Kebakaran Lahap Paviliun Perundingan Iklim PBB di Brasil, Para Delegasi Panik Berlarian
Jum'at, 21 November 2025 - 10:13 WIB
loading...
A
A
A
“Ini tentu akan menunda prosesnya karena ini adalah waktu yang krusial, ini adalah waktu di mana kita harus memutuskan proses yang dimulai minggu lalu,” ujar Windyo Laksono, anggota delegasi Indonesia, kepada AFP.
“Beberapa dari kami masih bernegosiasi di dalam ruangan, tetapi karena kebakaran, saya rasa prosesnya akan terhenti untuk sementara waktu,” ujarnya.
Kimberly Humphrey, seorang spesialis kedokteran darurat yang menghadiri COP30 bersama Doctors for the Environment Australia, sedang bekerja di sebuah ruangan ketika dia menerima pesan tentang kebakaran.
Humphrey meninggalkan lokasi dan menjadi sukarelawan di sebuah pusat medis di mana beberapa orang dirawat karena menghirup asap dan yang lainnya mengalami tekanan emosional.
"Ini bukan seperti yang Anda harapkan terjadi ketika Anda berada di sebuah konferensi," ujarnya kepada AFP.
"Awalnya, ada rasa tidak percaya. Hal pertama yang saya pikirkan adalah, 'Oh, ini tidak nyata'," katanya.
"Ini benar-benar kombinasi antara teror dan tidak memiliki rencana darurat yang baik, tidak tahu di mana pintu keluarnya, tetapi juga apa yang perlu saya lakukan sebagai dokter dan kebutuhan untuk membantu orang lain juga," imbuh dia.
Dua perempuan yang bekerja di paviliun milik sebuah organisasi internasional mengatakan kepada AFP bahwa fasilitas tersebut telah dipasangi kabel listrik darurat.
Ada kabel-kabel yang terekspos dan air menetes dari atap ke panel listrik mereka, kata mereka yang tidak mau disebutkan namanya, seraya menambahkan bahwa mereka telah melaporkan masalah tersebut tetapi tidak ada hasil.
“Beberapa dari kami masih bernegosiasi di dalam ruangan, tetapi karena kebakaran, saya rasa prosesnya akan terhenti untuk sementara waktu,” ujarnya.
Kimberly Humphrey, seorang spesialis kedokteran darurat yang menghadiri COP30 bersama Doctors for the Environment Australia, sedang bekerja di sebuah ruangan ketika dia menerima pesan tentang kebakaran.
Humphrey meninggalkan lokasi dan menjadi sukarelawan di sebuah pusat medis di mana beberapa orang dirawat karena menghirup asap dan yang lainnya mengalami tekanan emosional.
"Ini bukan seperti yang Anda harapkan terjadi ketika Anda berada di sebuah konferensi," ujarnya kepada AFP.
"Awalnya, ada rasa tidak percaya. Hal pertama yang saya pikirkan adalah, 'Oh, ini tidak nyata'," katanya.
"Ini benar-benar kombinasi antara teror dan tidak memiliki rencana darurat yang baik, tidak tahu di mana pintu keluarnya, tetapi juga apa yang perlu saya lakukan sebagai dokter dan kebutuhan untuk membantu orang lain juga," imbuh dia.
Dua perempuan yang bekerja di paviliun milik sebuah organisasi internasional mengatakan kepada AFP bahwa fasilitas tersebut telah dipasangi kabel listrik darurat.
Ada kabel-kabel yang terekspos dan air menetes dari atap ke panel listrik mereka, kata mereka yang tidak mau disebutkan namanya, seraya menambahkan bahwa mereka telah melaporkan masalah tersebut tetapi tidak ada hasil.
Lihat Juga :