6 Upaya Pembunuhan yang Gagal terhadap Keluarga Kerajaan Inggris
Selasa, 02 Desember 2025 - 14:42 WIB
loading...
A
A
A
Pada 16 Juli 1936, Raja Edward berangkat dari Hyde Park dengan kereta kudanya menuju rute terjadwal melalui London. McMahon sedang menunggu di sana dengan sebuah revolver, berencana untuk menembak Raja. McMohan, yang mungkin gugup dengan rencananya, menjatuhkan revolver tersebut, menarik perhatian orang banyak. Kemudian, dalam kepanikan, McMohan mengambil revolver tersebut dan melemparkannya ke arah Raja, meleset sepenuhnya, sebelum akhirnya ditangkap oleh orang banyak. Penyelidikan awal meyakini bahwa McMahon hanya ingin membuat pernyataan, dan tidak berniat membunuh Raja.
Rencana mereka adalah menyembunyikan bubuk mesiu di bawah Gedung Parlemen, dan ketika Raja sedang berada di Parlemen, mereka akan meledakkan gedung tersebut, menewaskan semua orang di dalamnya. Rencana ini akan berhasil jika Guy Fawkes, yang bertanggung jawab menanam bubuk mesiu, tidak tertangkap di ruang bawah tanah Gedung Parlemen.
Selain instruksi tersebut, terdapat pula unggahan yang berisi hal-hal seperti sekolah Pangeran yang menampilkan para pejuang ISIS, dan ejekan seperti kalimat, "Bahkan keluarga kerajaan pun tak akan dibiarkan sendirian." Foto-foto ini, ditambah dengan ancaman langsung terhadap keluarga kerajaan, mendorong intelijen Inggris untuk bertindak cepat dan menangkap Rashid sebelum ia dapat melaksanakan rencananya. Di pengadilan, Rashid mengakui kegiatan terorisnya, tetapi tidak menyesali perbuatannya.
Plot ini bertujuan untuk membunuh Ratu Elizabeth I, seorang Protestan, dan menggantikannya dengan Mary, Ratu Skotlandia, seorang Katolik. Selama beberapa tahun, Babington dan para konspiratornya menggunakan berbagai pesan berkode untuk merencanakan gerakan mereka, yang diangkut dalam benda-benda seperti tong. Tong-tong ini dicegat oleh mata-mata Ratu, yang memungkinkan mereka untuk menangkap dan akhirnya mengeksekusi para konspirator, termasuk Babington dan Mary, Ratu Skotlandia. Hal ini pada akhirnya menjadikan Protestanisme sebagai agama resmi di Inggris, sebuah tradisi yang berlanjut hingga saat ini.
4. Raja James I
Bertanggung jawab atas diperkenalkannya kembali Protestanisme di Inggris, Raja James I memiliki banyak musuh sepanjang masa pemerintahannya. Yang paling terkenal adalah Gereja Katolik. Saking banyaknya musuh, para pemberontak Katolik di Inggris memutuskan untuk membunuh Raja dengan cara yang sangat dramatis.Rencana mereka adalah menyembunyikan bubuk mesiu di bawah Gedung Parlemen, dan ketika Raja sedang berada di Parlemen, mereka akan meledakkan gedung tersebut, menewaskan semua orang di dalamnya. Rencana ini akan berhasil jika Guy Fawkes, yang bertanggung jawab menanam bubuk mesiu, tidak tertangkap di ruang bawah tanah Gedung Parlemen.
5. Pangeran George
Pangeran George adalah pewaris takhta termuda, tetapi itu tidak membuatnya kebal terhadap ancaman. Mulai tahun 2016, simpatisan ISIS, Husnain Rashid, mulai mengunggah instruksi di aplikasi Telegraph kepada pendukung ISIS lainnya tentang cara terbaik untuk menargetkan Pangeran muda tersebut.Selain instruksi tersebut, terdapat pula unggahan yang berisi hal-hal seperti sekolah Pangeran yang menampilkan para pejuang ISIS, dan ejekan seperti kalimat, "Bahkan keluarga kerajaan pun tak akan dibiarkan sendirian." Foto-foto ini, ditambah dengan ancaman langsung terhadap keluarga kerajaan, mendorong intelijen Inggris untuk bertindak cepat dan menangkap Rashid sebelum ia dapat melaksanakan rencananya. Di pengadilan, Rashid mengakui kegiatan terorisnya, tetapi tidak menyesali perbuatannya.
6. Ratu Elizabeth I
Agama merupakan konflik sentral di Inggris selama abad keenam belas, dengan umat Katolik dan Protestan bersaing memperebutkan kekuasaan melalui kendali atas takhta. Salah satu contoh penting dari hal ini adalah Plot Babington, yang dinamai berdasarkan konspirator utama Anthony Babington, seorang Katolik yang taat.Plot ini bertujuan untuk membunuh Ratu Elizabeth I, seorang Protestan, dan menggantikannya dengan Mary, Ratu Skotlandia, seorang Katolik. Selama beberapa tahun, Babington dan para konspiratornya menggunakan berbagai pesan berkode untuk merencanakan gerakan mereka, yang diangkut dalam benda-benda seperti tong. Tong-tong ini dicegat oleh mata-mata Ratu, yang memungkinkan mereka untuk menangkap dan akhirnya mengeksekusi para konspirator, termasuk Babington dan Mary, Ratu Skotlandia. Hal ini pada akhirnya menjadikan Protestanisme sebagai agama resmi di Inggris, sebuah tradisi yang berlanjut hingga saat ini.
(ahm)
Lihat Juga :