5%. “Para dokter menyarankan saya untuk tidak membuang waktu dan segera menggunakan donor sel telur,” katanya. Tidak tertarik dengan ide itu, ia memulai perawatan kesuburan – meskipun peluangnya sangat kecil.

“Para tentara hidup sehari demi sehari. Mereka hidup untuk melihat malam, untuk melihat hari berikutnya. Mereka memiliki kebutuhan mendesak – dari mana mendapatkan uang untuk drone, untuk perbaikan mobil. Mereka tidak merencanakan apa pun untuk masa depan,” kata Bilozerska kepada CNN di Kyiv.

“Saya menganggapnya sebagai kewajiban moral saya untuk memberi tahu perempuan (militer) bahwa jika mereka menginginkan anak di masa depan, saya akan menyarankan mereka untuk melakukan pemeriksaan dan membekukan sel telur mereka. Saya berbagi kisah saya agar lebih sedikit perempuan yang berakhir dalam situasi seperti itu.”

Untuk memaksimalkan peluang keberhasilan prosedur fertilisasi in vitro (IVF), dokter biasanya mencoba mengambil antara 10 hingga 15 sel telur dalam setiap siklus. Dalam kasus Bilozerska, mereka hanya berhasil mendapatkan satu, dan langsung memperingatkannya bahwa peluangnya untuk sehat sangat kecil. Setelah membuahinya dengan sperma suaminya, mereka sekali lagi memperingatkannya: Risiko kegagalannya sangat tinggi.

Beberapa hari berikutnya terasa seperti siksaan, pasangan itu menunggu untuk melihat apakah embrio tersebut akan bertahan hidup. Ketika berhasil, Bilozerska, yang saat itu berusia 42 tahun, siap untuk mengambil satu-satunya kesempatan untuk memiliki bayi.



Saat itulah Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina. Sebagai seorang perwira militer yang terlatih, Bilozerska segera dibutuhkan kembali di garis depan. Embrio tersebut tetap berada di Kyiv, dibekukan dan disimpan di bank kriopreservasi bersama sekitar 10.000 embrio lainnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jenderal Tertinggi AS...
Jenderal Tertinggi AS Ungkap Jet Tempur F-16 Ukraina Tembak Jatuh Su-35 Rusia dalam Duel Langit
Iran Berhasil Serang...
Iran Berhasil Serang Situs CIA, Amerika Curiga Rusia Terlibat
Presiden Zelensky Akan...
Presiden Zelensky Akan Memiliki Pesaing Politik yang Kuat, Ini 5 Pemicunya
AS Terlibat Langsung...
AS Terlibat Langsung dalam Serangan Drone Ukraina, Rusia: Washington Munafik!
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
Zelensky Ditekan untuk...
Zelensky Ditekan untuk Pecat Jenderal Tertinggi Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
UU Etnis Kontroversial...
UU Etnis Kontroversial China Mulai Diberlakukan, Berpotensi Hapus Identitas Budaya Minoritas
Presiden Nikaragua Daniel...
Presiden Nikaragua Daniel Ortega Hapus Pemilu di Negaranya, Ini Alasannya
Rekomendasi
Laba Bank Mandiri Naik...
Laba Bank Mandiri Naik 25% Jadi Rp28,5 Triliun di Semester I-2026
MNC Peduli Gelar Operasi...
MNC Peduli Gelar Operasi Bibir Sumbing Gratis di Bogor
Gagas GEBRAK, Perindo...
Gagas GEBRAK, Perindo Badung Cetak Lebih Banyak Pencipta Lapangan Kerja di Bali
Berita Terkini
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
Lebih dari 2.300 Pemukim...
Lebih dari 2.300 Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al-Aqsa, Hamas dan Yordania Murka
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
AS Luncurkan Serangan...
AS Luncurkan Serangan Hari Ke-12, Iran Siap Terapkan Doktrin 'Mata Ganti Mata'
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Israel Ketakutan
Infografis
AS Siapkan 100 Hari...
AS Siapkan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved