Perilaku Militer China Berisiko Picu Insiden Tak Disengaja dengan Jepang
Jum'at, 26 Desember 2025 - 10:12 WIB
loading...
A
A
A
“Pengakuan Takaichi memicu respons yang kikuk dan terus meningkat dari Beijing, dimulai dari retorika eskalatif dan tuntutan pencabutan pernyataan, lalu berlanjut ke langkah diplomatik dan ekonomi balasan,” tulisnya.
Baca Juga: Insiden Radar Okinawa: Sinyal Eskalasi Baru dalam Dinamika Keamanan Jepang-China
Situasi memburuk ketika China meningkatkan manuver militernya di sekitar Jepang, termasuk penerbangan pesawat tanpa awak di dekat Pulau Yonaguni serta pelayaran kapal perang melalui sejumlah selat Jepang. China juga melakukan penerbangan gabungan pesawat pengebom mengelilingi Pulau Honshu dan Kyushu bersama pesawat Rusia. Puncaknya terjadi saat jet tempur China yang beroperasi dari kapal induk Liaoning memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Jepang.
Angkatan Udara Bela Diri Jepang mengerahkan jet tempurnya sesuai prosedur standar untuk melakukan pencegatan dan pengawalan. Namun, insiden berbahaya terjadi ketika pesawat tempur China dilaporkan mengarahkan radar kendali tembakan ke arah jet Jepang.
“Ketika jet tempur China mulai beroperasi di dalam ADIZ Jepang, Angkatan Udara Bela Diri mengikuti prosedur standar, tetapi pesawat China dilaporkan mengarahkan radar kendali tembakan ke pesawat Jepang—langkah yang diperlukan sebelum penggunaan senjata terhadap target,” tutur Bosack.
Insiden tersebut menuai kecaman keras dari pemerintah Jepang. Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi mengeluarkan sejumlah pernyataan resmi, sementara pemerintah China berupaya mengalihkan tanggung jawab kepada pihak Jepang. Meski armada kapal induk Liaoning akhirnya kembali ke China dan krisis akut berhasil dihindari, Bosack memperingatkan bahwa insiden ini mencerminkan masalah yang lebih besar.
Baca Juga: Insiden Radar Okinawa: Sinyal Eskalasi Baru dalam Dinamika Keamanan Jepang-China
Situasi memburuk ketika China meningkatkan manuver militernya di sekitar Jepang, termasuk penerbangan pesawat tanpa awak di dekat Pulau Yonaguni serta pelayaran kapal perang melalui sejumlah selat Jepang. China juga melakukan penerbangan gabungan pesawat pengebom mengelilingi Pulau Honshu dan Kyushu bersama pesawat Rusia. Puncaknya terjadi saat jet tempur China yang beroperasi dari kapal induk Liaoning memasuki Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Jepang.
Angkatan Udara Bela Diri Jepang mengerahkan jet tempurnya sesuai prosedur standar untuk melakukan pencegatan dan pengawalan. Namun, insiden berbahaya terjadi ketika pesawat tempur China dilaporkan mengarahkan radar kendali tembakan ke arah jet Jepang.
“Ketika jet tempur China mulai beroperasi di dalam ADIZ Jepang, Angkatan Udara Bela Diri mengikuti prosedur standar, tetapi pesawat China dilaporkan mengarahkan radar kendali tembakan ke pesawat Jepang—langkah yang diperlukan sebelum penggunaan senjata terhadap target,” tutur Bosack.
Risiko Kesalahan Fatal
Insiden tersebut menuai kecaman keras dari pemerintah Jepang. Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi mengeluarkan sejumlah pernyataan resmi, sementara pemerintah China berupaya mengalihkan tanggung jawab kepada pihak Jepang. Meski armada kapal induk Liaoning akhirnya kembali ke China dan krisis akut berhasil dihindari, Bosack memperingatkan bahwa insiden ini mencerminkan masalah yang lebih besar.
Lihat Juga :