Lawan China, Taiwan Akan Bangun 10 Kapal Perang 2.500 Ton dan Beli 10 Pesawat C-130J AS

Selasa, 10 Februari 2026 - 11:17 WIB
loading...
Lawan China, Taiwan...
Taiwan akan membangun 10 kapal perang yang masing-masing berbobot 2.500 ton serta membeli 10 pesawat C-130J AS untuk melawan ancaman China. Foto/Kantor Presiden Taiwan/Simon Liu
A A A
TAIPEI - Taiwan berencana untuk membangun 10 kapal perang yang masing-masing berbobot 2.500 ton dan membeli 10 pesawat militer C-130J Amerika Serikat (AS) untuk melawan ancaman militer China.

Menurut laporan USNI News, Selasa (10/2/2026), rencana itu akan dijalankan hingga 2040.

Kapal-kapal perang tersebut telah ditetapkan sebagai prioritas utama, karena Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan (MND) baru-baru ini mencatat bahwa proyek-proyek peperangan anti-pesawat dan anti-kapal selam (ASW) akan menghabiskan USD7,8 miliar dari total dana USD9,9 miliar untuk proyek-proyek pembangunan kapal besar.

Baca Juga: Xi Jinping Telepon Trump: AS Harus Hati-hati dalam Memasok Senjata ke Taiwan!

Sedangkan rencana pembelian 10 pesawat angkut taktis Lockheed Martin C-130J dimaksudkan untuk mengamankan wilayah udara dan laut di sekitar Taiwan.

Di bawah pengadaan baru ini, lima fregat akan dibangun untuk misi anti-pesawat, dan lima lainnya akan dibangun untuk misi anti-kapal selam. Dua kapal perang telah dibangun untuk masing-masing konfigurasi pada tahun 2023 dan 2024.

Fregat ringan ini didasarkan pada desain fregat internasional Gibbs & Cox, meskipun akan dimodifikasi berdasarkan persyaratan khusus. Menurut MND, varian pertahanan udara akan memiliki panjang 96 meter (315 kaki), sedangkan varian anti-kapal selam (ASW) akan memiliki panjang 116 meter (381 kaki).

Selain fregat ringan, Angkatan Laut Republik China (ROCN) Taiwan juga berencana untuk membeli kapal penyelamat kapal selam, kapal pendukung tempur cepat, dua kapal penyelamat, dan kapal serbu amfibi berbobot 10.600 ton.

Laporan USNI News menyebutkan bahwa Taiwan saat ini sedang mempensiunkan fregat kelas Knox era Perang Dingin. Namun, karena meningkatnya ketegangan, Taiwan mempertimbangkan untuk meningkatkan kapasitas Angkatan Laut-nya untuk bertahan melawan potensi invasi China.

Angkatan Laut Taiwan terlalu bergantung pada desain Amerika dan Prancis yang sudah tua, termasuk fregat kelas Oliver Hazard Perry, fregat kelas La Fayette, dan kapal perusak kelas Kidd. Kapal-kapalnya juga terus-menerus dibutuhkan karena kapal perang China kerap melanggar zona maritim Taipei.

Taiwan merupakan wilayah yang telah memerintah sendiri secara demokratis selama bertahun-tahun, namun China masih mengeklaim pulau sebagai bagian dari wilayahnya. Beijing telah bertekad menundukkan Taiwan, termasuk dengan kekuatan militer jika diperlukan.

Pada bulan Desember, China meningkatkan ketegangan ke tingkat baru dengan demonstrasi militer di perairan lepas Taiwan. Seperti yang dilaporkan Reuters saat itu, China menembakkan roket ke perairan dalam demonstrasi militer agresif dari kapal serbu barunya.

Selama latihan tersebut, kapal-kapal China berlatih blokade, dan mereka melakukan latihan tembak langsung selama 10 jam. Pada saat yang sama, media pemerintah China dilaporkan merilis gambar yang menekankan superioritas teknologi dan militer Beijing, sambil menyoroti kemampuannya untuk merebut Taiwan dengan paksa jika perlu.

Latihan tersebut, yang disebut "Misi Keadilan 2025", dimulai 11 hari setelah AS mengumumkan kesepakatan paket senjata senilai USD11,1 miliar dengan Taiwan.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Israel Incar Pemimpin...
Israel Incar Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, Siap Perang Lagi 
Rekomendasi
PN Jaktim Izinkan Siaran...
PN Jaktim Izinkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa kecuali Tahap Pembuktian
Seskab Teddy Ungkap...
Seskab Teddy Ungkap Program Magang Nasional Rangkul Difabel, Pengamat: Terobosan Paling Progresif
Bukan Cuma Jago Nyanyi,...
Bukan Cuma Jago Nyanyi, Meidra Idol Ternyata Pernah Terjun ke Dunia Kapal Tanker
Berita Terkini
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Infografis
Tegaskan Status Negara...
Tegaskan Status Negara Berdaulat, Taiwan Lawan China di PBB
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved