Warga Palestina Menderita Kelaparan di Gaza Meskipun Ada Gencatan Senjata

Rabu, 05 November 2025 - 06:58 WIB
loading...
Warga Palestina Menderita...
Warga Gaza masih menghadapi kelaparan meski ada gencatan senjata. Foto/aljazeera
A A A
GAZA - Badan-badan bantuan sedang “berpacu dengan waktu” untuk mengirimkan makanan dan pasokan kemanusiaan lainnya ke Jalur Gaza. Seorang pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan hal itu karena pembatasan yang diberlakukan Israel terus menghambat pengiriman di wilayah kantong yang dibombardir tersebut.

Berbicara dalam jumpa pers pada hari Selasa (4/11/2025), seorang juru bicara senior Program Pangan Dunia (WFP) PBB mencatat pengiriman bantuan telah meningkat sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas berlaku bulan lalu.

Namun, hanya dua penyeberangan ke Gaza yang dibuka, yang “sangat membatasi jumlah bantuan” yang dapat didatangkan oleh WFP dan badan-badan lainnya, menurut Abeer Etefa.

“Kami membutuhkan akses penuh. Kami membutuhkan segalanya bergerak cepat. Kami sedang berpacu dengan waktu. Musim dingin akan segera tiba. Orang-orang masih menderita kelaparan, dan kebutuhannya sangat mendesak,” ujarnya.

WFP, yang saat ini mengoperasikan 44 titik distribusi makanan di seluruh Gaza, mengatakan telah menyediakan paket makanan kepada lebih dari satu juta warga Palestina di wilayah tersebut sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober.

Namun, Etefa mengatakan jumlah makanan yang masuk ke Gaza masih belum mencukupi, dan belum mencapai Gaza utara, tempat pemantau kelaparan terkemuka dunia mengonfirmasi kondisi kelaparan pada bulan Agustus, masih menjadi tantangan.

“Kendala utama adalah penutupan terus-menerus penyeberangan utara ke Jalur Gaza. Konvoi bantuan terpaksa mengikuti rute yang lambat dan sulit dari selatan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, “Untuk pengiriman dalam skala besar, WFP membutuhkan semua penyeberangan dibuka, terutama yang berada di utara. Akses penuh ke jalan-jalan utama di Gaza juga penting agar makanan dapat diangkut dengan cepat dan efisien ke tempat yang membutuhkan.”

Ribuan warga Palestina telah kembali ke rumah mereka di utara Gaza dalam beberapa pekan terakhir karena tentara Israel mundur ke apa yang disebut “garis kuning” sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata.

Namun, sebagian besar mendapati rumah dan lingkungan mereka hancur total akibat pemboman Israel selama dua tahun.

Banyak keluarga masih mengungsi dan terpaksa tinggal di tenda-tenda dan tempat penampungan darurat lainnya.

Khalid al-Dahdouh, seorang ayah Palestina dengan lima anak, kembali ke Kota Gaza dan mendapati rumahnya hancur.

Sejak itu, ia membangun tempat penampungan kecil untuk keluarganya, menggunakan batu bata yang diambil dari reruntuhan dan disatukan dengan lumpur.

“Kami mencoba membangun kembali karena musim dingin akan datang,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Dia menjelaskan, “Kami tidak punya tenda atau apa pun, jadi kami membangun struktur primitif dari lumpur karena tidak ada semen … Itu melindungi kami dari dingin, serangga, dan hujan – tidak seperti tenda.”

PBB dan badan-badan bantuan lainnya telah mendesak Israel mengizinkan lebih banyak pasokan masuk ke Jalur Gaza, sebagaimana diuraikan dalam perjanjian gencatan senjata, terutama karena warga Palestina akan menghadapi kondisi yang keras selama bulan-bulan musim dingin yang lebih dingin.

Pada hari Sabtu, Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa 3.203 truk komersial dan bantuan membawa pasokan ke Gaza antara 10 dan 31 Oktober, dengan rata-rata 145 truk bantuan per hari, atau hanya 24% dari 600 truk yang direncanakan masuk setiap hari sebagai bagian dari kesepakatan tersebut.

Sementara itu, militer Israel terus melancarkan serangan ke Gaza, serta menghancurkan rumah dan bangunan lainnya.

Satu orang tewas dan satu lainnya luka-luka pada hari Selasa setelah satu quadcopter Israel melepaskan tembakan di lingkungan Tuffah di timur Kota Gaza.

Sumber di Rumah Sakit Al-Ahli Arab juga mengatakan kepada Al Jazeera bahwa seseorang tewas akibat tembakan tentara Israel di Jabalia, Gaza utara.

Sebanyak 240 warga Palestina telah tewas dan 607 lainnya luka-luka dalam serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Para pemimpin Israel menolak kritik atas serangan-serangan tersebut dan pembatasan bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan, menuduh Hamas melanggar kesepakatan dengan tidak melepaskan semua jenazah tawanan Israel yang meninggal dari wilayah tersebut.

Pada hari Selasa, Israel mengatakan telah menerima jenazah seorang tawanan Israel setelah Hamas menyerahkannya kepada Komite Palang Merah Internasional.

Baca juga: Hamas Kecam RUU Israel untuk Eksekusi Tahanan Palestina sebagai Kejahatan Perang
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
India Tuntut Pertanggungjawaban...
India Tuntut Pertanggungjawaban atas Para Pelaku Pemboman Sekolah
Israel Melarang Seruan...
Israel Melarang Seruan Azan di Masjid Ibrahimi Hebron, Sudah Hari Kelima
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
PBB Ungkap Israel Bunuh...
PBB Ungkap Israel Bunuh Lebih dari 20.000 Anak Palestina
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
Kemlu Pastikan 3 WNI...
Kemlu Pastikan 3 WNI di Venezuela Aman Pascagempa Dahsyat M7,1
Ngeri! Suhu Paris Lebih...
Ngeri! Suhu Paris Lebih Panas daripada Makkah
Rekomendasi
Demokrasi Belum Utuh...
Demokrasi Belum Utuh Jika Perempuan Masih Minim Keterwakilan
Purbaya soal Anggaran...
Purbaya soal Anggaran MBG: Saya Maunya Nol, Tapi Nggak Bisa Kan
Hajar Makau, Indonesia...
Hajar Makau, Indonesia Amankan Tiket Perempat Final Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2026
Berita Terkini
Jet Tempur China dan...
Jet Tempur China dan Rusia Kompak Masuk ke Zona Pertahanan Udara Korsel
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur Bahrain
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved