Presiden Trump Telah Dibriefing tentang Opsi AS Menyerang Iran
Senin, 12 Januari 2026 - 06:38 WIB
loading...
A
A
A
“Saya telah menyatakan dengan sangat tegas bahwa jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, kami akan ikut campur,” kata Trump kepada wartawan pada hari Jumat, saat bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak.
“Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka. Dan itu tidak berarti mengerahkan pasukan darat, tetapi itu berarti menyerang mereka dengan sangat, sangat keras di titik lemah mereka. Jadi kami tidak ingin itu terjadi.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara melalui telepon pada Sabtu pagi dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari Israel, menurut tiga orang yang mengetahui isi percakapan tersebut. Kedua pemimpin tersebut membahas protes di Iran, bersama dengan situasi di Suriah dan kesepakatan perdamaian di Gaza, imbuh tiga sumber tersebut.
Pada Sabtu pagi, Rubio menulis di akun media sosial pribadinya bahwa Amerika Serikat “mendukung rakyat Iran yang berani.”
Sejak Presiden Trump memerintahkan militer AS untuk menyerang Venezuela pada 3 Januari dan menangkap presiden negara itu; Nicolás Maduro, dan istrinya; Cilia Flores, pemerintahan Trump telah menekankan dalam berbagai pernyataan publik bahwa Trump siap mengambil tindakan berani dalam konteks lain dan menepati janjinya untuk melaksanakan ancaman.
Pada hari Jumat, Departemen Luar Negeri AS mengunggah video yang menampilkan adegan serangan malam hari di Venezuela di akun media sosial resmi, disertai dengan kalimat: “Jangan bermain-main dengan Presiden Trump. Ketika dia mengatakan akan melakukan sesuatu, dia bersungguh-sungguh.”
Para pejabat senior AS mengatakan pada hari Sabtu bahwa setidaknya beberapa opsi yang disajikan kepada Trump untuk situasi di Iran akan terkait langsung dengan elemen-elemen dinas keamanan negara yang menggunakan kekerasan untuk menekan protes yang semakin meningkat.
Namun, pada saat yang sama, para pejabat AS mengatakan mereka harus berhati-hati agar serangan militer apa pun tidak menimbulkan efek sebaliknya—membangkitkan dukungan publik Iran untuk pemerintah—atau memicu serangkaian serangan balasan yang dapat mengancam personel militer dan diplomatik AS di Timur Tengah.
Seorang pejabat militer senior AS mengatakan bahwa para komandan di wilayah tersebut menginginkan lebih banyak waktu sebelum potensi serangan apa pun untuk mengkonsolidasikan posisi militer AS dan mempersiapkan pertahanan untuk kemungkinan serangan balasan oleh Iran.
“Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka. Dan itu tidak berarti mengerahkan pasukan darat, tetapi itu berarti menyerang mereka dengan sangat, sangat keras di titik lemah mereka. Jadi kami tidak ingin itu terjadi.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berbicara melalui telepon pada Sabtu pagi dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari Israel, menurut tiga orang yang mengetahui isi percakapan tersebut. Kedua pemimpin tersebut membahas protes di Iran, bersama dengan situasi di Suriah dan kesepakatan perdamaian di Gaza, imbuh tiga sumber tersebut.
Pada Sabtu pagi, Rubio menulis di akun media sosial pribadinya bahwa Amerika Serikat “mendukung rakyat Iran yang berani.”
Sejak Presiden Trump memerintahkan militer AS untuk menyerang Venezuela pada 3 Januari dan menangkap presiden negara itu; Nicolás Maduro, dan istrinya; Cilia Flores, pemerintahan Trump telah menekankan dalam berbagai pernyataan publik bahwa Trump siap mengambil tindakan berani dalam konteks lain dan menepati janjinya untuk melaksanakan ancaman.
Pada hari Jumat, Departemen Luar Negeri AS mengunggah video yang menampilkan adegan serangan malam hari di Venezuela di akun media sosial resmi, disertai dengan kalimat: “Jangan bermain-main dengan Presiden Trump. Ketika dia mengatakan akan melakukan sesuatu, dia bersungguh-sungguh.”
Para pejabat senior AS mengatakan pada hari Sabtu bahwa setidaknya beberapa opsi yang disajikan kepada Trump untuk situasi di Iran akan terkait langsung dengan elemen-elemen dinas keamanan negara yang menggunakan kekerasan untuk menekan protes yang semakin meningkat.
Namun, pada saat yang sama, para pejabat AS mengatakan mereka harus berhati-hati agar serangan militer apa pun tidak menimbulkan efek sebaliknya—membangkitkan dukungan publik Iran untuk pemerintah—atau memicu serangkaian serangan balasan yang dapat mengancam personel militer dan diplomatik AS di Timur Tengah.
Seorang pejabat militer senior AS mengatakan bahwa para komandan di wilayah tersebut menginginkan lebih banyak waktu sebelum potensi serangan apa pun untuk mengkonsolidasikan posisi militer AS dan mempersiapkan pertahanan untuk kemungkinan serangan balasan oleh Iran.
Lihat Juga :