Dengan Fatwa dan Janji Resmi, Taliban Tawarkan Jaminan Tersirat pada Pakistan

Sabtu, 13 Desember 2025 - 09:30 WIB
loading...
Dengan Fatwa dan Janji...
Perwakilan Taliban dalam suatu forum resmi. Foto/lowy institute
A A A
KABUL - Pemerintah Taliban Afghanistan meningkatkan jaminan tersiratnya kepada Pakistan, beberapa hari setelah bentrokan perbatasan antara kedua negara. Langkah ini di tengah upaya menyelamatkan gencatan senjata yang rapuh.

Pertemuan yang dihadiri lebih dari seribu ulama Afghanistan dari seluruh negeri, termasuk Perdana Menteri Sementara Mullah Mohammad Hasan Akhund dan pejabat senior lainnya di Kabul, mengeluarkan pernyataan politik dan hukum (fatwa) pada hari Rabu, yang berjanji bahwa wilayah Afghanistan tidak akan digunakan untuk merugikan negara mana pun dan bersumpah menghadapi mereka yang ikut campur dalam konflik di luar perbatasan Afghanistan.

Beberapa jam setelah fatwa dikeluarkan, Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi secara terbuka menegaskan kembali komitmen pemerintahnya terhadap isi fatwa tersebut, dalam upaya meredam ketegangan yang meningkat setelah serangan di dalam Pakistan yang dikaitkan dengan kelompok militan, terutama Taliban Pakistan (Tehrik-e-Taliban Pakistan).

Dalam serangan terbaru, enam tentara Pakistan tewas pada hari Selasa ketika pos keamanan menjadi sasaran di daerah Kurram dekat perbatasan Afghanistan.

Islamabad menyalahkan peningkatan kekerasan tersebut pada militan yang menggunakan wilayah Afghanistan untuk merencanakan serangan lintas batas terhadap pasukan keamanannya.

Namun, Kabul menolak tuduhan ini, dan bersikeras mereka tidak memiliki hubungan operasional dengan Taliban Pakistan.

Pernyataan tersebut, yang dikeluarkan pada akhir "Seminar tentang Mempertahankan dan Melindungi Sistem Islam", memberikan perlindungan agama bagi posisi pemerintah Kabul.

Pernyataan itu menegaskan emirat "telah memikul kewajiban bahwa tanah Afghanistan tidak akan digunakan untuk melawan negara mana pun," menekankan komitmen ini "adalah kewajiban bagi semua Muslim."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Ini 5 Bukti Perjanjian...
Ini 5 Bukti Perjanjian Damai AS dan Iran Tunjukkan Kegagalan Tujuan Perang Israel
Pasukan Elite AS Siapkan...
Pasukan Elite AS Siapkan Skenario Caplok Uranium Iran, tapi Kenapa Tidak Dilaksanakan?
AS Klaim Tembak Jatuh...
AS Klaim Tembak Jatuh Banyak Drone Iran
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Heboh! Pentagon Sempat...
Heboh! Pentagon Sempat Lockdown Usai Sensor Deteksi Antraks, Ternyata Alarm Palsu
Gugur dalam Serangan...
Gugur dalam Serangan AS-Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Dimakamkan 9 Juli
Rekomendasi
Mengapa Harga Pertamax...
Mengapa Harga Pertamax Naik? Kemkomdigi: Karena Indonesia Tak Hidup Sendirian
Sensus Ekonomi 2026...
Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai Besok 15 Juni 2026, Usaha Nasional Didata Tanpa Terkecuali
Presiden Jerman Kunjungi...
Presiden Jerman Kunjungi Indonesia, Dijadwalkan ke Istiqlal dan Katedral
Berita Terkini
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Infografis
5 Badan Intelijen Terbaik...
5 Badan Intelijen Terbaik pada 2025, Nomor 2 Paling Kejam dan Kontroversial
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved