Kaleidoskop 2025: Ini 6 Momen Besar yang Guncang Dunia
Kamis, 04 Desember 2025 - 14:35 WIB
loading...
Perang 12 hari antara Iran dan Israel menjadi salah satu dari enam momen besar yang mengguncang dunia sepanjang tahun 2025. Foto/Tehran Times
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2025 diwarnai momen-momen politik tak terduga dan perang pertumpahan darah. Dari Washington hingga Damaskus, dari Pyongyang hingga New York, dunia bergerak bukan hanya cepat, tetapi juga liar, seolah para pemimpin global sepakat mengubah aturan permainan sekaligus.
Tak ada minggu tanpa guncangan, dan tak ada bulan tanpa babak baru yang menegangkan.
Di tengah ketidakpastian, lahirlah peristiwa-peristiwa yang membalikkan logika lama: seorang mantan militan yang bahkan dilabeli sebagai "teroris" menjadi presiden, pasukan negara tertutup paling misterius di dunia ikut perang di Eropa, dan serangan besar di Timur Tengah mengubah peta regional dalam hitungan jam.
Baca Juga: Putin Nyatakan Rusia Siap Perang, Beranikah Eropa? Ini Analisisnya
Sementara itu, gelombang perubahan politik lokal—dari New York hingga Jepang—memberikan warna baru bahwa dunia tak hanya bergerak dari konflik, tapi juga dari kejutan demokratis yang tak disangka-sangka.
Semua ini membuat tahun 2025 terasa seperti persimpangan sejarah besar yang tidak ada di buku teks mana pun.
6 Momen Besar yang Mengguncang Dunia
Kembali berkuasanya Trump telah membuat dunia ramai dengan kebijakan-kebijakan keras sang presiden. Berikut ini sepak terjang Trump dalam setahun terakhir:
1. Trump menekan NATO untuk menaikkan anggaran militer besar-besaran.
2. Trump melakukan pendekatan lebih keras terhadap imigrasi dengan razia dan deportasi massal para imigran.
3. Trump melakukan pendekatan lebih keras terhadap China.
4. Trump merevisi ulang sejumlah perjanjian dagang dan pengenaan tarif terhadap sejumlah negara.
5. Trump melakukan pendekatan isolasionis namun agresif dalam isu militer.
Kebijakan luar negeri AS kembali bergerak ke arah unilateral, menciptakan ketidakpastian di Eropa dan Asia.
Selama jadi pentolan HTS, dia sempat dilabeli sebagai "teroris" oleh Amerika Serikat (AS)—yang bahkan sempat menawarkan hadiah USD10 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Setelah dia berkuasa, semuanya berubah. Ahmed al-Sharaa menjadi Presiden Suriah, momen yang mengejutkan dunia internasional. Tak hanya itu, dia diundang ke Gedung Putih untuk pertama kalinya dan dijamu Presiden Donald Trump.
Negara-negara besar terbagi dalam menyikapi legitimasi pemerintah baru Suriah ini, sementara Timur Tengah memasuki babak ketidakstabilan baru.
Keterlibatan langsung tentara Korea Utara dalam membantu Rusia di front Ukraina menjadikan konflik tersebut semakin berkarakter global.
Ada tiga dampak keterlibatan Korea Utara dalam perang Rusia-Ukriana:
1. Pyongyang mendapat pengaruh baru sebagai mitra strategis Moskow.
2. Hubungan antara Korea Utara dan Barat semakin memburuk.
3. Kekuatan militer Ukraina menghadapi tekanan tambahan dari pasukan asing.
Langkah Pyongyang ini juga memperkuat blok Rusia–Korea Utara–Iran dalam keseimbangan kekuatan internasional.
Perang Iran-Israel dimulai setelah Israel meluncurkan serangan pada Juni dengan dalih mencegah Teheran membuat bom nuklir. Iran membalas yang berujung pada aksi saling serang rudal selama 12 hari. Amerika Serikat ikut campur dengan ikut mengebom Iran.
Selama perang melawan Hamas, Israel juga menyerang enam negara Arab sekaligus yakni Palestina (wilayah Gaza dan Tepi Barat), Yaman (berdalih menyerang kelompok Houthi), Lebanon (menyerang kelompok Hizbullah), Suriah (berdalih melumpuhkan militer sisa-sisa rezim Bashar al-Assad), dan Qatar (berdalih menyerang pertemuan para pemimpin Hamas di Doha).
Amuk militer Israel ini membuat Timur Tengah memasuki fase paling rapuh dalam dua dekade terakhir.
Implikasinya adalah menegaskan kebangkitan politik generasi muda imigran, memperkuat agenda sosial progresif (perumahan, transportasi publik, reformasi kepolisian), dan menunjukkan perubahan demografis serta politik kelas pekerja di New York.
Kemenangan Mamdani juga dipandang sebagai simbol keragaman yang semakin kuat dalam politik Amerika.
Terpilihnya Takaichi mencerminkan meningkatnya peran perempuan di politik Jepang yang selama ini sangat maskulin, orientasi tegas dalam kebijakan keamanan dan ekonomi daerah, serta perubahan persepsi publik terhadap kepemimpinan perempuan.
Namun, kemunculan Takaichi justru melahirkan babak baru perseteruan Jepang dengan China. Takaichi, dalam komentar beraninya, menyatakan invasi China terhadap Taiwan akan memicu respons militer Jepang.
Komentar tersebut telah menyeret kedua negara dalam perseteruan diplomatik dan perlahan mendorong Jepang dan China ke ambang perang.
Tak ada minggu tanpa guncangan, dan tak ada bulan tanpa babak baru yang menegangkan.
Di tengah ketidakpastian, lahirlah peristiwa-peristiwa yang membalikkan logika lama: seorang mantan militan yang bahkan dilabeli sebagai "teroris" menjadi presiden, pasukan negara tertutup paling misterius di dunia ikut perang di Eropa, dan serangan besar di Timur Tengah mengubah peta regional dalam hitungan jam.
Baca Juga: Putin Nyatakan Rusia Siap Perang, Beranikah Eropa? Ini Analisisnya
Sementara itu, gelombang perubahan politik lokal—dari New York hingga Jepang—memberikan warna baru bahwa dunia tak hanya bergerak dari konflik, tapi juga dari kejutan demokratis yang tak disangka-sangka.
Semua ini membuat tahun 2025 terasa seperti persimpangan sejarah besar yang tidak ada di buku teks mana pun.
6 Momen Besar yang Mengguncang Dunia
1. Kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih
Kemenangan Donald John Trump dalam Pemilu Amerika Serikat (AS) 2024 dan pelantikannya pada Januari 2025 menandai kembalinya era politik “America First”.Kembali berkuasanya Trump telah membuat dunia ramai dengan kebijakan-kebijakan keras sang presiden. Berikut ini sepak terjang Trump dalam setahun terakhir:
1. Trump menekan NATO untuk menaikkan anggaran militer besar-besaran.
2. Trump melakukan pendekatan lebih keras terhadap imigrasi dengan razia dan deportasi massal para imigran.
3. Trump melakukan pendekatan lebih keras terhadap China.
4. Trump merevisi ulang sejumlah perjanjian dagang dan pengenaan tarif terhadap sejumlah negara.
5. Trump melakukan pendekatan isolasionis namun agresif dalam isu militer.
Kebijakan luar negeri AS kembali bergerak ke arah unilateral, menciptakan ketidakpastian di Eropa dan Asia.
2. Ahmed al-Sharaa: dari Teroris Menjadi Presiden Suriah
Ahmed al-Sharaa dulunya adalah pemimpin Hay'at Tahrir al-Syam (HTS), cabang al-Qaeda di Suriah. Bersama kelompoknya, dia berhasil menggulingkan rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024.Selama jadi pentolan HTS, dia sempat dilabeli sebagai "teroris" oleh Amerika Serikat (AS)—yang bahkan sempat menawarkan hadiah USD10 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Setelah dia berkuasa, semuanya berubah. Ahmed al-Sharaa menjadi Presiden Suriah, momen yang mengejutkan dunia internasional. Tak hanya itu, dia diundang ke Gedung Putih untuk pertama kalinya dan dijamu Presiden Donald Trump.
Negara-negara besar terbagi dalam menyikapi legitimasi pemerintah baru Suriah ini, sementara Timur Tengah memasuki babak ketidakstabilan baru.
3. Tentara Korea Utara Ikut Perang Melawan Ukraina
Keterlibatan langsung tentara Korea Utara dalam membantu Rusia di front Ukraina menjadikan konflik tersebut semakin berkarakter global.
Ada tiga dampak keterlibatan Korea Utara dalam perang Rusia-Ukriana:
1. Pyongyang mendapat pengaruh baru sebagai mitra strategis Moskow.
2. Hubungan antara Korea Utara dan Barat semakin memburuk.
3. Kekuatan militer Ukraina menghadapi tekanan tambahan dari pasukan asing.
Langkah Pyongyang ini juga memperkuat blok Rusia–Korea Utara–Iran dalam keseimbangan kekuatan internasional.
4. Israel Serang Iran dan 6 Negara Arab
Tahun 2025 juga ditandai eskalasi paling dramatis di Timur Tengah. Dari mulanya perang Israel Hamas di Gaza yang dimulai sejak 2023, kini melebar menjadi perang Israel melawan Iran dan enam negara Arab sekaligus.Perang Iran-Israel dimulai setelah Israel meluncurkan serangan pada Juni dengan dalih mencegah Teheran membuat bom nuklir. Iran membalas yang berujung pada aksi saling serang rudal selama 12 hari. Amerika Serikat ikut campur dengan ikut mengebom Iran.
Selama perang melawan Hamas, Israel juga menyerang enam negara Arab sekaligus yakni Palestina (wilayah Gaza dan Tepi Barat), Yaman (berdalih menyerang kelompok Houthi), Lebanon (menyerang kelompok Hizbullah), Suriah (berdalih melumpuhkan militer sisa-sisa rezim Bashar al-Assad), dan Qatar (berdalih menyerang pertemuan para pemimpin Hamas di Doha).
Amuk militer Israel ini membuat Timur Tengah memasuki fase paling rapuh dalam dua dekade terakhir.
5. Zohran Mamdani Menjadi Wali Kota Muslim Pertama New York
Kemenangan Zohran Kwame Mamdani—politisi progresif keturunan India-Uganda—di pemilihan Wali Kota New York mencatatkan sejarah sebagai wali kota Muslim pertama di kota metropolitan terbesar Amerika Serikat.Implikasinya adalah menegaskan kebangkitan politik generasi muda imigran, memperkuat agenda sosial progresif (perumahan, transportasi publik, reformasi kepolisian), dan menunjukkan perubahan demografis serta politik kelas pekerja di New York.
Kemenangan Mamdani juga dipandang sebagai simbol keragaman yang semakin kuat dalam politik Amerika.
6. Sanae Takaichi Terpilih sebagai Wali Kota Wanita Pertama Jepang
Sanae Takaichi—figur konservatif Partai Demokrat Liberal—menorehkan sejarah sebagai wali kota perempuan pertama Jepang.Terpilihnya Takaichi mencerminkan meningkatnya peran perempuan di politik Jepang yang selama ini sangat maskulin, orientasi tegas dalam kebijakan keamanan dan ekonomi daerah, serta perubahan persepsi publik terhadap kepemimpinan perempuan.
Namun, kemunculan Takaichi justru melahirkan babak baru perseteruan Jepang dengan China. Takaichi, dalam komentar beraninya, menyatakan invasi China terhadap Taiwan akan memicu respons militer Jepang.
Komentar tersebut telah menyeret kedua negara dalam perseteruan diplomatik dan perlahan mendorong Jepang dan China ke ambang perang.
(mas)
Lihat Juga :