Presiden Trump Telah Dibriefing tentang Opsi AS Menyerang Iran
Senin, 12 Januari 2026 - 06:38 WIB
loading...
A
A
A
Para pejabat AS mengatakan bahwa setiap tindakan militer harus menyeimbangkan bagaimana memenuhi janji Trump untuk menghukum pemerintah di Teheran jika mereka menindak para demonstran dengan tidak memperburuk situasi.
Trump mempertimbangkan untuk menyerang Iran lagi kurang lebih enam bulan setelah dia memerintahkan serangan terhadap tiga situs nuklir Iran pada Juni lalu.
Dalam serangan itu, yang disebut militer sebagai "Midnight Hammer", enam pesawat pengebom B-2 menjatuhkan 12 bom penghancur bunker di fasilitas pegunungan di Fordo.
Kapal selam Angkatan Laut menembakkan 30 rudal jelajah ke fasilitas nuklir di Natanz dan Isfahan. Satu pesawat B-2 juga menjatuhkan dua bom penghancur bunker di Natanz.
Iran membalas dengan serangan rudal balasan, serta tawaran untuk melanjutkan negosiasi mengenai program pengembangan nuklirnya, yang menurut para pemimpin Iran semata-mata untuk penggunaan sipil.
Akhir bulan lalu, Trump bertemu dengan Netanyahu di Mar-a-Lago, klub pribadinya di Florida, dan membahas program nuklir dan rudal balistik Iran. Netanyahu telah berulang kali mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Iran terus membangun kemampuan tersebut.
Trump mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan itu bahwa dia telah mendengar Iran "berperilaku buruk" dan bahwa dia akan mendukung serangan Israel terhadap negara itu jika para pejabat Iran tetap melanjutkan perluasan program nuklir dan rudal.
Trump telah memerintahkan serangan udara di seluruh dunia sejak awal masa jabatan keduanya hampir setahun yang lalu. Selain serangan terhadap Iran pada bulan Juni dan serangan pada 3 Januari di Venezuela, militer AS telah menjatuhkan bom atau menembakkan rudal di Suriah, Yaman, Somalia, dan Nigeria.
Pada masa jabatan pertamanya, pada tahun 2020, Trump memerintahkan serangan pesawat tak berawak di Baghdad, Irak, yang menewaskan Mayor Jenderal Qassim Suleimani, seorang komandan Pasukan Quds Iran, unit elite di dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang kuat.
Trump mempertimbangkan untuk menyerang Iran lagi kurang lebih enam bulan setelah dia memerintahkan serangan terhadap tiga situs nuklir Iran pada Juni lalu.
Dalam serangan itu, yang disebut militer sebagai "Midnight Hammer", enam pesawat pengebom B-2 menjatuhkan 12 bom penghancur bunker di fasilitas pegunungan di Fordo.
Kapal selam Angkatan Laut menembakkan 30 rudal jelajah ke fasilitas nuklir di Natanz dan Isfahan. Satu pesawat B-2 juga menjatuhkan dua bom penghancur bunker di Natanz.
Iran membalas dengan serangan rudal balasan, serta tawaran untuk melanjutkan negosiasi mengenai program pengembangan nuklirnya, yang menurut para pemimpin Iran semata-mata untuk penggunaan sipil.
Akhir bulan lalu, Trump bertemu dengan Netanyahu di Mar-a-Lago, klub pribadinya di Florida, dan membahas program nuklir dan rudal balistik Iran. Netanyahu telah berulang kali mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Iran terus membangun kemampuan tersebut.
Trump mengatakan kepada wartawan setelah pertemuan itu bahwa dia telah mendengar Iran "berperilaku buruk" dan bahwa dia akan mendukung serangan Israel terhadap negara itu jika para pejabat Iran tetap melanjutkan perluasan program nuklir dan rudal.
Trump telah memerintahkan serangan udara di seluruh dunia sejak awal masa jabatan keduanya hampir setahun yang lalu. Selain serangan terhadap Iran pada bulan Juni dan serangan pada 3 Januari di Venezuela, militer AS telah menjatuhkan bom atau menembakkan rudal di Suriah, Yaman, Somalia, dan Nigeria.
Pada masa jabatan pertamanya, pada tahun 2020, Trump memerintahkan serangan pesawat tak berawak di Baghdad, Irak, yang menewaskan Mayor Jenderal Qassim Suleimani, seorang komandan Pasukan Quds Iran, unit elite di dalam Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang kuat.
(mas)
Lihat Juga :