Jenderal Zionis: Angkatan Darat Israel Krisis Tentara Terburuk dalam Sejarah, Terancam Lumpuh Total
Senin, 01 Desember 2025 - 11:14 WIB
loading...
Angkatan Darat Israel menghadapi krisis tentara terburuk dalam sejarah, yang membuatnya terancam lumpuh total. Foto/IDF
A
A
A
TEL AVIV - Jenderal cadangan yang juga analis militer Israel, Itzhak Brik, mengungkap bahwa Angkatan Darat negaranya sedang menghadapi "krisis sumber daya manusia terburuk dalam sejarahnya" di tengah kekurangan personel yang parah.
Dalam sebuah artikel opini di harian Maariv, Brik mengatakan ribuan perwira dan bintara telah menghindari tugas militer dalam beberapa bulan terakhir, baik dengan menolak panggilan militer maupun menolak memperbarui kontrak mereka.
Selama dua tahun perang genosida Israel di Gaza, militer kehilangan 923 tentara dan 6.399 lainnya luka-luka, sementara sekitar 20.000 tentara menderita stres pascatrauma, menurut media Israel tersebut yang mengutip data militer.
Baca Juga: Ribuan Warga Israel Antre Minta Kewarganegaraan Portugal, Apa Sebabnya?
Di bawah sensor militer Zionis Israel yang ketat, militer menghadapi tuduhan menyembunyikan kerugian yang lebih besar demi menjaga moral.
Brik menulis bahwa banyak perwira menginginkan pemecatan segera dan rekrutan yang lebih muda menolak menandatangani kontrak jangka panjang, yang menyebabkan kekurangan staf yang luas di seluruh militer.
Menurutnya, penurunan tajam jumlah personel kini menghambat pemeliharaan peralatan dan pengoperasian sistem tempur.
Analis militer tersebut memperingatkan bahwa situasi ini dapat segera menyebabkan Angkatan Darat "kehilangan kemampuannya untuk berfungsi sepenuhnya."
Dia menyalahkan para kepala staf secara berturut-turut atas "keputusan yang buruk" dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pemangkasan personel yang besar dan masa tugas yang lebih pendek—tiga tahun untuk pria dan dua tahun untuk wanita—yang menurutnya menciptakan "kesenjangan besar yang tidak dapat segera diperbaiki."
"Kesenjangan ini mendorong para profesional berpengalaman keluar dari dinas, sementara personel yang tidak siap dalam peran-peran sensitif tidak mampu menghadapi tantangan medan perang saat ini," ujarnya, seperti dikutip dari TRT World, Senin (1/12/2025).
Brik mengatakan divisi sumber daya manusia Angkatan Darat telah beroperasi "tanpa profesionalisme atau tanggung jawab" selama bertahun-tahun dan mengabaikan masalah-masalah inti dalam mengelola sumber daya manusia dan menilai kebutuhannya.
"Militer menderita kebutaan informasi karena sistem yang ketinggalan zaman dan basis data yang terfragmentasi," imbuh dia.
Brik memperingatkan bahwa krisis sumber daya manusia dapat berkembang menjadi "kelumpuhan total" bagi Angkatan Darat Israel.
Militer Zionis Israel telah membunuh lebih dari 70.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dalam pembantaian di Gaza sejak Oktober 2023.
Militer Israel juga telah menghancurkan sebagian besar wilayah kantong Palestina tersebut hingga menjadi reruntuhan dan menggusur hampir seluruh penduduknya.
Dalam sebuah artikel opini di harian Maariv, Brik mengatakan ribuan perwira dan bintara telah menghindari tugas militer dalam beberapa bulan terakhir, baik dengan menolak panggilan militer maupun menolak memperbarui kontrak mereka.
Selama dua tahun perang genosida Israel di Gaza, militer kehilangan 923 tentara dan 6.399 lainnya luka-luka, sementara sekitar 20.000 tentara menderita stres pascatrauma, menurut media Israel tersebut yang mengutip data militer.
Baca Juga: Ribuan Warga Israel Antre Minta Kewarganegaraan Portugal, Apa Sebabnya?
Di bawah sensor militer Zionis Israel yang ketat, militer menghadapi tuduhan menyembunyikan kerugian yang lebih besar demi menjaga moral.
Brik menulis bahwa banyak perwira menginginkan pemecatan segera dan rekrutan yang lebih muda menolak menandatangani kontrak jangka panjang, yang menyebabkan kekurangan staf yang luas di seluruh militer.
Menurutnya, penurunan tajam jumlah personel kini menghambat pemeliharaan peralatan dan pengoperasian sistem tempur.
Angkatan Darat Israel Bisa Lumpuh Total
Analis militer tersebut memperingatkan bahwa situasi ini dapat segera menyebabkan Angkatan Darat "kehilangan kemampuannya untuk berfungsi sepenuhnya."
Dia menyalahkan para kepala staf secara berturut-turut atas "keputusan yang buruk" dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pemangkasan personel yang besar dan masa tugas yang lebih pendek—tiga tahun untuk pria dan dua tahun untuk wanita—yang menurutnya menciptakan "kesenjangan besar yang tidak dapat segera diperbaiki."
"Kesenjangan ini mendorong para profesional berpengalaman keluar dari dinas, sementara personel yang tidak siap dalam peran-peran sensitif tidak mampu menghadapi tantangan medan perang saat ini," ujarnya, seperti dikutip dari TRT World, Senin (1/12/2025).
Brik mengatakan divisi sumber daya manusia Angkatan Darat telah beroperasi "tanpa profesionalisme atau tanggung jawab" selama bertahun-tahun dan mengabaikan masalah-masalah inti dalam mengelola sumber daya manusia dan menilai kebutuhannya.
"Militer menderita kebutaan informasi karena sistem yang ketinggalan zaman dan basis data yang terfragmentasi," imbuh dia.
Brik memperingatkan bahwa krisis sumber daya manusia dapat berkembang menjadi "kelumpuhan total" bagi Angkatan Darat Israel.
Militer Zionis Israel telah membunuh lebih dari 70.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dalam pembantaian di Gaza sejak Oktober 2023.
Militer Israel juga telah menghancurkan sebagian besar wilayah kantong Palestina tersebut hingga menjadi reruntuhan dan menggusur hampir seluruh penduduknya.
(mas)
Lihat Juga :