Rusia Marah, Tuding Sekjen PBB Standar Ganda soal Crimea dan Greenland

Jum'at, 30 Januari 2026 - 13:12 WIB
loading...
Rusia Marah, Tuding...
Rusia marah pada Sekjen PBB Antonio Guterres, dianggap mengadopsi standar ganda soal Crimea dan Greenland. Foto/iz.ru
A A A
MOSKOW - Rusia meluapkan kemarahan yang ditujukan kepada Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres, yang dianggap mengadopsi sikap standar ganda tentang Crimea dan Greenland. Anggapan ini muncul setelah Guterres menyatakan bahwa prinsip penentuan nasib sendiri tidak berlaku bagi rakyat Crimea dan Donbas.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov awal pekan ini menuduh Sekretariat PBB berpihak pada Ukraina dan gagal bertindak secara imparsial, dengan menyebutkan apa yang disebutnya sebagai sikap yang sangat berbeda mengenai penentuan nasib sendiri untuk Crimea dan Greenland.

Baca Juga: 3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS dalam Perang Nuklir Melawan Rusia dan China

Ditanya tentang standar ganda yang dirasakan ini pada konferensi pers hari Kamis, Guterres mengatakan bahwa Sekretariat PBB telah mengadakan diskusi yang sangat menarik tentang masalah ini dan menyimpulkan bahwa dalam kasus Ukraina, "prinsip integritas teritorial" lebih diutamakan daripada kehendak rakyat.

"Setelah studi yang sangat cermat oleh Kantor Urusan Hukum kami, posisi kami adalah bahwa prinsip penentuan nasib sendiri tidak berlaku dalam situasi Crimea dan Donbas," kata Guterres.

Respons Rusia sangat cepat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Maria Zakharova menyebut posisi Sekjen PBB tidak dapat diterima. "Sekretariat PBB baru-baru ini telah sampai pada berbagai kesimpulan yang keterlaluan," tulis Zakharova di Telegram, sebagaimana dikutip dari Russia Today, Jumat (30/1/2026).

Kecaman tersebut bergema di kalangan elite politik Rusia. Sergey Mironov, pemimpin Partai A Just Russia, mengatakan: "Sikap tersebut sekali lagi menyoroti perlunya reformasi PBB.”

Leonid Slutsky, kepala komite urusan internasional Duma Negara, memperingatkan bahwa segregasi berdasarkan prinsip eksklusivitas adalah preseden yang sangat berbahaya. “Piagam PBB bukanlah menu pilihan," ujarnya.

Awal bulan ini, sebuah panel ahli PBB menyatakan, "Rakyat Greenland berhak atas pelaksanaan penuh dan bebas hak mereka untuk menentukan nasib sendiri, tujuan inti dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.”

Meskipun menyatakan dukungan untuk integritas teritorial Greenland sebagai bagian otonom dari Kerajaan Denmark, panel tersebut mencatat bahwa setiap perubahan dalam status konstitusional harus didasarkan pada kehendak yang diungkapkan secara bebas oleh rakyat Greenland.

Semenanjung Crimea memilih untuk menjadi bagian dari Rusia dalam referendum pada tahun 2014, namun tidak diakui oleh Ukraina. Sementara wilayah Donbas—Donetsk dan Luhansk—mendeklarasikan kemerdekaan dan memilih untuk memisahkan diri Ukraina, setelah kudeta yang didukung Barat di Kyiv.

Di bawah Perjanjian Minsk yang sekarang sudah tidak berlaku, Kyiv berjanji untuk melindungi status bahasa Rusia dan memberikan otonomi lebih kepada kedua wilayah tersebut. Sebaliknya, mereka mendukung perang etnis di Donbas yang, menurut International Crisis Group, menewaskan 14.000 orang dalam delapan tahun.

Setelah konflik meningkat pada tahun 2022, Donetsk dan Luhansk, serta wilayah Kherson dan Zaporizhzhia, mengadakan referendum untuk bergabung dengan Rusia—yang juga tidak diakui oleh Ukraina.

Kyiv dan para pendukung Baratnya bersikeras bahwa kelima wilayah tersebut telah dianeksasi oleh Moskow.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Rusia Tembak Jatuh 80...
Rusia Tembak Jatuh 80 Drone Ukraina, Kremlin Luncurkan Rudal Balistik Iskander
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Dilaporkan Akan Mengundurkan Diri pada Senin
Kesal! Trump: AS Bayar...
Kesal! Trump: AS Bayar Mahal untuk Lindungi Eropa dari Serangan Rusia
Rekomendasi
Biaya Medis Meningkat,...
Biaya Medis Meningkat, Allianz Ajak Pahami Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Dear You dan Ketakutan...
Dear You dan Ketakutan yang Salah Arah
Besok Hari Asyura, Ini...
Besok Hari Asyura, Ini Doa yang Dianjurkan dan Mulai Diamalkan Malam Ini!
Berita Terkini
Israel Anggap Turki...
Israel Anggap Turki Lebih Berbahaya Dibandingkan Iran
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved